Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 75


__ADS_3

Karena memutuskan untuk tidak kembali pulang. Akhirnya Yuli meminta Aslan dan Kiran membuat kamar yang terpisah untuk baby Aydan.


Yuli benar-benar ingin merawat cucunya itu dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga.


Aslan dan Kiran tidak menolak, membahagiakan orang tua juga termasuk ibadah.


"Tapi inget Lan, Kiran harus KB dulu. Jangan langsung punya anak lagi. Tunggulah Aydan cukup umur, minimal 2 tahun."


"Iya Umi," jawab Aslan patuh, seraya menidurkan baby Aydan di dalam boxs bayi yang sudah dipindah di kamar baru. Kini Desi yang menjadi babysisternya.


Saat baby Aydan tidur siang, mereka memutuskan untuk beristirahat pula di kamar. Cukup lelah memindahkan beberapa barang milik Aydan.


Sampai di kamar, Aslan memutuskan untuk mandi lagi, sementara Kiran hanya membasuh wajahnya. Setelah dirasa bersih, keduanya shalat dzuhur berjamaah.


Aslan membaca surat al-fatihah dengan begitu indah, dan Kiran mengamini.


Lalu diakhiri dengan dua kalimat salam.


Keduanya memanjatkan doa, mengucapkan syukur tak putus-putus atas semua nikmat yang sudah diberi, kesehatan, anak, keluarga dan harta.


Aslan berbalik kebelakang dan melihat senyum sang istri yang menyambutnya, Kiran lalu mengulurkan tangannya dan mencium punggung


tangan sang suami takzim.


“Ran, apa kamu ingin kembali bekerja?’ tanya Aslan, mereka masih sama-sama duduk diatas sajadah.


Mendengar itu, Kiran mengerutkan dahinya, namun ada perasaan bahagia didalam hati. Sebagai mantan seorang wanita karier tentu ia


ingin kembali lagi bekerja jika diperbolehkan, terlebih, saat syukuran Aydan lalu Agung sempat menawarkan akan hal itu. Maukah Kiran kembali bekerja di Showroom?


“Kenapa Mas tanya itu?’ tanya Kiran menyelidik,


menatap intens pada sang suami.


“Aku takut kamu bosan, apalagi Umi sepertinya begitu ingin merawat Aydan,” jelas Aslan apa adanya, sesuai yang ada di benak dan hatinya.


Apalagi Aslan pun tak bisa selalu ada di rumah, bahkan setiap sebulan sekali bisa-bisa ia akan bekerja di luar kota.


Aslan hanya tak ingin Kiran merasa bosan dan


kesepian.


“Apa benar aku boleh kembali bekerja? Di Showroom?”


Aslan mengangguk.


Dan senyum kiran langsung merekah, melihat itu, Aslan pun ikut tersenyum pula.


“Kemarin Agung bilang, katanya ibu Widya meminta aku untuk kembali kerja disana.” Cerita Kiran jujur.

__ADS_1


“Aku tahu, sebelum mengatakannya padamu, Mas Agung lebih dulu menceritakannya padaku," jawab Aslan dengan mengulum senyum, ia jadi terkekeh saat melihat wajah Kiran yang lngsung beurbah murung dan mencebik.


Kiran kesal, kenapa kini Agung dan Aslan malah


benar-benar menjadi teman, bahkan sebelum dia tahu, kedua pria itu lebih dulu tahu.


“Besok temuilah ibu Widya dan katakan kamu menerima tawarannya,” Jels Aslan sungguh-sungguh.


Saking bahagianya, Kiran mendekat dan mengikis


jarak. Memeluk suminya erat-erat, bahkan tak segan Kiran mencium sekilah bibir Aslan.


“Terima kasih Mas,” balas Kiran seraya


menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.


Dan Aslan membalas tak kalah erat pelukan istriny itu.


“Tapi kamu harus tau prioritasmu, keluarga yang


pertama.”


“Iya sayang.” Jawab Kiran cepat, ia mendongak dan mencium lagi bibir suaminya, lalu kembali bersembunyi di dada bidang Aslan.


“Walaupun di kantor, tetap shalat dzuhur.”


“Aku hanya mengizinkanmu berteman dengan pria yang bernama mas Agung selain itu aku tidak izinkan.”


“iya sayangku, Cintaku.” Kiran kembali mencium bibir sang sumi sekilas, namun kini saat ia hendak mengakhiri, Aslan lebih dulu menahan tegkuknya.


Menahan kepala sang istri dan memperdalam ciuman mereka. Aslan bahkan menelusupkan lidahnya masuk, menembus kedua bibir lembut


sang istri.


Kiran yang tak siap pun akhirnya terjungkal, hingga berakhir keduanya saling menindih diatas kerpet tebal itu.


“Tapi izinku ini tidak gratis, bayar dengan


pelayananmu malam ini.” Ucap Aslan vulgard.


Dan Kiran terkekeh, tapi meski begitu ia segera


melepas mukenahnya dan menarik sang sumi keatas ranjang.


“I will drive you crazy baby,” ucap Kiran menggoda.


Dan Aslan tertawa terbahak.


Malam itu, sebelum memeluai penyautuan. Mereka

__ADS_1


saling menggoda. Mengucapkan beberapa kata vulgard yang selama ini tidak pernah


mereka ucapkan, dan ternyata itu sangat menyenangkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya.


Aslan mengatakan perihal Kiran yang akan kembali bekerja pada Iwan dan yuli, kedua orang tuanya tak melarang. Lagipula, mereka yakin


jika keputusan itu sudah dipikirkan matang-matang oleh Aslan dan Kiran.


Iwan dan Yuli sudah sepakat, jika mereka tidak akan mencampuri biduk rumah tangga


anaknya, mereka akan selalu mendukung.


Pagi ini pun Aslan sudah mulai bekerja, ia tak bisa


mengatarkan Kiran ke Showroom.


“Tidak apa-apa Mas, akukan bisa naik taksi,” ucap


Kiran, kini Kiran memang sudah tak memiliki mobil. Mobilnya yang dulu sudah dijual oleh Fahmi, sebelum mereka pindah ke Malaysia.


“Ambilah mobil yang kamu suka di showroom, nanti


siang saat istirahat aku akan kesana dan membayarnya,” jelas Aslan seraya mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang, andaikan ia belum terlambat pasti Aslan akan mengantarsang istri lebih dulu.


Kiran mencebik, “Uang darimana?” tanyanya meledek.


Dan Aslan terkekeh.


“Kamu belum tahu semua kekayaanku kan? Kalau ku kasih tahu, pasti kamu semakin cinta.” Kelakar Aslan dengan tertawa, tawa yang membuat Yuli akhirya keluar. Menemui kedua anaknya ini yang masih berada di halaman rumah.


“Heis, bukannya cepat pergi malah masih disini, ini


sudah hampir jam 8 Lan.” Yuli mengingatkan.


Seketika itu juga tawa Aslan mereda.


“Iya Umi,” jawab Aslan patuh.


“Aku serius, nanti siang aku akan menemuimu disana.” Ucap Aslan lalu mencium kening sang istri sekilas.


Kiran mengangguk dan mencubit gemas perut sang suami, akhirnya mereka berpisah.


“Ran, tunggu taksinya di dalam rumah saja.”


“Iya Umi.”

__ADS_1


__ADS_2