
Dengan tergesa, Agung berlari menuju kamar rawat Kiran. 30 menit yang lalu, ia mendapat kabar dari Aslan jika sahabatnya itu baru saja melahirkan, seorang bayi laki-laki yang diberi nama Aydan.
Bayi yang sejak di dalam kandungan sudah begitu disayangnya, bahkan Agung berharap anak itu pun sudi memanggilnya seorang ayah. Awalnya, Agung hanya iba, dikehamilan awal-awal, Kiran tak ada yang mendampingi. tak tak suara laki-laki yang disebut ayah saat itu.
Namun lambat laun, rasa iba Agung itu berubah jadi perasaan yang tulus.
Tanpa mengucapkan salam, Agung langsung membuka pintu kamar rawat Kiran. Seketika, semua orang didalam ruangam itu menatap lekat ke arahnya.
Dilihatnya Kiran yang sedang setengah berbaring diatas ranjang, menggendong seorang bayi dan tersenyum melihat kedatangannya.
Agung mendekat, berhenti tepat dipinggi Ranjang. Mengambil sisi dihadapan Aslan.
"Masya Allah, anakku," ucap Agung spontan, dan mendengar itu Kiran langsung mendelik.
Mendapat tatapan dari sang sahabat, Agung baru tersadar, ia menoleh dan menelisik seisi kamar ini. Ada Aslan, Iwan dan juga Yuli.
Melihat itu, Agung menelan salivanya dengan susah payah.
"Em anu, maksud saya, ini anaknya Aslan, saya hanya ayah pura-pura," jelasnya dengan senyum cengir kuda.
Aslan mengulum senyumnya, sedangkan Iwan dan Yuli bernapas lega.
"Astagfirulahalazim!" ucap Agung, ia berjangkit kaget saat kembali menatap Kiran, sahabatnya itu mendelik dengan begitu besar. Nyaris saja mata itu jatuh terlepas dari sangkarnya.
"Maaf," desis Agung sangat pelan, hingga tak ada orang yang mendengarnya. Kiran hanya mencebik sebagai jawaban, ia bisa melihat dengan jelas gerak bibir Agung yang mengucapkan kata maaf.
"Boleh aku gendong Aydan?" pinta Agung dengan memelas.
"Tidak, kamu pasti kotor, lihat keringat di dahimu itu," jawab Kiran ketus, sudah lama ia tidak memarahi sahabatnya ini.
"Lan, boleh aku gendong Aydan?" tanya Agung pada Aslan, percuma bicara dengan Kiran, pasti tidak akan ketemu ujungnya.
"Boleh," jawab Aslan yang lagi-lagi menahan senyumnya. Ternyata sedari dulu masih sama saja, Agung akan berlagak berani didepan orang lain, namun didepan Kiran ia akan jadi penakut.
Kiran mencebik, meski begitu ia memberikan Aydan pada Agung dengan perlahan.
"Hati-hati, jangan dihimpit, kalau tidak yakin bisa langsung berikan padaku," gerutu Kiran tak habis-habis.
__ADS_1
"Sayang, jangan seperti itu, Mas Agung hanya ingin menggendong Aydan," jelas Aslan seraya mengelus pundak sang istri.
Terhadap Aslan, Kiran langsung merubah mimik kesalnya jadi senyum menawan, "Iya sayang," jawabnya dengan begitu lembut.
Agung yang mendengarnya serasa ingin muntah.
Cukup lama Agung disana, saat magrib nyaris tiba baru dia memutuskan pulang.
"Terima kasih ya Mas," ucap Aslan pada Agung, saat ia mengantarkan kepulangan Agung. Kini keduanya sedang berdiri tepat di depan pintu kamar rawat Kiran.
Mendapati pernyataan itu, Agung mengeryit bingung, "Terima kasih untuk apa?" tanyanya cengo.
Aslan tersenyum kecil, lalu menjelaskan semuanya. Terima kasih, karena selama ia tidak ada bersama Kiran, Agung selalu mendapingi istrinya itu. Terima kasih pula, karena Agung tidak berniat merebut istrinya, pertemanan mereka benar-benar tulus.
Mendengar itu Agung mulai paham, ia lalu menepuk bahu Aslan dengan pelan.
"Tidak perlu berterima kasih, aku sudah menganggap Kiran sebagai adikku sendiri. Sudah banyak yang kami lalui, dan kini aku baru tahu ternyata dia sangat mencintaimu," jawab Agung dengan senyumnya yang khas, senyum lebar hingga menampakkan deretan gigi.
Sejenak, keduanya terus berbincang perihal Kiran.
