
Hari berlalu, saat ini tepat satu bulan Widya dan Agung menikah. Setiap hari mereka selalu memadu kasih, tak pernah absen walau sekalipun.
Sehabis shalat subuh, Widya langsung mengambil tast pack yang sudah ia beli didalam tas.
Widya hendak memeriksa apakah ia hamil atau tidak.
Sementara Agung menunggu, duduk disisi ranjang.
"Bagaimana kalau aku tidak hamil Mas?" tanya Widya, cemas dan gugup jadi satu. Ia bahkan berulang kali menghembuskan napasnya berat.
"Kita sudah pernah bersepakat tentang ini sayang, anak adalah titipan Allah. Jadi serahkan semuanya kepada Allah. Jangan berkecil hati apalagi sampai menyalahkan diri sendiri," jawab Agung, ia bahkan menggenggam kedua tangan sang istri, lalu menciumnya dengan sayang.
Widya tak mampu berkata-kata, hanya mengangggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bismilah," ucap Widya kemudian lalu diikuti pula oleh Agung.
Dengan perasaannya yang tidak menentu, Widya mulai masuk ke dalam kamar mandi. Menutup pintu itu secara perlahan.
"Ya Allah, hamba mohon," pinta Widya dengan sangat.
Ia pun segera menggunakan taspack itu, menggerak-geraknya cepat, berharap hasilnya bisa segera keluar.
Dan hasilnya mincul, Widya hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah.
Lalu keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri sang suami.
"Bagaimana?" tanya Agung, namun Widya hanya bergeming. Tangan kanannya terulur untuk memberikan testpack yang ia gunakam tadi pada sang suami.
Melihat itu, kedua mata Agung membola. Ia bingung ini apa hasilnya.
"Apa artinya ini sayang? aku tidak tahu," jujur Agung, ia bahkan menggangkat testpack itu dan kembali menunjukkan hasilnya pada sang istru.
Kecil, Widya tersenyum.
"Itu artinya aku hamil Mas, dua garis merah," terang Widya kemudian dan Agung tersentak, seperti tersengat.
"Benarkah?" tanya Agung sekali lagi dan Widya mengangguk.
Seketika, kamar itu penuh dengan suara Agung yang berteriak penuh syukur. Ia bahkan langsung menggendong sang istri dan menciuminya berulang kali.
"Mas, geli!" pekik Widya saat Agung terus menyerang wajahnya dengan kecupan-kecupan kecil.
"Masya Allah sayang, aku bahagia sekali," jawab Agung kemudian, ia masih menggendong masih istrinya itu sementara Widya menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.
"Kualitas Aju memang tidak bisa diragukan," goda Widya, seraya mengigit bibir bawahnya menahan tawa.
__ADS_1
Namun tak menjawab apapun, Agung langsung menyerang bibir istrinya itu. Menyesap dan melumaatnya dalam.
Sesaat keduanya hanyut dalam ciuman hangat itu, dan terhenti saat Widya mendorong dada sang suami.
"Kenapa?" tanya Agung dengan kedua mata yang mulai berkabut, diselimuti gairah yang mulai memuncak.
"Kata Kiran pelan-pelan," jawab Widya pula dengan napasnya yang terengeh.
"Oke, i will drive you slowly baby," balas Agung kemudian, lalu membaringkan sang istri diatas ranjang.
Subuh itu, keduanya kembali menyatu dengan begitu lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara disebelah rumah Agung dan Widya, subuh itu Aslan sibuk memijat sang istri yang masuk angin.
Tak biasa menggunakan baju tipis, kini Kiran jadi sering masuk angin.
"Kan semalam sudah ku bilang Ran, jangan pakai baju ini. Tapi kamu tidak mau dengar," jelas Aslan apa adanya.
Tak lama setelah masuk kamar, Kiran menggantu bajunya dengan lingeri. Bukan untuk melayani sang suami, namun karena ia merasa kegerahan.
Melihat itupun Aslan ikut gerah pula, namun Kiran enggan untuk disentuh lebih dalam. Hanya mengizinkan suaminya itu untuk memeluk.
"Kan sudah ku bilang Mas, aku panas," jawab Kiran jujur.
