
Pagi ini, Kiran dan baby Aydan sudah diperbolehkan pulang. Setelah pamit dengan Susan, Kiran dan sang suami mulai bergegas meninggalkan rumah sakit.
Kemarin saat melahirkan, Kiran tidak mendapatkan jahitan. Jadi kini ia bisa berjalan dengan normal.
"Sayang, hati-hati," ucap Aslan saat melihat Kiran yang masuk ke dalam mobil dengan santainya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku baik-baik saja sayang," balas Kiran jujur, Aslan hanya mampu menghembuskan napasnya dengan berat. Ia malah jadi merasa takut sendiri, merasa jika inti Kiran pasti masih sangat sakit.
Kemarin, ia menyaksikan dengan jelas bagaimana intinya sang istri mengeluarkan Aydan.
Setelah Kiran duduk sempurna dengan mengendong Aydan, Aslan mulai menutup pintu. Lalu bergegas menuju kursinya sendiri, kursi kemudi.
"Bismilahirohmanirohim," gumam keduanya kompak, lalu mobil melaju meninggalkan area parkir rumah sakit, mulai memasuki jalan raya.
"Mas, nanti beli bubur ayam ya?" ucap Kiran tak lama setelah mereka melaju di jalan raya.
Aslan mengangguk, tangan Kirinya terulur untuk mengelus kepala sang istri dengan sayang. Apapun akan ia berikan pada Kiran, apalagi hanya sebatas bubur ayam.
Tak berselang lama, Aslan menepikan mobilnya di sebuah rumah makan yang menyediakan bubur ayam. Kiran, hanya menunggu di dalam mobil.
Drt drt drt
Ponsel Kiran yang berada di dalam tas bergetar, dengan sedikit kesusahan ia berusaha menjangkau ponsel itu.
Ada panggilan masuk dari Dinda.
Dengan tersenyum, Kiran mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum, Din," jawab Kiran dan diujung sana Dinda menyahutnya dengan antusias.
Dinda menanyakan perihal proses kelahiran Kiran, ia pun bersyukur Kiran dan bayinya sehat dan kini sudah dalam perjalanan pulang.
Kiran juga mengundang Dinda untuk datang ke rumahnya hari minggu besok, dirumah utama untuk menggelar syukuran atas kelahiran Aydan.
"Insya Allah aku datang," jawab Dinda.
Lagi, keduanya asik berbincang. Panggilan itu terputus saat terdengar baby Akbar menangis dan Aslan sudah kembali ke dalam mobil.
"Siapa?" tanya Aslan, dilihatnya sang istri yang sedang tersenyum setelah memutus panggilan telepon.
"Dinda sayang," jawabnya dengan manja, senang sekali saat melihat sang suami datang dengan membawa 5 boxs bubur ayam.
Entah kenapa, lidahnya ingin sekali makan makanan itu.
Lagi, mobil mereka kembali melaju.
Hingga 15 menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Iwan dan Yuli menyambut antusias kedatangan mereka, bahkan Yuli langsung saja meminta Kiran untuk memberikannya Aydan.
Tanpa pikir pajang, Kiran menyerahkan Aydan pada sang oma. Ia dan sang suami lalu memutuskan untuk langsung ke meja makan, memakan bubur ayam yang mereka beri tadi.
"Hem, enak," ucap Kiran dengan begitu riangnya, menikmati bubur ayam yang masih hangat.
__ADS_1
"Enak sih enak, tapi hati-hati makannya, jangan buat aku melumaat bibirmu untuk membersihkan ini," ucap Aslan sambil membersihkan bibir sang istri yang belepotan.
"Ya sudah, sini bersihkan," tantang Kiran sambil mengerucutkan bibirnya minta dicium.
Tanpa babibu, Aslan langsung menyesap bibir itu, melumaatnya dalam bahkan menelusupkan lidahnya masuk, menyesapi rasa bubur ayam di mulut sang istri.
"Hem, ternyata memang enak," ucap Aslan setelah melepas pagutannya.
Kiran cemberut dengan napas yang memburu.
"Mas, ingat, aku masih nifas," terang Kiran dengan mata yang mendelik.
"Yang nifaskan bagian bawah, yang atas tidak," jawab Aslan dengan terkekeh, bahkan menasukkan 1 tangannya ke dalam hijab sang istri, lalu mengelus dada Kiran dengan lembut.
"Mas!" kesal Kiran seraya memukul tangan suaminya itu.
Aslan terkekeh, istrinya ini memang lucu. Gayanya menantang tapi jika dituruti ia jadi takut sendiri.
