Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 88


__ADS_3

Selesai shalat zuhur, selesai pula acara majelis ta'lim itu. Ada rasa tenang dan begitu damai ketika keluar dari dalam masjid.


Rasa yang ingin terus mereka raih, dengan terus mengikuti majelis. Belajar tentang Agama tentu menambah ketentraman hati.


Aslan dan Agung sepakat, untuk mengantar pulang para wanita lebih dulu. Lalu mereka berdua akan menyerahkan uang charity acara reuni kemarin ke salah satu pati jompo di pinggiran kota Jakarta.


Kini, kedua pria ini sudah berada dipertengahan jalanan. Sekitar 1 jam lagi, mereka akan tiba di panti jompo itu.


"Kenapa kamu pilih panti jompo itu Lan?" tanya Agung heran, biasanya orang-orang akan memilih ke panti asuhan anak ataupun membagikan langsung sembako ke warga yang tidak mampu.


"Tidak ada alasan khusus Mas, hanya saja aku ingin mereka merasa diperhatikan diusia senjanya. Mas tahu, para orang tua disana ada juga yang masih memiliki keluarga, tapi keluarganya itu malah menempatkan mereka dipanti jompo," jelas Aslan, seraya menerawang masa lalu.


Dulu, Aslan pernah mengunjungi panti jompo yang mereka tuju kali ini, ia tersesat disana saat sedang mencari Kiran, dulu.


Agung mengangguk, sejurus kemudian ia pun menyetujui ide Aslan itu. Untuk menyumbangkan uang charity yang mereka peroleh, sebanyak 53 juta ke sebuah panti jompo.


Dan sesuai perkiraan, satu jam kemudian mereka sampai disana. Aslan disambut dengan bahagia oleh para nenek dan kakek disana.


Walaupun hanya datang sekali, namun mereka masih mengingat wajah berkharisma milik Aslan. Bahkan sebagaiannya memeluk Aslan erat, seperti merasa kekunjungi oleh anaknya.


"Bagaimana Nak, apa kamu sudah menemukan istrimu?" tanya salah satu nenek seraya membawa Aslan dan Agung untuk masuk.


"Alhamdulilah sudah nek, aku tidak bisa mengajaknya kesini, karena anak kami masih terlalu kecil untuk melewati perjalanan jauh," jelas Aslan apa adanya dengan tersenyum penuh syukur, sontak senyum Aslan itupun langsung menular pada semua orang.


Lalu pandangan nenek itu teralihkan pada Agung, seorang laki-laki yang sama tampannya berdiri disebelah Aslan.


"Ini Mas Agung Nek, kakaku," ucap Aslan mengenalkan. Diperkenalkan sebagai kakak, tentu Agung pun merasa senang. Dengam antusias pun Agung mulai memperkenalkam diri.


Tak lama kemudian, pengurus panti itupun keluar. Menyambut Aslan dan Agung tak kalah ramahnya. Lalu mengajak kedua pria itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


Duduk disana, Aslan pun langsung menjelaskan tujuan mereka datang kesini, bahwa ada sedikit rejeki yang ingin mereka bagi. Saat Aslan menyebut jumlahnya, sontak pengurus panti itupun meneteskan air mata.


Tak menyangka, masih ada orang baik yang mau peduli kepada mereka tanpa cuma-cuma.


Uang cash itupun langsung Aslan beri tanpa menyebutkan syarat apapun. Aslan yakin, bahwa pengurus panti itu adalah yang paling tahu apa yang mereka butuhkan. Bukan hanya tentang pangan, namun juga obat-obatan.

__ADS_1


"Jadi, bulan depan mas Agung mau menikah?" tanya ibu pengurus panti itu, dan dengan tersenyum malu-malu Agung mengangguk.


"Mohon doanya ya Bu, semoga acara pernikahan saya nanti lancar, dan bisa menjadi keluarga yang samawa," balas Agung.


"Aamiin, Allahumma Aamiin. Ibu pasti akan mendoakan untuk kebaikan kalian berdua," jawabnya dengan sangat tulus.


Ia pun tak bisa membalas kebaikan yang sudah dilakukan oleh Aslan dan Agung, ia hanya bisa mendoakan untuk kedua orang ini. Semoga selalu bahagia didunia dan selamat di akhirat.


