
Pagi ini, rumah Iwan nampak sibuk. Nanti malam akan digelar acara syukuran lahirnya Aydan sekaligus akikah di rumah ini.
Pagi-pagi sekali, beberapa orang yang dibayar untuk memasak datang kesini.
Sementara Kiran dan Aslan hanya ditugaskan untuk menjaga Aydan didalam kamar. Semuanya sudah dikendalikan oleh Yuli dan Iwan.
"Ran, kata Umi sebaiknya ASImu di pompa juga, biar sewaktu-waktu umi juga bisa menggantikanmu menyusui Aydan, apalagi saat aku mulai masuk kerja lagi nanti," ucap Aslan, ia duduk disisi ranjang, memperhatikan istrinya yang baru saja selesai mandi.
Hanya menggunakan handuk yang meliliti tubuhnya.
"Iya Mas," jawab Kiran patuh, ia menoleh sekilas lalu kembali mencari handuk kecil didalam lemari, untuk mengeringkan rambutnya secara manual. Tak ingin menggunakan hairdryer yang membuat suara-suara brisik, bisa membangunkan Aydan.
"Cari apa sih?" tanya Aslan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Kiran, lama melihat istrinya tak segera menggunakan baju membuat ia merasa gerah.
"Handuk kecil Mas, untuk mengeringkan rambut. Seingatku disini," jawab Kiran seraya menunjuk tempat pencariannya didalam lemari.
"Bukan disitu Ran, tapi disini," timpal Aslan seraya membuka laci lemari di bagian paling bawah, lalu ia mengambil 1 handuk kecil dari sana.
"Sini, biar aku yang keringkan," ucap Aslan lagi, seraya menarik sang istri untuk duduk disisi ranjang.
Kiran menurut, dengan senyum dibibirnya..
Pelan-pelan, Aslan mulai mengeringkan rambut sang istri. Meski dengan susah payah karena menahan hasrat. Tubuh lembab Kiran membuat ia meronta-ronta.
"Mas, punggungku gatal," ucap Kiran tiba-tiba, meminta di garukan karena tangannya tak sampai.
"Disini?" tanya Aslan seraya menyentuh bagian punggung Kiran yang masih tertutup handuk.
"Iya sayang," jawab Kiran singkat, memang disitulah tempat yang gatal.
"Yah Mas, tidak terasa," keluh Kiran. Dengan sendirinya ia membuka lilitan handuk itu, lalu menurunkan bagian belakangnya dan menahan yang didepan.
Seketika itu juga mata Aslan membola, punggung putih mulus itu terbuka nyata. Bahkan bulatan dada Kiranpun nampak sedikit.
Ya Allah, cobaan apalagi ini? batin Aslan berteriak.
Ingin sekali tangannya merayap hingga sampai ke depan sana. Lalu memilin pucuknya.
"Aduh Mas," keluh Kiran saat kedua tangan sang suami sudah bersarang didadanya, bukannya menggaruk, tangan Aslan malah meremasi dadanya.
__ADS_1
"Astagfirulahalazim, maaf sayang," jawab Aslan spontan dan langsung menarik tangannya menjauh.
Kiran terkekeh, merasa lucu sampai-sampai ia melupakan rasa gatalnya di punggungnya.
"Kenapa minta maaf, aku tadi hanya terkejut, harusnya kalau mau Mas bilang saja," ucap Kiran, ia menatap kedua mata sang suami penuh dengan cinta. Jujur saja, ia pun juga menunggu-nunggu masa nifas ini selesai, 33 hari lagi.
Semalam, Kiran juga mencari-cari diinternet tentang cara memuaskan suami di masa nifas. Ternyata berhubungan intim malah dianjurkan, meski tanpa penyatuan. Selain memuaskam sang suami, hubungan intim juga dipercaya merubah mood ibu menyusui jadi lebih baik, hingga dapat melancarkan produksi Asi.
Kiran menggeser tubuhnya, mendekati sang suami. Dengan kedua tangan yang masih menahan handuk itu Kiran mengikis jarak, manjangkau bibir sang suami dan menciumnya dalam.
Ia cukup tahu, bagaimana sang suami menahan selama ini. Dan kini ia ingin membantu menuntaskannya meski tanpa penyatuan.
