Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 49


__ADS_3

Tiap malam, aku merindukanmu sampai terbawa mimpi. Berharap saat bangun, aku dapat memeluknya dengan nyata.


-Aslan-


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aslan," jawab Agung dengan perasaan yang begitu gugup.


"Ada perlu apa Mas Agung kesini?" tanya Aslan setelah ia berdiri tepat di hadapan Agung. Yang ditanya hanya terdiam, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo Mas masuk dulu," ajak Aslan tapi Agung tetap bergeming.


"Lebih baik kita bicara ditempat lain," jawab Agung akhirnya, meski sedikit bingung dan heran, Aslan menuruti ucapan Agung itu.


Akhirnya mereka pergi, menggunakan mobilnya sendiri-sendiri dengan Agung yang memimpin jalan.


Dan disinilah kini kedua pria ini berada, cafe kecil di pinggir jalan tak jauh dari rumah kedua orang tua Aslan.


"Aku akan mengatakan padamu dimana Kiran," jelas Agung setelah mereka duduk dengan sempurna, bahkan kopi pesanan mereka pun sudah tersaji rapi diatas meja.


Setelah mengetahui semua kebenarannya, Agung merasa tak perlu lagi menyembunyikan keberadaan Kiran. Malah Aslan harus segara tahu.


Mendengar itu, Aslan tercenung, antara percaya dan tidak percaya mimpinya seolah akan menjadi nyata.


Mimpi bertemu sang istri.


"Tapi sebelum itu, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya pada mas Fahmi. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara kalian," timpal Agung, namun dengan cepat Aslan menggeleng.


"Aku sudah tidak bisa menunggu Mas, aku mohon, beritahu aku dimana Kiran. Masalah mas Fahmi biar aku yang hadapi," mohon Aslan dengan suara yang tegas dan tergesa.


Mendengar itu, Agung pun setuju.


Rasanya memang lebih tepat, jika Aslan sendirilah yang menjelaskannya.


"Kiran ada di Malaysia," terang Agung dan membuat Aslan terbelelak.


Malaysia? ulangnya di dalam hati.


"Jadi mas Agung ke Malaysia kemarin untuk menemui Kiran?" tanya Aslan dengan mata yang mulai berembun.


"Iya, darimana kamu tahu?" jawab Agung heran lalu kembali bertanya.


Ditanya itu, Aslan hanya tersenyum kecil.


"Maaf Mas, selama ini aku selalu mengikuti mas Agung," jujur Aslan, dan Agung malah menyeringai.


"Harusnya kamu ikuti aku terus sampai ke Malaysia, harusnya kamu juga selalu menghubungi nomor baru itu. Nomor yang kamu telepon kemarin dan aku yang menjawab, itu adalah nomor Kiran," jelas Agung dengan terkekeh kecil.


Sebenarnya Allah sudah berulang kali menunjukkan jalan, namun Aslan selalu melewatinya.


"Benarkah?" tanya Aslan yang matanya sudah mulai berkaca-kaca, tidak menyangka, jika ternyata Kiran sedekat ini.


Agung mengangguk, lalu memberikan kertas kecil berisi alamat apartemen Kiran di Malaysia sana.

__ADS_1


"Temui Kiran seminggu lagi, saat itu_"


"Maaf Mas, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," potong Aslan cepat, diraihnya kertas kecil itu, dan dibaca dengan seksama.


Tanpa mengulur waktu, setelah mengucapkan terima kasih, Aslan langsung berlari keluar, berlari menemui poros hidupnya.


"Kenapa rasanya, wajah Aslan tidak asing ya?" gumam Agung setelah melihat Aslan menghilang dari pandangannya.


"Rasanya, wajah-wajah cemas seperti itu sangat familiar," gumamnya lagi sambil mengingat-ngingat.


Brus!


Kopinya yang baru ia minum langsung tersembur dengan keras, saat ingatannya kembali dengan sempurna.


"Aslan? jangan-jangan dia, ya Allah, Aslan," ucap Agung terheran-heran.


Kini ia ingat, jika Aslan adalah adik kelasnya dulu. Adik kelas cupu yang selalu menjadi bulan-bulannanya.


Mengingat itu, Agung merinding.


"Ternyata dunia sesempit ini, semoga dengan aku membantunya kali ini bisa menghapus semua dosaku di masa lalu, hii ngeri," ucap Agung lalu bergidik ngeri, seolah Allah memang sudah merencanakan pertemuan ini untuk mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malaysia.


