Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 63


__ADS_3

Sekitar jam 10 pagi, Yuli datang mengunjungi Kiran. Ia membawa begitu banyak makanan yang disukai Kiran akhir-akhir ini.


Datang tak sendiri, Yuli ditemani sang suami saat itu. Iwan bisa ikut, karena hari ini ia tidak perlu ke toko bajunya. Iwan sudah menambah karyawan, jadi ia tak perlu repot lagi membantu disana.


"Dimana Kiran?" tanya Yuli saat pintu rumah itu dibuka oleh Desi.


"Ada di dalam Bu," jawab Desi apa adanya, di jam-jam seperti ini Kiran selalu menghabiskan waktu untuk menonton televisi, jika hanya diam dia akan mengantuk, jika kelamaan bermain ponsel matanya sakit.


Jadilah, Kiran menonton televisi ditemani oleh Desi.


"Itu siapa?" desis Yuli pada Desi saat melihat seorang wanita menggunakan hijab, duduk membelakangi arah datangnya.


Tak langsung menjawab, Desi malah lebih dulu tersenyum.


"Itu ibu Kiran Bu," jawab Desi kemudian. Iwan yang ikut mendengarpun sontak tak percaya.


Namun beberapa detik kemudian keduanya tersenyum penuh syukur. Bersyukur, karena setelah semua yang terjadi, banyak hal baik terjadi di keluarga ini.


"Ran," panggil Yuli yang mulai mendekat.


Dengar namanya di panggil oleh suara yang tidak asing, Kiran lalu bangkit dari duduknya dengan antusias, menyambut kedua orang mertua, umi dan abi.


"Umi," balas Kiran dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Masya Allah Nak, kamu cantik sekali," puji Yuli seraya mengelus kepala Kiran, turun sampai di pucuk hijab yang dikenakan.


Hijab panjang hingga menutupi dadanya.


"Masya Allah, Alhamdulilah, abi bangga padamu Ran. Kamu begitu pandai bersyukur. Hingga setelah semua yang terjadi, kamu masih bisa memetik hikmahnya," ucap Abi penuh syukur.


Mendegar itu, Kiran begitu tenang bercampur bahagia, kini ia memiliki hubungan yang begitu baik dengan kedua mertuanya.


"Umi membawakanmu rujak dan batagor, ayo kita makan," ucap Yuli memecah suasana Haru. Ia lalu menarik Kiran dan membawanya ke dapur.


Dengan tersenyum, Iwan dan Desi pun mengikuti langkah kedua wanita ini.


Semuanya berkumpul di meja makan, Yuli tadi memang membawa begitu banyak rujak buah dan batagor. Bahkan untuk Aslan pun nanti masih ada. Rujak buah dan sambelnya tidak di campur, juga batagor dan sambelnya dipisah.


"Hem, enak Umi," ucap Kiran dengan mata yang berbinar, dulu ia begitu tak suka membeli jajanan batagor seperti ini. Tapi kini rasanya ia begitu gemar.


"Pelan-pelan sayang, besok Umi minta bude Amaah untuk buatkan lagi," terang Yuli tak kalah antusias. Di perumahan sana memang Ammah juaranya dalam membuat batagor. Bagi Kiran batagor itu lebih spesial daripada somay. Kalau Somay hanya lembek, sedangkan batagor renyah diluar empuk di dalam.


Penilaian ibu hamil, hihi. Kiran tersenyum, menampakkan deretan giginya.


Drt drt drt


Ponsel Kiran di atas meja makan itu bergetar, dilihatnya ada panggilan masuk dari sang suami. Tak ingin suaminya menunggu lama, Kiran langsung menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum Mas," jawab Kiran dengan menggigit bibir bawahnya, ingin tersenyum lebar malu, ada ibu dan ayah mertua.


"Walaikumsalam sayang," jawab Aslan lembut, kata-kata sayang itu benar-benar membuai Kiran.


"Ada apa Mas?" tanya Kiran, ia mengangguk saat Yuli bertanya tanpa suara tentang siapa yang menelpon.


Aslan? tebak Yuli dan Kiran mengangguk.


"Maaf sayang, siang ini aku tidak bisa pulang, tapi nanti aku akan pulang lebih cepat," terang Aslan yang tak enak hati, tapi pagi ia sudah mengIyakan permintaan sang istri untuk makan siang di rumah.


Tapi bukan kuasanya, jika siang ini Aslan harus menemani makan siang salah satu petinggi di tempatnya berkerja. Beliau sedang berkunjung ke cabang Bank yang dipimpin oleh Aslan.


"Iya Mas, tidak apa-apa. Sekarang di rumah juga ada umi dan abi. Mas tidak perlu mencemaskan aku," terang Kiran dengan suara pelan, malu saja jika pembicaraannya dengan Aslan didengar oleh Yuli yang sedang duduk di sampingnya.


"Hem, jadi kamu sudah menemukan penggantiku?" tanya Aslan menggoda. Ia tersenyum, bersyukur ayah dan ibunya sudah sampai di rumah. Jadi ia tak begitu merasa bersalah.


Tak menjawab, Kiran hanya mengulum senyumnya.


"Aku mencintaimu Ran," ucap Aslan setelah cukup lama Hening mengambil alih.


Didengarkan kalimat seperti itu, Kiran benar-benar mati kutu. Sang suami memang sengaja menggodanya habis-habisan.


"Iya Mas, sampai ketemu di rumah, assalamualaikum," putus Kiran cepat.

__ADS_1


Dan diujung sana, Aslan terkekeh.


Sambungan telepon itu terputus, menyisahkan kedua pipi Kiran yang merah merona.


__ADS_2