
“Mas, kata ibu Wid aku hamil,” ucap Alana setelah ingatannya kembali. Tadi, sesaat ia hanya tercenung kala menatap beberapa testpack di dalam kantong plastik itu. Alana kembali teringat, tentang mimpinya sebelum ibu Widya meninggal.
Saat itu ibu Widya mengatakan tentang menitipkan Altar dan ayah Agung juga tentang Alana yang harus menjaga kandungannya.
“Apa maksud mu Al?” tanya Altar, memastikan. Bagiamana bisa ibunya mengatakan jika Alana hamil.
Sementara selama ini mereka belum memeriksanya secara langsung.
Dengan tersenyum, Alana langsung membuka kembali pintu mobilnya.
“Mas, ayo cepat turun, aku ingin memakai testpack ini sekarang,” ucap Alana, tergesa. Bahkan selesai mengucapkan kalimat itu ia langsung menutup kembali pintu mobilnya.
Altar yang bingung pun hanya bisa menurut, meski tak tau pastinya ia ikut turun dan mulai mengikuti langkah tergesa istrinya itu. Masuk ke dalam kamar mereka sendiri.
“Mas tunggu disini ya,” pinta Alana dengan wajahnya yang riang.
Kata-kata ibu Widya yang memintanya untuk menjaga kandungan terus berputar berulang kali di kepalanya.
Seolah memberi tahu Alana, jika kini ia benar-benar tengah hamil.
Altar hanya menganggukkan kepalanya, melihat sang istri yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia memilih untuk duduk disisi ranjang.
Dan menunggu hasilnya.
Tak sampai 5 menit, Alana sudah keluar lagi.
Ia masih tersenyum lebar meski masih belum mengerti hasilnya. Alana berulang kali menggerak-gerakkan testpack itu dengan cepat dan berjalan menghampiri suaminya.
“Aku yakin ini garisnya akan 2, aku hamil.”
“Memang kamu sudah lihat hasilnya?”
“Belum,” balas Alana riang, namun ia lebih mempercayai ucapan ibu Widya di dalam mimpinya kala itu.
“Hii, ini, coba mas yang lihat.” Pinta Alana seraya mengulurkan testpack itu, dan tanpa banyak bertanya ataupun berdebat, Altar pun langsung menerima dan melihat hasilnya.
Di sana, tertera meski tak jelas.
Tanda, 2 garis merah.
Tanda yang menyatakan jika Alana hamil.
__ADS_1
“2 garis kan?” tanya Alana, kedua netranya yang berbinar.
Altar tersenyum lebar, membelai wajah istrinya itu dan menganggukkan kepalanya.
Menjawab Iya.
“Iya sayang, kamu hamil.” Balas Altar pula.
Alana menjerit girang dan memeluk suaminya erat.
Entah kenapa, Alana merasa jika anak yang ia kandung kini adalah titipan ibu Widya. Dan menyadari itu, Alana sungguh bahagia.
Kebahagian keduanya berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, bahkan Altar berulang kali menciumi wajah istrinya itu. Altar, merasa telah membuat ibunya bahagia. Selama ini Altar tahu, jika ibunya itu ingin Alana segera hamil.
Puas saling memeluk dan mencium. Akhirnya Altar bertanya, tentang ucapan pertama Alana tadi di dalam mobil. Yang mengatakan jika ibu Wid tahu tentang kehamilan Alana ini.
Dan dengan senyum yang sedikit surut, Alana pun menceritakan semuanya pada suaminya itu.
Tak ada satupun yang terlewat.
Saat Altar dan Agung keluar meninggalkan ia di ruangan ibu Widya, Alana terlelap, dan didalam mimpi itu ia bertemu dengan ibu Widya yang sangat cantik.
Wajahnya berseri mengisyaratkan kebahagiaan.
Selesai bercerita, Altar kembali memeluk istrinya erat.
Bahkan berulang kali menciumi pucuk kepala Alana.
“Ibu sangat menyayangimu Al, bahkan denganmu ibu pamit untuk pergi. Tapi denganku tidak.” Balas Altar, sendu.
Jika boleh meminta, iapun ingin sang ibu datang ke mimpinya, mengatakan apapun, bahkan memarahinya pun tak apa.
Altar, sungguh merindukan suaranya itu.
Merasa jika sang suami mulai sendu, Alana pun membalas pelukan Altar tak kalah eratnya. Alana bahkan menciumi dada suaminya itu dengan sayang.
“Ibu datang ke mimpiku, tapi dia membicarakan mu dan Ayah Agung.” Balas Alana pula.
Hingga membuat Altar sedikit mengulum senyumnya.
Siang itu, akhirnya Alana dan Altar memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan, sebelum akhirnya nanti mereka akan mengatakan berita bahagia ini pada semua keluarga.
__ADS_1
Datang ke rumah sakit berdua, dan duduk di kursi tunggu dokter kandungan. Sontak keduanya menjadi pusat perhatian.
Bagaimana tidak, wajah unyu-unyu keduanya seolah tak pantas berada di tempat ini.
Altar menyadari tatapan itu, namun ia memilih tidak peduli. Lagipula di dalam tasnya, sudah ada buku nikahnya dan Alana yang tercetak resmi secara negara.
Sedangkan Alana, ia sungguh tak menyadari akan semua tatapan aneh itu. Ia lebih antusias untuk segera di panggil ke dalam.
Hingga 20 menit kemudian, akhirnya Alana dan Altar masuk ke ruangan dokter itu.
Awalnya sang dokter pun menatap aneh, namun sebisa mungkin ia bersikap profesional. Menganggap Alana dan Altar memang lebih memilih menikah di usia muda ketimbang nanti-nanti.
“Selamat ya, Alana kamu hamil sayang,” ucap Dokter itu, seorang wanita paruh baya. Melihat Alana, ia malah merasa seperti melihat anaknya sendiri.
“Alhamdulilah, terima kasih ya Allah,” gumam Alana,
penuh syukur.
Sebuah kalimat yang membuat dokter itu tersenyum lebar.
Awalnya, ia mengira baik Alana ataupun Altar akan kecewa kala mendengar berita ini. Merasa keduanya belum cukup umur menjadi orang tua.
Tapi ternyata dugaannya salah, Alana dan Altar justru sangat mensyukurinya.
Setelah mendapatkan resep obat dan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) berwarna merah muda. Alana dan Altar pun keluar dari sana.
Yang lagi-lagi, menjadi pusat perhatian semua orang.
Tak ingin Alana mendengar desas desus yang menyakitkan, Altar pun meminta Alana untuk lebih dulu ke mobil mereka. Sementara Altar masih akan mengantri menebus obat.
“Tapi Mas_”
“Sudah sana, dengarkan aku, aku tidak mau kamu lelah,” potong Altar cepat, tahu istrinya itu ingin menolak dan meminta untuk bersama-sama saja pergi ke apotik.
Ditatap sedikit tajam oleh Altar, akhirnya Alana pun menurut, meski dengan bibirnya yang mengerucut.
Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya Altar datang juga menghampiri istrinya itu.
Ia masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mesin.
“Kita kasih tahu ayah Agung dulu ya, baru setelah itu kita kasih tau ayah Aslan dan ibu Kiran,” ucap Altar dan Alana menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Siang saat pulang itu, mereka tetap membelikan ayam bakar pak Kumis kesukaan sang ayah. Berharap setelah mengetahui berita bahagia ini, ayah Agung akan makan dengan lahap.