Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 136 - Perbincangan Antara Pria


__ADS_3

Berjalan beriringan, Kiran dan Aslan menyusuri


koridor rumah sakit. Aslan bahkan dengan siaga, menjaga anak dan istrinya agar


tidak tertabrak oleh para pengunjung yang lain.


Kiran tersenyum, kala mendapatkan perhatian manis dari suaminya itu. Dari dulu hingga saat ini Aslan tidak pernah berubah barang sedikitpun. Aslan malah semakin sering menunjukkan rasa cintanya.


Tak peduli, meski keganasan Kiran semakin bertambah.


Dengan perlahan, Kiran menggenggam salah satu tangan sang suami, lalu menautkan jemari mereka dan terus berjalan.


Dan beberapa saat kemudian, akhirnya sepasang suami istri ini sampai juga di ruang rawat Widya, Agung menyambut antusias kedua sahabatnya itu, dan makin antusias lagi saat melihat baby Alana ikut juga bersama Aslan dan Kiran.


Agung bahkan dengan cepat mengambil baby Alana di gendongan Kiran, lalu membawanya mendekati box bayi baby Altar.


“Anak ganteng ayah, coba lihat siapa yang datang, baby Alana sayang,” ucap Agung, memperkenalkan kedua bayi ini.


Seolah ini adalah pertemuan pertama baby Alana dan Baby Altar yang tidak akan dilupakan oleh kedua bayi itu.


Melihat tingkah Agung, Aslan hanya mampu tersenyum, sementara Kiran dan Widya geleng-geleng kepala.


Aslan dan Kiran lalu memberi ucapan selamat kepada Widya atas kelahiran anak pertamanya.


Kiran bahkan membawakan beberapa makanan yang dimasakkan oleh umi Yuli. Widya, begitu antusias untuk makan makanan itu. Dan Kiran menyiapkannya dengan telaten, menyajikannya di piring nasi yang juga ia bawa, lalu duduk di kursi sebelah ranjang dan mulai menemani Widya makan.


“Bagaimana Mbak rasanya melahirkan?” tanya Kiran menggoda.


“Haduh, masya Allah, rasanya itu luar biasa sekali,” jawab Widya dengan membayangkan kejadian beberapa jam lalu, ia lalu mengedikkan


bahu, bergidik ngeri.


Dan Kiran, langsung terkekeh.


Kiran dan Widya terus membicarakan tentang proses persalinan itu. Sesama wanita memang akan saling mengerti jika membicarakan perihal


ini.


Keduanya asik sendiri sementara para suami menjaga anak mereka masing-masing. Aslan menggendong Alana dan Agung memperhatikan Altar yang tengah tertidur.


Hingga tak beberapa lama kemudian, Alfath dan Dinda datang. Hanya datang berdua dan Akbar ditinggal di rumah.

__ADS_1


Dinda pun kini kehamilannya sudah memasuki usia 7 bulan, 2 bulan lagi, ia akan segera melahirkan.


Para wanita duduk disisi ranjang dan para pria duduk di sofa ruangan itu, asik dengan obrolan versi mereka masing-masing.


“Aku rasanya tidak sanggup kalau harus melihat


istriku melahirkan lagi,” ucap Agung dengan wajah memelas, ia menoleh sekilas ke arah sang istri, melihat Widya yang tengah tertawa riang bersama teman-temannya.


“Jangan bilang begitu Mas, kalau Allah kembali


memberi Mas kepercayaan untuk memiliki anak bagaimana?” jawab Aslan sekaligus bertanya.


Dan Agung hanya bergeming, sedari sang istri melahirkan tadi, Agung sudah membulatkan tekad untuk memakai KB. Namun bicara dengan Aslan, malah membuatnya kembali ragu. Karena Aslan setiap kali bicara selalu bawa-bawa nama Tuhan, ia jadi lemah jika sudah seperti itu.


“Dulu aku juga seperti itu sih Mas, tapi dengan


berjalannya waktu, pasti trauma melihat istri melahirkan itu akan hilang dengan sendirinya,” timpal Aslan setelah mengingat masa lalu.


Dulu pun ia merasakan apa yang dirasakan Agung saat ini. Merasa tak tega melihat sang istri yang kesakitan. Namun dengan berjalannya waktu, trauma itupun menghilang dengan sendirinya.


Bahkan ia dan Kiran masih semangat untuk membuat anak, hingga jadilah baby Alana.


