
Jam 3 subuh, Kiran terbangun. Mendadak perutnya terasa sakit lalu menghilang lagi. Terus seperti itu hingga 10 kali. Makin lama, rasa sakit itu datang dengan teratur, tiap 10 menit sekali Kiran akan merasa kesakitan.
Kiran tahu betul, yang terjadi padanya kini adalah kontraksi. Merasa masih mampu menahan sakit itu. Kiran tetap diam. Menunggu pagi dan mengatakannya pada sang suami.
Selesai Mereka shalat subuh, Kiran menghembuskan napasnya berat, Keringat dingin sudah membasahi dahinya.
"Ya Allah sayang, kamu kenapa?" tanya Aslan cemas, selesai mengucapkan salam ia ingin mencium kening sang istri, tapi ia justru melihat Kiran yang kesakitan.
"Perutku sakit Mas," jawab Kiran lirih.
Tapa babibu lagi, Aslan segera membawa sang istri ke rumah sakit. Yuli dan Iwan pun ikut mengantar mereka. Untunglah, saat itu dokter Susan sudah berada disana.
"Ibu Kiran baru pembukaan 3, dibawa jalan-jalan dulu ya," ucap Susan sesaat setelah memeriksa keadaan Kiran.
Susan lalu memberikan sebutir obat pada Kiran, obat yang mempercepat terjadinya pembukaan.
Di luar ruangan dokter Susan itu, Aslan menemani sang istri untuk jalan-jalan. Sementara Iwan dan Yuli, memantau dengan cemas. Dulu, saat melahhirkan Aslan Yuli memilih jalan caesar, hingga ia tidak merasakan sakitnya pembukaan.
"Mas, sakit sekali," lirih Kiran, ia merasa pinggulnya begitu sakit dan tak mampu lagi.
"Sabar sayang, istigfar. 30 menit lagi baru kita masuk," jelas Aslan, ia begitu iba melihat keadaan sang istri. Rasanya, jika bisa biarkan ia saja yang menanggung sakit itu.
"Mas," Rintih Kiran sudah tidak kuat, bahkan baju terusannya pun sudah nampak ada darah yang menempel.
__ADS_1
"Ayo kita masuk," ucap Aslan lalu membawa sang istri menemui dokter Susan.
"Bukaan 7, mari ke ruang bersalin," ajak Susan, wajahnya nampak tenang, berbeda sekali dengan wajah yang ditunjukkan Aslan.
Di ruang bersalin itu, Aslan dan Yuli ikut mendampingi.
Rasa sakit yang dirasakan Kiran makin terasa, ia bahkan terus menangis dan memaki sang suami yang tidak tahu apa-apa.
"Bagaimana Dok, apa masih lama?" tanya Aslan pada sang dokter dengan begitu cemasnya.
"Sabar ya Pak, ini masih bukaan 8, kita harus tunggu sampai bukaan 10, agar bayinya bisa keluar dengan mudah," terang Susan apa adanya.
Mendengar itu, Aslan hanya mampu menelan ludahnya yang terasa pahit. Kembali melihat, sang istri yang kesakitan, berjuang diantara hidup dan mati.
20 menit kemudian, barulah bukaan 10 itu datang. Kiran mulai mengenjan sesuai irama ajakan sang anak.
Susan pun langsung memasang infus untuk Kiran, agar ia tidak dehidrasi.
"Ayo Bu, semangat. Matanya jangan ditutup ya," instruksi Susan dan Kiran menurutinya.
Dengan mengenggam tangan sang suami, ia kembali mengenjan. Fokusnya hanya terus berusaha untuk mengeluarkan sang anak. Ia tak mendengar kala sang suami dan ibu mertuanya memberi semangat.
Seperti gamang, Kiran terus mengenjan.
__ADS_1
Hingga akhirnya, suara tangisan seorang bayi menggema.
Matanya sayu, pandangannya mulai buram, namun bibir Kiran mengukir senyum tipis.
Alhamdulilah, batinnya penuh syukur.
Saat matanya hendak terpejam, Aslan langsung mendekat dan menciumi seluruh wajah sang istri. Bahkan mencium bibirnya dan menyesap dalam.
Kiran yang hendak tertidur, jadi terbangun. Tersenyum, menatap sang suami yang ternyata menangis.
"Selamat ya, anak kalian lahir dengan selamat, sehat dan begitu tampan," ucap Susan, seraya memberikan bayi kecil yang sudah dibedong itu ke dalam dekapan sang ibu, Kiran.
Dengan haru, Kiran memandangi wajah sang anak.
"Anakku," desis Kiran, antara percaya dan tidak. Bayi yang sudah dikandungnya selama 9 bulan kini sudah berada didekapannya.
"Anakku juga sayang," bisik Aslan, lalu mencium pipi sang istri dengan sayang.
Kiran tersenyum, lalu memberikan bayi itu pada ayahnya agar segera di adzani.
Lagi, Kiran meneteskan air matanya saat mendengar suara adzan yang bergetar dari mulut Aslan. Kiran tahu, suaminya itupun sedang menahan haru.
Aydan Atthallah, nama yang diberikan Aslan dan Kiran untuk sang anak. Aydan memiliki arti pemuda yang penuh semangat. Sementara Atthallah berarti hadiah atau karunia Allah. Nama tersebut menjadi bukti rasa syukur orang tua atas kehadiran putra kecilnya.
__ADS_1
Dengan penuh syukur, Aslan dan Kiran mencium sang anak secara bersamaan, kanan dan kiri.
Lalu keduanya saling mencium sekilas, menunjukkan rasa cinta.