Tak sampai lama, setelah menyerahkan bantuan itu dan bercengkrama sejenak bersama para nenek dan kakek, Aslan dan Agung pamit untuk pulang.


Langit pun sudah nampak mendung, sepertinya malam ini akan kembali hujan. Sama seperti malam kemarin.


"Mas, biar aku yang bawa mobilnya," ucap Aslan, tadi saat berangkat yang menyetir adalah Agung, kini Aslan ingin bergantian.


"Tidak usah Lan, biar aku saja."


"Sudahlah Mas, sini kuncinya, aku memaksa," balas Aslan, yang kukuh dengan keinginanya.


"Ternyata benar kata orang-orang, bahwa jodoh itu adalah cerminan kita. Sekarang kamu sudah seperti Kiran, suka memaksa," keluh Agung dan Aslan malah terkekeh.


Sesekali keduanya terlibat obrolan ringan selama dalam perjalanan itu. Hingga mereka memutuskan untuk istirahat sejenak di rumah makan padang.


Shalat ashar juga ingin makan.


"Apa Kiran bisa masak?" tanya Agung saat mereka sudah duduk di kursi meja makan, seraya membawa masing-masing 1 piring nasi beserta lauk pauk.


"Bisa, tapi bukan makanan seperti ini, dia tidak suka yang berminyak-minyak," jawab Aslan jujur.


Dan diujung sana, telinga kiri Kiran berdengung hingga membuatnya bergidik.


Agung mengangguk-anggukan kepalanya, setuju. Kiran memang termasuk yang pilih-pilih makanan. Katanya untuk kesehatan, kecantikan dan apalah apalah.


"Mas, kalau butuh bantuanku atau Kiran untuk acara pernikahan nanti, katakan saja pada kami, jangan sungkan," ucap Aslan kemudian.


Lagi, Agung mengangguk.

__ADS_1


"Untuk sekarang sih tidak ada Lan, Widya juga tidak mau acara pernikahannya digelar mewah, ini juga bukan pernikahan pertamanya. Aku sih setuju-setuju saja, yang penting kan ijab kabulnya, Sah dan halal," jawab Agung dengan senyum-senyum, seolah sedang membayangkan sesuatu.


Dan Senyum itu ikut membuat Aslan tersenyum juga.


"Iya Mas, yang penting Sah," balas Aslan setuju.


"Kalau udah Sah enak ya Lan?"


"Iya Mas, yang galak seperti Kiran jadi penurut."


Kedua pria ini lalu tergelak, hingga membuat Agung tersedak. Apalagi saat membayangkan wajah judes dari sahabatnya itu.


Dan lagi-lagi diujung sana telinga kiri Kiran berdengung. Ia yang merasa tak nyaman sampai menekan-nekan telinganya.


"Kamu kenapa Ran?" tanya Yuli, sore ini mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Menikmati teh hangat dicuaca dingin seperti ini.


"Telingaku dari tadi berdengung, Umi. Sakit," keluh Kiran apa adanya.


"Jangan-jangan ada yang sedang ngomongi kamu itu," balas Yuli yakin dan Kiran mencebikkan bibirnya.


Tahayul, batin Kiran yang tidak percaya.


Lalu mengambil ponselnya di saku gamis dan mulai menghubungi suaminya, Aslan. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, namun suaminya itu tak kunjung pulang.


Apalagi diluar sana gerimis sudah mulai turun, Kiran merasa sedikit cemas.


Untunglah, dipanggilan pertamanya, telepon itu langsung diangkat oleh Aslan. Dalam telepon itu ia mengatakan jika saat ini ia dan Agung sedang beristirahat di salah satu rumah makan.


Selesai makan nanti mereka akan langsung pulang. Mungkin magrib baru sampai di rumah.


Kiran mengangguk, lalu memutuskan sambungan telepon itu.


"Masih lama?" tanya Yuli langsung, ia tahu Kiran habis menghubungi Aslan.


"Sepertinya Magrib baru sampai rumah Umi," jawab Kiran, lalu ia bangkit dan menuju dapur. Membersihkan beberapa ruas jahe untuk dibakar, saat suaminya pulang nanti ia akan membuatkan teh jahe.

__ADS_1


__ADS_2