Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 167 - SAH!


__ADS_3

Libur sekolah tiba dan hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang pun akhirnya datang juga.


Hari ini, adalah hari dimana Altar akan menikahi Alana.


Tak banyak tamu yang datang, hanya dihadiri oleh keluarga dan beberapa tetangga sebagai saksi.


Bahkan kelima teman Altar pun tidak diundang dalam acara sakral ini.


“Masya Allah Al, kamu cantik sekali,” celoteh Sisil yang merasa gemas sendiri, ingin sekali ia terus memeluk muka Alana itu. Muka yang terlihat sangat cantik dengan riasan tipis.


Menggunakan gaun pengantin sederhana, Alana duduk di kursi meja riasnya. Menunggu ia akan dipanggil dan keluar menghadiri ijab kabulnya bersama Altar.


Sedari subuh tadi, Alana terus merasa gugup. Ia bahkan sampai tak berselera makan dan minum.


Pintu kamar terbuka, dan masuklah ibu Kiran dan ibu Wid ke dalam kamar sana.


Alana tersenyum, menyambut kedua ibu yang sangat disayanginya itu.


“Masya allah Alana, kamu cantik sekali sayang.” Widya, mengelus salah satu bahu Alana dengan sayang. Sumpah demi apapun, hari ini Widya sangat bahagia, ia bisa menyaksikan secara langsung anak-anaknya yang akan menikah.


Alana dan Altar.


“Tentu saja cantik, anak siapa dulu?” tanya Kiran dengan senyum bangganya.


“Anak ayah Aslan,” jawab semua orang kompak, Alana, Sisil dan Widya sekaligus.


Saat itu juga ketiga wanita ini terkekeh, sementara Kiran mencebik. Kiran memang sering sekali mengatakan jika Alana hanya anak suaminya itu, hingga membuat semua orang sampai hapal.


Melihat sang ibu mencebik, Alana langsung memeluk ibunya itu, menarik pinggang sang ibu yang sedang berdiri dan memeluknya erat.


“Ingat ya, hari ini jangan ada yang menangis. Hari ini kita semua harus tersenyum,” ucap Kiran pada semua orang, terutama sang anak yang sangat cengeng ini.


“Inysa Allah ya Bu, sekarang saja aku sudah ingin menangis,” jawab Alana jujur, memeluk erat ibunya seperti ini, Alana sudah merasa haru. Seolah ini adalah pelukkan perpisahan.


Plak!


Kiran memukul punggung sang anak pelan, hingga Alana mendongak dan menatap sang ibu dengan wajahnya yang cemberut.


“Menangis lah, dan jadi zombie di acara pernikahanmu sendiri,” balas Kiran ketus dan Alana mencebikkan bibirnya. Alana sadar, jika ia menangis malah akan merusak riasan diwajahnya.


“Sudah,sudah, kalian ini berdebat terus,” Widya menengahi,

__ADS_1


lalu memeluk keduanya erat.


Kiran lalu menarik sisil pula, hingga semua orang saling memeluk.


Menyalurkan kebahagiaan yang sedang mereka semua rasakan.


Setelah itu, Kiran dan Widya keluar dari dalam kamar. Kembali meninggalkan Alana dan Sisil di kamar itu.


Acaranya akan segera dimulai, dan Kiran berserta Widya sedang menyambut para tamu undangan.


Tak lama setelahnya, suasana yang tadinya riuh berubah jadi sepi dan hanya terdengar suara pemandu acara pernikahan itu.


Seketika Alana tersentak, merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia bahkan meremat kedua tangannya yang sudah lembab oleh keringat dingin.


“hii! Aku sudah tidak sabar,” ucap Sisil yang makin membuat Alana gugup.


“Al, setelah kamu menikah nanti jangan lupakan aku ya, jika Altar memintamu untuk menjauhiku jangan mau,” ucap Sisil lagi, mengungkapkan apa yang ia cemaskan. Sadar selama ini perlakuannya pada Altar tak baik, Sisil takut Altar akan memisahkan dirinya dari Alana.


