Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 18


__ADS_3

Aslan memperdalam ciumannya, bahkan baju terusan sang istri sudah tertanggal sempurna.


Tanpa melepaskan tautan, Aslan mendorong tubuh sang istri hingga terbaring diatas ranjang.


Saat hendak melepas penutup terakhir di dada sang istri, tiba-tiba Kiran menahan tangan itu. Ada satu yang masih mengganggu pikirannya.


"Siapa aku bagimu?" tanya Kiran dengan napas yang terengah, pertanyaan yang sama seperti yang Aslan tanyakan tadi.


Diatas tubuh Kiran, Aslan tersenyum, lalu mengecup bibir basah itu sekilas.


"Istriku," jawabnya yakin.


"Saat seperti ini apa kamu membayangkan aku sebagai Maya?" tanya Kiran yang amat sangat penasaran.


Lagi-lagi, sebelum menjawab, Aslan kembali mengecup bibir sang istri, bahkan menggigitnya pelan.


"Awalnya ia ...," jawabnya jujur. Raut wajah Kiran muram seketika, meski diantara mereka belum ada cinta namun rasanya tetap saja mengecewakan.


"Tapi sekarang tidak Ran, kamu adalah Kiran."


"Bohong," jawab Kiran cepat.


"Kamu tidak percaya?"


Kiran menggeleng banyak-banyak.


"Kalau begitu aku akan selalu menyebut namamu."


Setelah mengatakan itu Aslan kembali mengikis jarak. Menciumi seluruh wajah sang istri dan menyesap tiap inci tubuhnya.


Dan benar saja, tiap pergerakan yang dilakukan Aslan, ia selalu menyebut nama Kiran.


Akhirnya kiran pasrah, ia benar-benar ihklas menyerahkan semuanya. Bahkan ia berulang kali mendesah mengisyaratkan bahwa iapun menginginkan hal yany sama, penyatuan.


Dan entah dimenit keberapa keduanya benar-benar menyatu. Kiran meringis, kala merasakan benda aneh masuk ke dalam tubuhnya.


"Sakit?" tanya Aslan dan Kiran mengangguk.


Sebenarnya tanpa ditanya pun ia tahu jika sang istri kini sedang kesakitan. Pasalnya iapun merasa terhimpit dengan begitu sesak.


Aslan kembali menciumi bibir sang istri dan tak membuat pergerakan yang menyakitkan. Tangannya pun tak tinggal diam, menjamah semua bagian.


Hingga terdengar desahan Kiran, barulah ia mulai bergerak.


Bergerak seirama menciptakan suara indah yang memenuhi seisi ruangan kamar ini.


Keduanya menyatu hingga benih-benih itu bertemu.

__ADS_1


Masih belum memisahkan diri, Aslan nenatap wajah sang istri yang penuh dengan peluh, bahkan peluhnya sendiripun jatuh tepat didada sang istri.


Keduanya saling tatap dengan bibir yang sama-sama tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


6 hari kemudian.


Akhirnya hari ini Kiran akan ikut pindah ke rumah Aslan, kini kemanapun suaminya itu mengajaknya pergi ia akan selalu ikuti.


Fahmi, Tika, dan kedua anaknya ikut mengantar kepergian Kiran itu. Mereka berjalan kaki bersama-sama menuju rumah Aslan.


Disana, mereka disambut dengan antusias dan penuh kekeluargaan.


Satu yang membuat Maya tercenung, senyum Kiran yang terlihat berbeda.


Bahkan Kiran memeluknya erat, penuh kehangatan. Berbeda sekali saat terkahir mereka bertemu, bahkan dengan jelas Kiran mengatakan bahwa ia tak mau menganggap Maya ada.


Semuanya duduk di ruang tamu, Fahmi menyerahkan sang adik tercinta pada keluarga suaminya.


"Pakde Iwan, hari ini saya menyerahkan Kiran pada keluarga ini. Adik saya bukanlah wanita yang sempurna, dia bahkan tidak bisa memasak dengan benar. Jadi saya mohon, maafkanlah jika nanti masakannya terlalu asin atau bahkan hambar tak ada rasa ..." jelas Fahmi dan semua orang malah terkekeh mendengarnya.


Iwan mengangguk, kata-kata Fahmi adalah perumpamaan, bahwa tiap orang pastilah memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan kita sebagai sesama manusia harus saling melengkapi dan bukannya malah saling menyalahkan.