Setelah drama singkat itu, keduanya kembali melanjutkan makan. Kali ini Kiran makan dengan sangat rapi, takut takut jika suaminya kembali menerkam.
Selesai sarapan, Kiran dan Aslan menuju kamar, Aydan mereka ambil untuk segera di susui.
"Jangan lihat, aku mau susuin Aydan," ucap Kiran seraya duduk di kursi menyusui sambil membelakangi sang suami.
Mendengar itu Aslan mengulum senyumnya, makin gencar ingin menggoda.
"Yah, padahal aku ingin ikut menyusu juga," jawab Aslan dengan wajah memelas.
Ia tak peduli atas larangan sang istri, saat Kiran menyusui Aydan, ia duduk di hadapan Kiran.
"Besar ya?"
"Maaas!" rengek Kiran minta ampun.
"Iya iya, aku mencintaimu," ucap Aslan kemudian dan Kiran mengulum senyumnya.
"Mau mimik cucu juga nggak?" tawar Kiran dan Aslan menggeleng dengan cepat.
Kini, giliran Kiran yang terkekeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu.
Pagi itu, Aslan mencuri sang bayi untuk diajaknya berjemur di halaman rumah. Ia membiarkan sang istri yang masih terlelap.
Semalam, tiap jam mereka terbangun untuk menyusui Aydan. Aslan tahu jika istrinya itu begitu kelelahan.
Maka pagi ini, ia yang mengambil alih peran untuk menjemur sang bayi.
"Lan, biar Oma aja ya yang berjemur sama Aydan?" pinta Yuli tiba-tiba saat Aslan baru keluar dari pintu kamarnya.
__ADS_1
"Janganlah Umi, biar aku dulu. Cuti ku kan cuma 4 hari, setelah itu aku tidak bisa berjemur lagi dengan Aydan," jawab Aslan dengan mengeluh.
Mendengar itu Yuli tak bisa berbuat apa-apa, karena memang begitulah adanya.
"Ya sudah sana, kursinya sudah umi siapkan," jawab Yuli antara ihklas dan tidak ihklas.
"Terima kasih Oma," jawab Aslan dengan senyum mengembang.
Layaknya seorang ayah yang hebat, Aslan duduk di kursi itu dengan memangku Aydan. Duduk melawan matahari, hingga cahaya hangat itu mengenai tubuh keduanya.
10 menit berlalu, Yuli kembali menghampiri Aslan.
"Lan, sini Aydan kasih ke Oma, kamu bangunkan Kiran, dia juga harus sarapan," jelas Yuli, sedari tadi ia sudah gemas ingin menggendong Aydan.
"Baiklah Umi," jawab Aslan patuh, ia bangkit dari duduknya dan menyerahkan Aydan pada sang oma.
Ia kembali ke kamar hendak membangunkan sang istri.
Sampai disana, dilihatnya Kiran yang masih tertidur pulas. Sumpah demi apapun, Aslan tak tega untuk membangunkannya.
Akhirnya Aslan kembali keluar, menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sang istri. Biarlah Kiran sarapan di kamar saja, pikirnya.
Dengan membawa senampan penuh makanan, Aslan kembali memasuki kamarnya. Dan Kiran masih juga belum bangun.
Terpaksa, Aslan membangunkannya.
"Sayang," panggil Aslan pelan, seraya merapikan rambut sang istri yang nampak berantakan. Jika sedang berada di dalam kamar seperti ini, Kiran melepas hijabnya.
"Sayang," panggil Aslan lagi dan Kiran mulai menggeliat.
Perlahan, Kiran membuka matanya dan melihat sang suami yanh nampak begitu tampan. Sudah mandi dan rapi sekali.
"Mas," panggil Kiran dengan suara serak.
"Bangun ya? mandi dan sarapan dulu, nanti kalau masih ngantuk tidur lagi," terang Aslan dengan suara yang lembut. Ia membantu Kiran saat hendak duduk.
"Dimana Aydan?" tanya Kiran langsung saat tak melihat sang anak di dalam boxs.
"Sama Umi."
"Aku kesiangan, maaf ya Mm_"
Belum sempat Kiran melanjutkan ucapannya, Aslan sudah lebih dulu membungkam bibir itu. Dibungkam dengan cara yang paling ampun, cium.
"Mas ih, aku kan belum mandi," keluh Kiran setelah ciuman itu terlepas.
"Kalau begitu ayo mandi, aku temani," tawar Aslan langsung dan Kiran mencebik.
"Aku bisa mandi sendiri," jawab Kiran ketus, lalu turun dan bergegas ke kamar mandi.
Aslan terkekeh, memperhatikan sang istri yang menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Sabar, 38 hari lagi," gumam Aslan.