Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 61


__ADS_3

Tersipu malu Kiran dipuji seperti itu, berulang kali ia menggigit bibir bawahnya kuat. Wajahnya memanas, Kiran yakin kini kedua pipinya sudah begitu merah.


Melihat gelagat sang istri, Aslan merasa lucu sendiri. Ia lalu mendekat dan memeluk Kiran erat.


"Terima kasih," ucap Aslan tepat ditelinga Kiran.


Kiran merinding, ia meremat kuat jas yang suaminya kenakan.


"Terima kasih, karena kamu sudah memutuskan untuk mengenakan hijab," ucap Aslan lagi dan Kiran tersenyum didalam dekapan itu.


Sebagian alasannya mengenakan hijab memang karena sang suami, tapi sebagiannya lagi memang demi dirinya sendiri. Dulu, tiap kali merasa sepi, Kiran selalu menggunakan mukenah dan menghadap sang pencipta, sekedar membaca Al-Qur'an atau berzikir, jika waktu shalat belum tiba.


Anehnya, hati yang begitu gundah bisa berubah jadi begitu tenang.


Merasa begitu dekat dengan Dzat yang Maha Esa.


Karena itulah, akhirnya Kiran memutuskan menggunakan hijab. Hijab yang membuatnya menutup seluruh aurat, layaknya mukenah yang selalu ia kenakan ketika beribadah.


Perlahan, Aslan melerai pelukannya itu, menatap lekat netra sang istri. Mata yang selalu membuatnya tenggelam.


"Aku juga punya sesuatu untukmu," ucap Aslan dengan senyum yang menghiasai kedua sudut bibirnya.


Kiran mengeryit, penasaran sekaligus curiga.


Ia menurut saat Aslan menarik tangannya untuk melangkah bersama menuju kamar.


Dan disinilah kini sepasang suami istri ini berada, duduk di sofa kamar mereka.

__ADS_1


"Pejamkan matamu," titah Aslan mencurigakan, tapi Kiran tetap menurut, benar-benar ingin segera tahu apa yang akan suaminya berikan.


"Bukalah," ucap Aslan setelah semuanya siap.


Perlahan, Kiran membuka matanya. Menatap tidak percaya atas apa dilihat.


"Mas," panggil Kiran lirih, nyaris menangis. Benar-benar tak percaya, Aslan memberikan kejutan seberharga ini.


Kalung berlian yang persis seperti milik almarhumah ibunya dulu.


Terpaku dan terpana Kiran di buatnya.


"Ini terlalu mahal Mas," ucap Kiran lagi, ia menggeleng pelan seraya menutup kotak perhiasan diatas meja itu.


Aslan tersenyum, lalu menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya, memberikan kecupan singkat di bibir Kiran.


Sebelumnya, Aslan sudah bertukar kabar dengan Tika, tentang hadiah yang kira-kira begitu Kiran inginkan. Tanpa pikir panjang, Tika langsung mengatakan tentang kalung itu.


"Terima kasih Mas," jawab Kiran akhirnya, lalu menghambur memeluk tubuh sang suami erat.


Lama mereka berpelukan, hingga Kiran merasa tangan sang suami yang mulai nakal. Merayap, mengelus kedua pahanya secara bergantian.


Hadiah ini tidak gratis.


"Tapi pelan-pelan ya?" ucap Kiran yang tahu kemana arah selanjutnya keinginan sang suami.


Tersenyum, ternyata Kiran begitu peka, pikir Aslan.

__ADS_1


Tanpa mengulur waktu lagi, Aslan langsung mengikis jarak. Menciumi seluruh wajah sang istri dan bermuara di bibir ranum itu.


Mendesah, Kiran tak kuasa menahan. Serangan sang suami tak hanya memenuhi mulutnya. Namun seluruh tubuhnya pun sudah dijamahi.


Yang tadinya begitu tertutup, kini sudah nyaris tak bertutup.


"Mas," desah Kiran, ia berbaring diatas sofa itu, sementara sang suami sudah turun ke bawah. Memainkan lidahnya dibawah sana dengan begitu lincah.


Bahkan Kiran sampai mengangkat pinggulnya, tak kuasa menahan rasa yang menuntut, ingin lebih dari itu.


Tahu keinginan sang istri, Akhirnya Aslan pun melabuhkan penyatuan. Dihentaknya dengan lembut, hingga ia begitu tenggelam, sesak namun sangat nyaman.


"Apa sakit?" tanya Aslan ingin memastikan, ia tak ingin hasratnya ini sampai menyakiti sang istri, apalagi sang anak di dalam sana.


"Ti-tidak Mas," lenguh Kiran dengan mata yang terpejam.


Sesuai permintaan sang istri tadi, Aslan bermain dengan pelan. Mengungkung Kiran tanpa menindih, menyesapi pucuk yang menegang hebat.


Kiran hanya mampu menggeliat, makin membusungkan dadanya mendekat.


"Ahh," kata Kiran tak bisa ditahan, sekuat apapun ia menggigit lengannya sendiri, namun suara itu tetap lolos juga.


Lama keduanya berpaut, hingga terdengar desahan panjang menggema, barulah decitan sofa mereda.


Menyisahkan napas yang memburu.


Masih menyatu, keduanya saling pandang, lalu sama-sama terkekeh. Percintaan hebat setelah lama berpisah. Keduanya ingin melakukannya lagi, lagi dan lagi.

__ADS_1


__ADS_2