Malam ini, Fahmi mengajak Tika dan kedua anaknya untuk mengikuti acara makan malam kantor. Kiran menolak untuk ikut, selain tidak ingin meropatkan, ia juga merasa malu.


Merasa tak pantas berada di tengah keramaian.


Sebagain lampunya sengaja ia matikan, entahlah, jika sedang sendiri seperti ini ia begitu suka kegelapan. Seolah dengan gelap, ia tak bisa melihat kekurangannya, menutupi rasa sakitnya.


Duduk di ruang tengah, Kiran menyalakan televisi.


Saat hendak menambah volume TV itu, bell apartemennya berbunyi.


Sejenak, ia berpikir.


"Apa ada yang tertinggal?" gumamnya pelan, pasalnya belum lama Fahmi dan Tika pergi.


Bell apartemen kembali berbunyi, dengan buru-buru ia menggapai pintu itu.


Klik!


Pintu terbuka, dan dilihatnya seorang pria yang menatap lekat kearah netranya.


Seolah dunia berhenti berputar, keduanya saling tatap tanpa ada kata.


Aslan, berdiri disana.


"Ran," panggilnya lirih.


Seolah gamang, Kiran hanya bisa membalas tatapan itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

__ADS_1


Cukup lama keduanya hanya terdiam, menelisik keadaan satu sama lain. Dari atas sampai bawah, Aslan nampak lebih kurus dan Kiran pun terlihat pucat.


"Untuk apa kesini?" tanya Kiran dengan suara yang bergetar, ia memberanikan diri, untuk buka suara.


Suara yang begitu dirindukan oleh Aslan. Suara yang tiap malam selalu terngiang ditelinganya.


"Untuk menjemput istriku," jawabnya tanpa memutus tatapan.


Mendengar itu, Kiran tercenung.


"Istri?" ulangnya lagi dengan lirih, namun Aslan masih mampu mendengar.


Perlahan, Aslan mendekati Kiran, diambang pintu itu ia berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan sang istri.


Untunglah, tadi Agung sudah menceritakan semuanya. Tentang Kiran yang sudah mengira jika dia sudah diceraikan. Semua itu karena Fahmi yang berbohong.


"Apa aku pernah menalakmu?" tanya Aslan dengan mata yang berembun, ia begitu iba melihat keadaan sang istri saat ini. Andaikan waktu bisa diulang, ia akan memberikan semuanya pada Kiran, cinta, kasih sayang, perhatian dan semuanya.


Hingga Kiran tidak pernah merasa kekurangan.


"Kenapa diam? aku tidak pernah menceraikan kamu. Aku tidak punya keberanian untuk melalukan itu Ran, karena apa? karena aku mencintai kamu," lirihnya lagi karena Kiran hanya terdiam.


Mendengar itu, akhirnya luruh juga air mata wanita ini.


Sejenak, ia menutup mata, membuang semua cairan bening yang menganak disana.


Namun saat matanya terbuka, sang suami kembali menutupnya dengan sebuah kecupan.


"Jangan menangis lagi, aku tidak mengizinkannya," ucap Aslan dengan deru napas yang menyapu hangat wajah dingin sang istri.


Seperti terhipnotis, Kiran tak bisa berkutik.


Menerima saat wajahnya dibelai lembut oleh sang suami, sentuhan yang begitu ia rindukan.


"Maafkan aku," ucap Aslan lirih, disentuhnya rahang sang istri yang makin ketara.


Pelan, Aslan mengecup bibir Kiran.


"Maafkan aku," ucapnya lagi penuh permohonan.


Rasa bersalah itu makin menyiksa hatinya, apalagi saat melihat wanita yang dicintainya begitu rapuh.


"Aku mohon Ran, maafkan aku, maaf untuk semua waktu yang sudah kamu lalui seorang diri ..."


"Beri aku kesempatan Ran, beri aku kesempatan untuk menebus semuanya ..."


"Aku mencintaimu," desisnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Kiran tersentuh. Seolah dingin yang ia rasakan selama ini hilang dalam sekejab saja.


Digantikan dengan perasaan yang begitu hangat.


Perlahan, Aslan mengikis jarak, menjangkau bibir sang istri dan menyesapnya dalam. Membenamkan keriduan yang selama ini menyelimuti hatinya.

__ADS_1


Pelan, Kiran membalas. Bergerak, menyentuh rahang sang suami yang sudah ditumbuhi bulu-bulu kasar.


Keduanya saling berpaut, seolah takut kehabisan waktu.


__ADS_2