"Ran, meski rumah kakakmu dekat, tapi jangan pernah sekalipun kamu pulang jika tanpa restu suamimu." jelas Fahmi lagi dan suasana kembali jadi serius.


Kini ia bukan wanita bebas lagi, sudah menjadi istri dan memiliki tanggung jawab tersendiri.


Tak berapa lama, setelah menyerahkan sang adik, Fahmi beserta keluarganya menyempatkan untuk makan siang bersama di keluarga Aslan.


Saat itu juga, Maya mengantarkan Kiran menuju kamar yang akan ditempati madunya itu.


Kamar yang berada tak jauh dari kamarnya, sama-sama dilantai 2 dan hanya terhalang ruang kerja sang suami.


"Mbak, ini kamar mbak Kiran. Baju-baju mas Aslan juga sebagian sudah ku pindahkan disini." jelas Maya, kini kedua wanita itu sudah masuk ke dalam kamar.


Maya meletakkan 1 koper Kiran yang ia bantu bawa di sisi ranjang.


"Terima kasih ya May," jawab Kiran tulus. Ia pun meletakkan koper yang ia bawa disisi ranjang pula.


Diperhatikannya seisi kamar ini, kamar yang lebih besar dari kamar di rumah sang kakak. Bahkan ada sofa pula di dalam kamar ini.


Kamar dengan cat dinding putih bersih dan sebagiannya dilengkapi wallpaper dinding bercorak emas.


"Mbak suka tidak kamarnya?" tanya Maya memulai obrolan.


Kiran mengangguk seraya menjawab "Suka." Dengan bibir yang terus tersenyum lebar.

__ADS_1


Maya benar-benar merasa tak nyaman melihat senyum itu.


Dimana Kiran yang pemarah? dimana Kiran yang selalu berkata kasar?


"May, aku ingin meminta maaf padamu. Kemarin-kemarin aku sudah bersikap kasar. Padahal aku tau, diantara kita bertiga mungkin kamu adalah yang paling menderita." ucap Kiran sungguh-sungguh, sudah dari kemarin ia ingin mengatakan kata maaf ini dan untunglah kini tersampaikan.


Maya terdiam, namun sejurus kemudian ia merasa sesak dibagian dadanya.


Mendapati rasa kasihan dari Kiran justru membuatnya terhina.


"Kamu benar May, harusnya pun kita saling menerima agar pernikahan ini berjalan dengan baik. Antara kamu dan mas Aslan, antara aku dan mas Aslan dan antara aku dan kamu," jelas Kiran lagi.


Ia mendekat dan mengulurkan tangan kanannya.


"Maafkan aku ya?" ucapnya tulus.


Maya tersentak, seolah ada batu besar yang menimpa kepalanya.


Bukan seperti ini, bukan. Teriaknya dalam hati.


Ia ingin Kiran memusuhinya, ia ingin Kiran selalu bersikap kasar padanya. Bahkan ia berharap Kiran akan menyakiti dirinya. Hingga saat nanti ia mengandung pun sang suami tidak akan pernah berpaling.


"May, kamu tidak ingin memaafkan aku?" tanya Kiran lagi karena Maya hanya terdiam.


"Ma-maafkan aku Mbak, aku hanya terkejut." jawab Maya canggung.


Ia lalu menyambut uluran tangan Kiran, dengan senyum yang dipaksakan.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, kedua wanita ini langsung menoleh dengan bersamaan.


"Umi." sapa Maya yang mencoba kembali ceria.


Dengan tersenyum, Yuli menghampiri kedua menantuanya itu.


"Umi bahagia sekali melihat kalian rukun seperti ini." jelas Yuli, tak sengaja ia tadi sempat mendengar pembicaraan keduanya.


"Ran, sekarang kamu akan tinggal disini, sekarang kita adalah keluarga, Umi bukan hanya mertua tapi juga ibumu." jelas Yuli sungguh-sungguh, sesuatu yang sama persis ia katakan saat pertama kali Maya datang ke rumah ini.


Kiran haru, ia lalu memeluk Yuli tanpa ragu.


Aura keibuan Yuli tak bisa dipungkiri, dan ia sangat nyaman akan hal itu.


Dipeluk Kiran, Yuli lalu memberi isyarat Maya untuk mendekat.


Dan akhirnya dipeluknyalah kedua menantunya ini sekaligus.

__ADS_1


__ADS_2