Namun mendengar ucapan Sisil itu, Alana malah terkekeh.


“Lebay!” sahutnya kemudian.


“Awas saja kalau kamu sampai berubah,” ancam Sisil pula.


“Sayang, ayo kita keluar,” ajak Kiran setelah ia masuk dan berdiri tepat dihadapan sang anak.


“Apa sekarang saatnya bu?” tanya Alana dan Kiran menganggukkan kepalanya.


Ya, sesaat lagi acara ijab kabul nya akan segera


dimulai, karena itulah ia memanggil Alana untuk keluar.


“Bu, aku gugup, takut,” rengek Alana dengan wajahnya yang memelas.


“Kamu mau menikah tidak? Apa Sisil yang akan menggantikan kamu?”


Sisil terkekeh dan Alana langsung mencebik, ibunya ini memang sangat menyebalkan. Kenapa tidak ayah saja yang menjemput, batin Alana, kesal.


“Ya sudah, aku tidak gugup lagi, ayo,” ajak Alana akhirnya, hingga membuat Kiran dan Sisil sama-sama mengukir senyum.


Dengan langkahnya yang pelan-pelan, Alana keluar dari dalam kamar itu didampingi oleh sang ibu dan sang sahabat dikedua sisinya, kiri dan kanan.

__ADS_1


Sampai di ruang keluarga, kedatangannya langsung menjadi pusat perhatian.


Hari ini Alana nampak berbeda, sangat cantik dengan riasan tipis yang ia gunakan itu. Rambutnya disanggul rapi dan menggunakan gaun yang bahunya sedikit terbuka.


Altar yang melihatnya pun jadi terpana.


Seketika Altar kehilangan semua kata-kata yang sedari tadi ia hapalkan.


Perlahan, Alana mendatangi meja ijab kabul dan duduk disebelah sang calon suami.


Altar, masih juga belum memutus tatapannya. Gemas, Widya pun sampai harus mencubit lengan anaknya itu agar tersadar dari lamunan.


Altar tersentak, dan semua orang yang melihatnya hanya mampu mengulum senyum, menahan agar tidak tergelak.


Pengantin kecil ini, bagi mereka semua sangat lucu dan menggemaskan.


“Nak Altar, apa kamu sudah siap?” tanya pak penghulu, pada pengantin kecil pria ini.


“Siap Pak,” jawab Altar mencoba tak gentar, meskipun ia gugup bukan main.


“Nak Alana, apa kamu sudah siap?”


Alana mengangguk kecil, “Siap Pak,” jawabnya kemudian, lirih.


Dan setelah itu, dimulailah ijab kabul yang ditunggu-tunggu.


Sebelum mengucapkannya secara langsung, pak penghulu itu lebih dulu memberi pengarahan kepada Altar, meminta Altar untuk mengulanginya beberapa kali kalimat ijab kabul hingga Altar benar-benar hapal.


Dan dirasa sudah cukup, pak penghulu pun memulai pernikahan itu.


“Saudara Muhammad Altar Bin Muhammad Agung saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alana Putri Binti Aslan Basir dengan mas kawin `emas 20 gram, tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Alana Putri binti Aslan Basir dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”


“Sah?”


SAH!!


ALHAMDULILAH!!


Semua orang mengucap syukur, setelah ikut merasa gugup saat mendengarkan Altar mengucapkan ijab kabul. Takut anak laki-laki itu salah dalam pelafalannya. Namun alhamdulilah, Altar bisa mengucapkannya dengan lancar dan dalam satu tarikan nafas.

__ADS_1


Mendengar kata Sah itu, Altar pun menghembuskan napasnya lega, seolah beban hidupnya telah menghilang semua.


Lain halnya dengan Alana yang jantungnya malah semakin berdetak kencang.


__ADS_2