Aslan membuka mulutnya, menyambut kedatangan sang istri. Ia membalas ciuman itu dengan begitu kasar, seolah sudah kehausan.
Aslan bahkan melepas genggaman tangan Kiran hingga handuk itu jatuh begitu saja diatas pangkuan sang istri.
Sesaat, ia melepas pagutan mereka lalu menatap lekat kedua pucuk itu. Terlihat lebih hitam dan membesar.
"Jangan dihisap, nanti Asinya keluar," Kiran mengingatkan.
Dengan tersenyum, Aslan kembali melumaat bibir sang istri, turun dan menyesapi leher jenjang Kiran. Bahkan ia meninggalkan beberapa bekas yang sudah lama tak buatnya.
Tapi karena Kiran menegang mendapati perlakuan seperti itu, tiba-tiba saja Asinya menetes.
Sontak Aslan terkejut, ia mengangkat wajahnya dan melihat sang istri yang malah menutup mata, Kiran bahkan menggigit bibir bawahnya menggoda.
Tak ingin hilang kesempatan, Aslan kembali melanjutkan aksinya. Mumpung Aydan sedang tidur, kini gilirannya untuk menikmati dada ini.
Aslan, mendorong tubuh Kiran untuk berbaring.
Kemudian mengangkat kedua tangan sang istri tinggi- tinggi diatas kepala, lalu menikmati kedua pucuk itu tanpa jeda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai menuntaskan hasratnya, Aslan keluar dari dalam kamar dengan wajah yang berseri. Ia menuju dapur untuk mengambil sarapannya dengan sang istri, pagi ini mereka akan sarapan di dalam kamar.
Sama halnya dengan Aslan, Kiran pun sama, wajahnya sampai merona-rona mengingat percintaannya mereka tadi.
Nyatanya, meski tanpa menyatu iapun merasa puas saat sang suami menumpahkan laharnya di atas perut, menggunakan bantuan tangannya.
__ADS_1
Dengan bibir terus tersenyum, Kiran mulai menggunakan baju. Menatap lekat beberapa tanda merah yang diciptakan sang suami.
Kiran sungguh bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, acara syukuran dan akikah Aydan diadakan. Malam itu, Dinda datang seorang diri karena suaminya masih berada di luar negeri. Sementara Akbar ditinggal bersama neneknya di rumah.
Dinda pun tak lama, ia hanya datang untuk mengucapkan selamat pada Kiran lalu pamit pulang.
"Din, hati-hati ya, kamu bawa mobil sendiri?" tanya Kiran, ia mengantarkan kepulangan Dinda hingga sampai di halaman.
"Iya Ran, tenang saja, aku akan hati-hati," jawab Dinda, seraya membuka kunci mobil itu menggunalan remote.
Dinda tak langsung masuk, ia kembali menoleh pada Kiran dan menatap lekat penampilan sahabatnya itu. Kiran nampak anggun dan semakin cantik menggunakan hijab itu.
Jujur saja, ia jadi ingin menggunakan hijab pula.
"Ran, bagaimana rasanya menggunakan kerudung?" tanya Dinda langsung, dan mendengar itu Kiran tersenyum lebar.
"Damai," jawab Kiran apa adanya.
"Aku juga ingin menggunakan hijab, tapi aku merasa belum pantas," ucap Dinda dengan wajah yang sendu, ia sadar betul selama ini dosanya begitu banyak.
Kiran mendekat, lalu memeluk Dinda sekilas.
"Sama, aku juga seperti itu pada awalnya. Tapi serahkan saja semuanya kepada Allah, meski belum sempurna lalukan perubahan setiap hari, selalu mendekatkan diri. Insya Allah, semuanya akan berjalan dengan baik," jawab Kiran seraya menatap lekat Dinda.
Ia pun masih dalam tahap belajar. Belajar untuk menjadi seorang muslimah yang taat agama.
Kecil, Dinda tersenyum.
"Baiklah, akan aku coba," jawabnya lalu kini ia yang memeluk Kiran erat.
Entah kenapa, kedua wanita ini benar-benar merasakan kebahahiaan di dalam hatinya masing-masing.
Kiran melambai, saat Dinda mulai memelajukan mobilnya menjauh.
Dengan bibir yang terus tersenyum, Kiran kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1