Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 156 - Satu Kelas


__ADS_3

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Sisil, menatap curiga pada sang sahabat. Alana datang dengan bibir yang mengulum senyum.


Bukan hanya Sisil, bahkan Nathan yang melihat pun merasa penasaran. Terlebih saat mereka juga melihat, Altar yang mengantar Alana sampai ke depan pintu kelas 2A.


Tak langsung menjawab, Alana malah melirik Sisil dengan senyumnya yang makin terkembang lebar.


"Hi, ngeri, ada apasih?" tutut Sisil, tak ingin melihat wajah Alana yang nampak mengerikan itu. Senyum-senyum mesum.


Dengan jujur, Alana menceritakan semua pada sahabatnya itu. Ia tak mau malu mengatakan jika kini sepertinya ia sudah menyukai Altar.


Nyatanya tidak menunggu Altar berubah jadi hangat seperti ayahnya, Alana sudah merasa kehilangan meski baru beberapa jam Altar menghilang.


Sisil yang mendengar itu terperangah, tidak percaya.


"Serius? jadi kalian sepakat untuk menerima perjodohan itu?" tanya Sisil dengan kedua netra yang membola.


"Iya Sil," jawab Alana, masih dengan senyumnya yang malu-malu.


Melihat wajah sang sahabat yang nampak kasmaran, Sisil pun mulai tersenyum pula.


Asal Alana bahagia, iapun akan bahagia pula.


Nathan yang diam-diam menguping pembicaraan mereka pun hanya mampu menahan kesal di hati.


Kemarin, teman-teman Altar pun sudah memperingatinya agar tidak berdekatan dengan Alana.


Awalnya Nathan ingin mengadukan tindakan teman-teman Altar itu pada Alana. Namun setelah mendengar semuanya, ia mengurungkan niat.


Karena nyatanya, Alana dan Altar bukan hanya sepasang kekasih, namun memang sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya.


Mau berusaha seperti apapun, Nathan yakin ia tidak akan bisa mendapatkan Alana. Dan malah akan berurusan dengan Altar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pengumuman jadwal ujian naik kelas sudah diumumkan.


Tepatnya 1 minggu lagi, semua murid SMAN Pelita kelas 1 dan kelas 2 akan mengadakan ujian selama 1 minggu penuh. Satu hari untuk dua mata pelajaran.


Para siswa berkerumun di dinding pengumuman untuk melihat mereka akan duduk dikelas mana dan di kursi berapa.


Saat ujian seperti ini, tiap kelas akan dicampur dan diacak. Bisa jadi Alana dan Altar akan berada dalam satu ruangan.


Dengan mata yang menelisik, Alana terus mengamati pengumuman itu. Beberapa lembar hvs yang ditempel berjajar berisi kelas dan nama-nama siswa.

__ADS_1


"Alana Putri," gumamnya sendiri saat melihat namanya di kelas 2C.


"Mana punyamu? mana punyaku?" tanya Sisil menggebu, ia belum menemukan namanya.


Tapi Alana bukannya mencari nama Sisil, ia malah mencari nama Muhammad Altar.


Lalu sedikit bersorak, saat ia melihat nama Altar tak jauh dari namanya. Mereka, sama-sama di kelas C.


"Yes!" cicit Alana hingga membuat Sisil menoleh padanya.


"Apa?"


"Aku sama Altar satu ruangan, di kelas C," jawab Alana riang dan Sisil malah mencebikkan bibirnya.


"Cari namaku!" kesal Sisil dan Alana terkekeh.


"Iya iya," jawab Alana kemudian dengan bibir yang masih saja tersenyum.


Ternyata Sisil akan duduk di kelas E, bersama dengan Suga dan Raffi.


Selesai berdesak-desakkan melihat pengumuman itu, Alana segera mencari dimana keberadaan Altar. Untuk apalagi jika bukan memberi tahu calon suaminya itu jika mereka akan berada dalam satu kelas saat ujian nanti.


Alana menarik tangan Sisil, agar sahabatnya itu bisa lebih cepat. Mereka menuju kantin sekolahan.


Masuk ke area kantin, Alana dan Sisil langsung melihat Altar dan teman-temannya. Terlihat menonjol dibandingkan teman-temannya yang lain.


