Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 45


__ADS_3

Hening, tak ada jawaban yang Aslan berikan atas ucapan Agung itu. Meski rasanya tak tega, tapi Agung mencoba untuk tidak peduli.


Penderitaan sahabatnya jauh lebih besar daripada sakit hati yang dirasakan Aslan.


Lagi, Agung hendak berlalu dan Aslan kembali mencegah.


"Tunggu," ucap Aslan lirih.


"Katakan pada Kiran, aku akan menunggunya kembali. Dan aku tidak akan mengabulkan gugatan cerai itu," kata Aslan dengan suara yang tegas.


"Terima kasih Mas," setelah mengatakan ini, Aslan pergi.


Berbalik dan berlalu menuju mobilnya sendiri. Sementara Agung yang melihat kepergian Aslan hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Kemarin, Fahmi pun mengatakan kepada Agung, jika gugatan cerai Kiran tidak pernah dikabulkan oleh Aslan. Tapi Fahmi mengatakan yang sebaliknya pada Kiran, Fahmi mengatakan jika Aslan sudah menyetujui gugatan cerai itu, dan kini mereka sudah resmi berpisah.


"Ya Allah Ran Ran, gara-gara masalahmu, aku jadi pusing sendiri," gerutu Agung saat melihat mobil Aslan yang sudah menjauh.


Ia lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kantornya.


Mengetahui kebenaran dan harus menutupinya adalah hal yang paling sulit dilakukan, apalagi oleh seorang Agung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malaysia.


Kini, Kiran sudah keluar dari rumah sakit, tapi tiap minggu ia akan melakukan pemeriksaan rutin.


Disini, mereka tinggal di apartemen. Hanya ada balkon yang digunakan untuk menghirup udara segar. Tak ada halaman ataupun taman seperti rumah mereka di Indonesia.


Di balik jendela balkon itu, Tika melihat Kiran yang termenung. Duduk di kursi roda, satu tangannya mengelus perutnya yang masih rata dan matanya menatap langit dengan tatapan kosong.


Tika terenyuh, tanpa sadar air matanya mengalir.


Sumpah demi apapun, hingga kini ia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada sang adik ipar. Apalagi saat Fahmi mengatakan jika Aslan menyetujui gugatan cerai itu.


Tika makin merana, padahal ia masih sangat berharap Aslan akan memperjuangkan Kiran dan menyelamatkan biduk rumah tangga mereka.


Tapi ternyata tidak, ternyata keputusannya memilih Aslan sebagai suami Kiran benar-benar keputusan yang salah.


Dengan buru-buru, Tika menghapus air matanya sendiri, hendak menghampiri Kiran.


Saat ini masih jam 10 pagi, Raka dan Rian masih sekolah dan Fahmi bekerja.


Tinggallah ia dan Kiran berdua di apartemen ini.


"Ran," panggil Tika seraya menarik kursi yang tersedia di balkon agar lebih dekat dengan Kiran.

__ADS_1


Yang dipanggil menoleh, lalu tersenyum kecil.


"Kamu bosan ya? bagaimana kalau kita jalan-jalan di bawah," ajak Tika, ia mencoba bersikap biasa saja, menyembunyikan sesak menahan kesedihan.


Pelan, Kiran menggeleng. Ia tidak mau merepotkan Tika, baginya, Tika sudah lelah mengurus rumah sendirian. Kini semua pekerjaan rumah Tika yang mengerjakan, ARTnya dulu Bude Nur tidak ikut ke Malaysia. Nur memutuskan untuk kembali ke kampung.


"Tidak usah Mbak, disini juga udaranya segar," jawab Kiran mencoba ceria.


Ia tidak mau, menambah beban Tika. Tidak mau jadi benalu di rumah tangga kakaknya.


Mendengar itu, Tika meremat kedua tangannya dipangkuan. Ia tahu jika Kiran menolaknya hanya karena tidak ingin merepotkan dirinya.


Kiran memang sebisa mungkin melakukan semuanya sendiri.


Bukannya senang, Tika malah semakin sedih.


Tak bisa ditahan, akhirnya ia menangis di hadapan Kiran.


"Maafkan aku Ran, maafkan mbak Tika," lirih Tika dengan derai air mata.