"Nanti Mas yang kedinginan," balas Kiran cepat.
"Aku bisa memelukmu kalau kedinginan, ya kan?" timpal Aslan tak kalah cepat.
"Tapi kalau Mas peluk aku, aku jadi kegerahan."
Hening, tak ada lagi perdebatan. Solah kukuh dengan pendiriannya masing-masing. Hingga tak berselang lama kemudian, Kiran kembali buka suara.
"Ya sudah, nanti malam begitu." Kiran menyerah, cukup lama berpikir ia merasa jika ucapan suaminya itu ada benarnya juga.
Jika dia jadi sakit begini kasihan juga dengan bayi yang ada diperutnya dan juga Aydan.
Mendengar sang istri yang menyerah, Aslan tersenyum, seraya terus membalur tubuh sang istri menggunakan minyak kayu putih, hingga sesekali Kiran dibuatnya bersendawa.
Hari itu, Kiran memutuskan untuk tidak pergi ke toko. Tidak pula main ke rumah Widya. Ia hanya berdiam diri di rumah, bermain bersama Aydan dan menghabiskan waktu bersama kedua mertuanya.
"Ran, mau ikut Abi nggak? liat ikan di kolam pak Amir, ajak Aydan juga," ajak Iwan, seraya bersiap-siap pergi.
Kiran menggeleng, tidak tertarik.
__ADS_1
Padahal melihat ikan adalah hal yang seru bagi Iwan.
"Ya sudah, Abi pergi sendiri."
Setelah mengatakan itu, Iwan berlalu, meninggalkan Kiran, Aydan dan juga Desi di ruang tengah.
"Umi kemana sih Mbak?" tanya Kiran pada Desi, sehabis membereskan makan siang tadi, Yuli menghilang entah kemana.
"Kalai siang begini, ibu tidur Mbak," jawab Desi apa adanya, seperti sebuah jadwal, Yuli selalu tidur siang setiap hari.
"Aydan tidak mau tidur Nak?" kini Kiran bertanya pada sang anak, yang jam tidur siangnya makin berkurang. Aydan selalu saja main, main dan main.
"Tadi pagi Aydan tidak tidur, mungkin sebentar lagi Aydan juga tidur Bu." Desi yang menjawab.
Dan Kiran mengangguk-anggukkan kepalanya.
Siang itu, Aydan memainkan lego, menyusunnya tinggi lalu dihancurkan lagi, seperti itu terus diulang-ulang sampai akhirnya Aydan mengantuk.
"Biar Aydan tidur dengan saya saja mbak," ucap Kiran saat kedua mata sang anak mulai sayu.
"Biar saya yang buatkan susu mbak," timpal Desi kemudian.
Lalu keduanya naik ke lantai dua, menuju kamar Aydan.
Tak butuh waktu lama, kini Aydan sudah terlelap.
Dikamar itu ada dua kasur besar yang terpisah. Satu untuk kasur Desi dan satunya lagi untuk Kiran jika ia tidur di kamar ini. Sementara Aydan masih menggunakan boxs bayi.
Namun siang ini, Aydan tidur disebelah sang ibu.
Kiran, terus memandangi wajah Aydan yang telelap. Nampak begitu tenang. Jika Aydan sedang terlelap seperti ini.
Mendadak Kiran jadi merasa bersalah sendiri, teringat saat tadi pagi ia memarahi sang anak. Aydan tidak mau makan nasi, dan terus makan kerupuk.
"Maafkan ibu ya sayang," ucap Kiran lirih, tak ingin mengganggu Aydan dan Desi yang sedang tertidur.
Lalu Kiran menciumi wajah sang anak dengan perlahan.
"Ibu sangat menyayangimu," ucapnya lagi.
Kiran mulai merebahkan kepalanya di atas bantal, tidur miring dan terus memperhatikan Aydan, hingga lambat laun iapun ikut terlelap juga.
Tanpa sadar, hingga waktu ashar Kiran masih terlelap.
Desi yang bangun lebih dulu tak ingin mengganggu majikannya itu, lalu dengan perlahan, Desi keluar dari sana. Menutup pintu dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Lalu tak berselang lama, Aslan masuk.