Altar bergerombol dan saling tertawa terbahak, entah membicarakan apa.


Langkah Alana memelan, saat ia didului oleh seorang siswi untuk menemui Altar.


Siswi itu adalah Amora, adik kelas mereka yang beberapa waktu lalu bertemu saat di atap sekolah.


Amora dan kedua temannya datang menghampiri Altar, membuat langkah Alana dan Sisil memelan.


"Kak, bolehkah kami duduk disini?" tanya Amora, pada Altar. Menunjuk kursi kosong yang sudah Altar siapkan untuk Alana.


"Amora yang cantik, kursi itu untuk Alana sayang, kekasih kak Altar," Raffi yang menjawab, hingga membuat Amora merasa Malu.


"Amora duduk di sana saja ya, tuh banyak kursi kosong." Rizky menimpali, menunjuk beberapa kursi kosong disebelah kanannya, namun ia malah melihat Alana dan Sisil.


"Al, Sisil!" pekik Rizky sekaligus, lalu melambai.


Melihat kedatangan Alana dan Sisil, Amora dan kedua temannya pun perlahan menyingkir. Minggir dengan mulut yang terus menggerutu.

__ADS_1


"Mbak Alana itu munafik, padahal dulu aku jelas sekali mendengar jika dia tidak menyukai kak Altar. Tapi lihatlah sekarang, dia selalu saja mendekati kak Altar," kesal Amora, mengadu pada kedua temannya.


"Tenang saja Mora, mbak Alana itukan orangnya judes, aku yakin kak Altar juga tidak akan tahan lama-lama dekat dengannya."


Ketiga gadis itu lalu terkekeh, membenarkan ucapan itu. Mereka memang mengenal Alana sebagai kakak tingkat yang tidak ramah, judes dan sombong. Semua sifat buruk Alana ambil semua. Kelebihan Alana hanyalah wajah yang cantik dan otak yang yang pintar.


"Duduk disini," ucap Altar pada sang calon istri, saat Alana dan Sisil sudah sampai di meja mereka.


"Itu perempuan ngebet banget sih sama kamu Al, udah kamu apain dia?" tanya Sisil langsung, lalu duduk disebelah Alana.


Secepat kilat pula, Altar menyumpal mulut Sisil itu menggunakan salah satu makanan di meja.


"Sembarangan kalau bicara!" kesal Altar, lalu satu tangannya turun di bawah meja dan menggenggam satu tangan Alana erat.


Diperlakukan seperti itu, mendadak Alana membeku. Tiba-tiba ia merasa sedang menjalin hubungan terlarang, lalu takut ketahuan.


Sepanjang mereka berkumpul di kantin itu, Altar terus menggenggam erat tangan Alana. Hingga saat mereka semua hendak kembali ke kelas, barulah Altar melepasnya.


"Jadi nanti kita satu ruangan?" tanya Altar lagi, memastikan. Mereka semua berjalan bergerombol menuju kelas.


"Iya Al, kelas C," jawab Alana antusias, senyumnya lebar sekali, tidak seperti biasanya. Bahkan sebagian Siswa yang melihat senyum Alana itu sampai dibuatnya heran.


Gadis yang berwajah dingin itu rupanya bisa tersenyum riang pula.


Bahkan Altar yang sampai gemas pun mengusap pucuk kepala Alana, mengacak rambutnya.


"Ciee!" teriak semua teman-temannya, kompak.


Dua orang yang selalu berselisih, kini nampak begitu romantis. Bahkan Sisil pun sampai tersenyum-senyum sendiri.


Merasa geli, lucu ketika membayangkan Alana dan Altar terlibat dalam sebuah hubungan yang serius.


"Kalau gini sih, abis lulu SMA nggak perlu tunangan, langsung nikah," bisik Sisil pada sang sahabat. Hingga membuat Alana reflek memukul lengan Sisil dengan kuat.


Sisil gaduh kesakitan, namun Alana malah mencebik.


Pikiranmu terlalu jauh. Kesal Alana di dalam hati.


Menikah bukanlah perkara mudah, apalagi jika harus menikah diusia muda, memiliki anak dan mengurus suami.


Hii, hanya membayangkannya saja, Alana bergidik ngeri.


Ia akan menikah, setidaknya ketika sudah lulus kuliah.

__ADS_1


__ADS_2