Dengan ragu, Agung pun menatap mata Aslan dengan lekat.
"Aslan, ada satu hal yang ingin aku katakan," ucap Agung lalu menelan salivanya dengan berat. Jika diingat-ingat, dia dulu memang begitu jahat pada pria dihadapannya ini.
"Sebenarnya aku Agung, kakak tingkatmu dulu saat SMA, kamu ingat tidak?" tanya Agung dengan ragu-ragu.
Mendengar itu, Aslan mengulum senyumnya. Tentu saja dia tahu, dia bukanlah orang bodoh.
"Aku sudah tahu sejak kita pertama kali bertemu di rumah Kiran Mas," terang Aslan jujur dan Agung mendelik.
Sialan, kenapa Kiran tidak pernah cerita. Gerutu Agung didalam hati, selama ini ia yakin jika Aslan belum mengenalinya. Ah, jika seperti ini malunya jadi bertubi-tubi.
"Maafkan aku Lan, dulu aku selalu mempermainkanmu," ucap Agung setelah cukup lama berdebat dengan batinnya sendiri, maaf memanglah kata yang harus ia ucapkan. Terlepas dari segalanya yang ada.
"Aku sudah memaafkan Mas Agung, Mas juga tidak sepenuhnya bersalah. Berkat perlakuan Mas yang kasar itu, aku jadi bisa mengangkat wajahku sekarang," terang Aslan jujur, meski terdengar sedikit meledek di telinga Agung.
Bagi Aslan, Agung dan teman-temannyalah yang membuatnya jadi lebih berani, tidak hanya bersembunyi dibalik kaca mata tebal dan buku-buku perpustakaan.
__ADS_1
"Jawabanmu seperti tidak ihklas, masih bawa-bawa kelakukanku dulu yang kasar," keluh Agung dengan menggerutu.
Dan kini Aslan yang tersenyum lebar.
"Maaf Mas, bukan seperti itu maksudku," jawab Aslan setelah senyumnya mereda.
Lagi, keduanya jadi mengingat ingat tentang masa lalu. Membahas itu, seperti mengikis secara perlahan jarak diantara mereka.
Aslan dan Agung pun memutuskan untuk kini memiliki hubungan yang baik, sebuah pertemanan.
Setelah Agung benar-benar pergi, Aslan kembali masuk ke dalam ruangan sang istri, saat itu pula tepat dengan suara adzan magrib yang berkumandang.
Iwan dan Yuli pamit ke masjid untuk shalat lebih dulu, nanti bergantian dengan Aslan. Jadi Kiran tidak ditinggal sendirian.
Kini, tinggalah keluarga kecil ini di dalam kamar. Aydan sedang tertidur dalam boxs bayi. Sedangkan Aslan duduk di pinggir ranjang dan menggenggam tangan Kiran yang sedang berbaring.
"Kenapa tadi lama sekali? apa yang Mas bicarakan dengan Agung?" tanya Kiran pernasaran, ia menelisik wajah sang suami yang malah senyum-senyum sendiri.
"Tidak ada apa-apa sayang, hanya mengingat sedikit masa lalu," terang Aslan, tangannya yang lain merapikan hijab yang dikenakan oleh sang istri.
Mendegar itu, Kiran tak memberikan respon apa-apa. Cukup tahu saja, jika kini mungkin suaminya dan sahabatnya itu sudah saling tahu satu sama lain.
"Mas David dan Mas Raffi kemana? kalian sudah tidak saling berhubungan?" tanya Aslan, David dan Raffi adalah genk Agung dulu, termasuk orang-orang yang disebut penjaga Kiran.
"Tidak, David dan Raffi dulu berebut cintaku, mereka di usir Agung menjauh," jawab Kiran jujur namun membuatnya jadi sebuah lelucon. Bergaya sok cantik didepan sang suami.
Mendengar itu, Aslan menarik hidung Kiran, gemas.
"Aku percaya," jawab Aslan apa adanya. Wajar saja jika kedua orang itu benar-benar menyukai Kiran. Sejak dulu, Kiran memang selalu cantik.
"Tapi sayangnya, akulah yang paling beruntung diantara mereka, kini aku yang jadi suamimu," terang Aslan kemudian, dan Kiran tersenyum.
"Aku yang lebih beruntung, karena akhirnya menjadi istri Mas," jawab Kiran seraya menggenggam tangan suaminya lebih erat.
Sesat, keduanya hanya saling tatap dengan senyum yang terukir di bibir keduanya. Hingga akhirnya Kiran mengucapkan satu kata, yang membuat Aslan geleng-geleng kepala.
"Cium."
__ADS_1