Melihat itu, Kiran menggigit bibir bawahnya, mencoba tegar.


"Mbak, Mbak tidak salah, jadi jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Kalau Mbak terus seperti itu, aku malah semakin sedih," jujur Kiran.


Mendengar itu, Tika langsung menghapus air matanya sendiri.


Melihat itu, Tika langsung memeluk adik iparnya dengan sayang. Hingga terdengar bunyi bell apartemen mereka yang berdenting nyaring.


Ting tong ting tong.


Akhirnya mereka melerai pelukan itu.


"Siapa yang datang?" tanya Tika dan Kiran hanya mengedikkan bahu, tidak tahu.


"Aku buka dulu ya?" pamit Tika dan Kiran mengangguk, Kiran pun perlahan memutar kursi rodanya sendiri dan mengikuti langkah Tika dari belakang.


Ikut ke ruang tamu dan melihat siapa yang datang.


"Dokter Johan," sapa Tika sesaat setelah ia membuka pintu, disana Johan berdiri dengan tegap, tersenyum kearahnya dengan ramah.


"Masuk Dok," ajak Tika dan Johan pun masuk, langsung terlihat olehnya, Kiran yang juga ikut menyambut.


"Ada apa Dok? bukannya jadwal terapi hari senin? sekarang kan masih hari jum'at," tanya Kiran heran, tidak biasanya dokternya ini berkunjung kesini.


"Kebetulan lewat, jadi mampir," jawab Johan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Entah kenapa, kakinya begitu ingin melangkah menemui sang pasien.

__ADS_1


"Silahkan duduk Dok," ucap Tika memecah kecanggungan, ia mengulum senyum, melihat Johan entah kenapa ia merasa dokter muda ini sedang salah tingkah.


Johan duduk, ditemani oleh Kiran di kursi roda. Sementara Tika pamit ke dapur, mengambil minum, katanya.


"Bagaimana kakimu? masih terasa ngilu?" tanya Johan memecah keheningan.


"Tidak Dok, sekarang lebih baik, tapi rasanya seperti mati rasa," jawab Kiran jujur sambil memperhatikan kaki kirinya yang tidak bisa bergerak, masih dibungkus rapi dengan gips.


Tersenyum, Johan menanggapi, "Sabar ya, 2 bulan lagi baru gipsnya dicopot."


Mendengar itu, Kiran cemberut, "Masih lama," jawabnya singkat.


"Kamu masih mual?" tanya Johan lagi, ia juga tahu tentang kehamilan Kiran.


"Tidak, kalau ada Agung, baru aku mual," jujur Kiran dan Johan terkekeh.


"Bagaimana denganku? apa dekat denganku tidak membuatmu mual?" tanya Johan dan Kiran tidak langsung menjawab.


Entah kenapa, rasa tak nyaman menyentuh hatinya.


Pelan, Kiran hanya menggeleng.


"Saat perutmu membesar, saat itu juga kamu bisa kembali berjalan," jelas Johan tulus, ia benar-benar ingin membantu Kiran agar bisa segera pulih.


Mendengar itu, Kiran tersenyum.


Senyum yang terlihat sangat cantik di mata Johan.


"Terima kasih Dok," jawab Kiran kemudian dan Johan mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu berlalu, setelah pertemuannya dengan Agung minggu lalu. Aslan belum menyerah, diam-diam ia selalu mengintai Agung.


Mengikuti kemanapun Agung pergi.


Namun sekalipun ia tidak pernah melihat Agung yang menemui Kiran.


Sesaat, ia meragukan semua ucapan Agung dulu. Sesaat ia jadi ragu jika Agung mengetahui tentang keberadaan sang istri.


Hingga hari ini, ia mengikuti Agung sampai di bandara, Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Masih dengan diam-diam, Aslan mengikuti langkah Agung.


"Malaysia?" gumam Aslan pelan, saat Agung memasuki ruang tunggu untuk pesawat yang akan terbang ke negeri Jiran itu.


"Untuk apa mas Agung kesana? apa keperluan pekerjaan?" gumamnya penuh tanya.


Namun lama berpikir dan tak menemukan jawaban, akhirnya Aslan memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


Besok, saat Agung kembali, ia akan kembali mengintai sahabat istrinya itu.


__ADS_2