“Iya Gung, bisa jadi, nanti malah Widya duluan yang minta untuk kembali memiliki anak,” tambah Alfath pula.


"Masa iya malah Widya yang minta, kan dia yang ngerasain sakit," sanggah Agung lagi.


Aslan dan Alfath hanya terkekeh, lalu meminta Agung untuk menunggu dan membiarkan waktu yang menjawab semuanya.


Saat jam setengah 9 malam, Aslan Kiran dan Alfath Dinda pamit untuk pulang.


Saat itu di sana tak hanya ada Agung dan Widya, bude Asni juga ikut menginap di rumah sakit.


Selesai berpamitan, kedua pasang suami istri ini bejalan beriringan menuju area parkiran rumah sakit.


Kiran dan Dinda berjalan didepan sementara Aslan dan Alfath mengekor dibelakang.


Sesekali Kiran dan Dinda tertawa kala membicarakan sesuatu yang lucu. Tawa yang membuat kedua suami dibelakang itupun ikut tersenyum pula.


Alfath, kini sudah benar-benar mencintai Dinda. Dan dia menganggap Kiran sebagai sahabatnya.


"Terima kasih ya Lan," ucap Alfath, hingga membuat Aslan menoleh, menatap Alfath.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa?" tanya Aslan bingung, padahal ia tidak pernah memberi apapun namun tiba-tiba Alfath mengucapkan kata terima kasih.


Sebelum menjawab Alfath tersenyum sekilas.


"Terima kasih, karena kamu tidak melarang Kiran untuk berhubungan dengan Dinda dan juga denganku," jawab Alfath apa adanya, perihal itulah ia ingin mengucapkan kalimat terima kasih kepada Aslan.


Andaikan Aslan melarang Kiran, hubungan diantara mereka tidak akan jadi sedekat ini. Mereka, kini sudah seperti keluarga. Berbagi kebahagiaan juga kesedihan.


Bahkan saling mendukung satu sama lain.


Aslan tersenyum, kembali menoleh sekilas pada Alfath disela-sela jalan mereka menuju parkiran rumah sakit.


"Kalau begitu aku harus berterima kasih juga," jawan Aslan kemudian, hingga membuat Alfath mengeryit bingung.


Merasa ia tak melakukan apapun hingga bisa diberi terima kasih. Alfat sadar, disini dialah yang paling banyak salah.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Alfath pula, bingung.


"Terima kasih, karena kamu sudah ikhlas. Lalu menjadikan Dinda istrimu yang sesungguhnya, istri yang sangat kamu cintai. Melihat itu, aku merasa lega," jujur Aslan, beberapa bulan lalu iapun masih merasa tak nyaman dengan Alfath.


Ia pun masih merasa tak suka, jika Kiran masih berhubungan dengan Alfath.


Namun setelah mengetahui jika Alfath benar-benar sudah berubah dan tidak mencintai istrinya lagi, Aslan pun bersyukur.


Dengan begini, ia tak memiliki kecemasan apapun.


Apalagi setelah mendengar Dinda pun kembali hamil, mungkin Aslan adalah orang kedua yang paling bahagia mendengar kabar itu setelah Alfath.


Mendengar jawaban Aslan, Alfath tersenyum. Ia malam membodohi dirinya sendiri di dalam hati.


"Sepertinya sudah sejak lama aku mencintai Dinda, tapi karena kebodohan ku, aku baru menyadarinya sekarang," jelas Alfath, seraya menghela napas berat. Karena berkat kebodohannya itu, ia nyaris juga kehilangan Dinda.


Kedua pria ini terus saling berbincang, hingga tak sadar mereka sudah berada di area parkiran rumah sakit.


"Mas mau pulang tidak? ngobrol terus," sindir Dinda, ia dan Kiran sampai harus kembali kebelakang untuk menegur suaminya masing-masing.


Aslan dan Alfath, berhenti disebelah mobil orang lain, menyelesaikan obrolannya.


"Astagfirulllah, maaf sayang, ayo kita pulang," ajak Alfath kemudian, dengan wajahnya yang mendadak takut, takut istrinya karah.


Dan setelah Dinda dan Alfath pergi, kini giliran Kiran yang menatap tajam suaminya.

__ADS_1


"Maaf sayang, jangan marah, aku tidak mau malam ini gagal," rayu Aslan, dan membuat Kiran mencebik.


Lalu segera bergegas untuk pulang.


__ADS_2