
“Pasti kak Altar mulai menyukai aku, ya ampun senangnya!” riang Amora, pada kedua temannya. Ia bahkan sedikit bersorak kala Mengucapkan kata itu.
Kedua temannya pun ikut antusias, mereka berdua juga yakin jika kini kak Altar mulai menyukai Amora. Amora adalah siswi tercantik di angkatannya.
Jadi tidak akan susah membuat Altar jatuh cinta.
“Nanti pulang sekolah kalian duluan saja, aku akan pulang sendiri dan nanti minta kak Altar untuk mengantarku,” ucap Amora lagi, ia mulai menyusun sebuah rencana untuk bisa lebih dekat dengan sang kakak kelas kesayangan.
“Baiklah!” jawab kedua temannya kompak.
Dan saat tanda bell berbunyi. Semua siswa dan siswi sekolah mulai keluar dari kelasnya masing-masing. Alana dan Sisil masih harus ke ruang guru. Membantu guru mereka membawakan beberapa buku.
Sementara Altar dan kelima temannya sudah menunggu di parkiran.
Amora yang sudah ditinggal kedua sahabatnya pun mulai bergaya gelisah. Ia kulu kilir didekat Altar dan teman-temannya. Berharap salah satu dari keenam siwa tampan itu akan memanggil.
Lalu, menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
Namun lama menunggu, tapi Altar dan semuanya tetap asik sendiri. Bahkan terus tertawa-tawa seolah tak peduli pada keberadaanya.
Menyadari itu, Amora sungguh kesal.
Namun tak ingin rencananya berakhir sia-sia, akhirnya ia lebih dulu menyapa keenam kakak tingkat itu.
“Kak Altar,” panggil Amora, lirih. Ia bahkan memasang wajah memelasnya. Ingin mengambil simpati semua orang.
Didatangi Amora, tawa Altar dan teman-temannya pun perlahan surut, lalu menatap Amora sekaligus.
“Ada apa?” Ahmad yang menjawab, sementara Altar hanya bergeming. Ia bahkan melipat kedua tangannya didepan dada dan tidak bergerak dari posisinya, duduk di motor Suga.
“Aku ingin bicara dengan kak Altar, bukan kak Ahmad,” jawab Amora, tak peduli jika ucapannya itu tidak sopan.
Membuat Ahmad ditertawakan oleh teman-temannya.
“Nasib, nasib!” keluh Ahmad, yang ketampanan hanya rata-rata, tidak sampai menandingi Altar.
“Bicara saja, jangan banyak basa basi, Altar akan tetap mendengar ucapan mu.” Kini Suga yang bicara.
Mereka semua sebenarnya tak ada yang menyukai Amora, gadis kecil ini nampak begitu tak punya malu.
Tapi karena Amora adalah seorang wanita, mereka menahan diri agar tidak menjadikan Amora sebagai bahan bulan-bulanan.
Mendengar ucapan Suga, Amora mencebik. Ia benar-benar tak bisa memiliki waktu berdua saja dengan Altar.
Kelima temannya ini selalu saja ikut campur, pikirnya.
Amora hendak kembali berucap, namun urung kala ia melihat Altar yang malah bangkit.
“Aku duluan, Alana sudah menungguku,” ucap Altar pada semua orang, diujung sana didekat mobilnya, Alana sudah menatapnya dengan tatapan tajam.
Seketika Suga dan yang lainnya melihat kearah mobil Altar, tak memperdulikan lagi Amora di sana.
__ADS_1
“Ahaay! Bentar lagi diamuk pake kasih sayang,” ucap Billar, meledek.
Yang tergelak tak bisa ditahan.
Sedangkan Altar hanya tersenyum kecil, berharap jika rencana teman-temannya ini akan berhasil. Jika tidak, matilah dia.
“Mau pulang tidak! Lama sekali!” ketus Alana saat Altar sudah sampai didekatnya. Altar membuka kunci pintu mobil itu dan Alana langsung masuk.
Masuk dengan wajahnya yang nampak garang.
Altar merinding, merasa takut sendiri.
Hening.
Setelah keduanya masuk, suasana mendadak berubah jadi mencekam, hingga akhirnya terdengar suara mesin mobil saat Altar mulai menghidupkan mobilnya.
Pelan, Altar menelan salivanya dengan susah payah. Kembali teringat akan pesan Raffi tadi, sesaat setelah mereka selesai bermain bola basket.
Bersikaplah acuh, biarkan Alana yang menyerah lebih dulu.
Teringat pesan itu, Altar kembali memantapkan hati. ia tidak akan bertanya lebih dulu. Sebelum Alana mulai bicara.
Dan seolah tidak terjadi apa-apa, Altar langsung menjalankan mobilnya. Keluar dari area sekolah dengan wajahnya yang biasa saja.
Tidak ada raut rasa bersalah, tidak ada pula rasa ingin tahu apa yang terjadi pada istrinya itu.
Melihat Altar yang seperti itu, Alana sungguh kesal. Saking kesalnya, ia bahkan ingin berteriak keras.
Yang ia lakukan hanya satu. Memukul lengan suaminya itu dengan begitu keras. Bahkan berulang kali.
Bug!
Bugh!
“Aduh! Sakit Al!” keluh Alana, untunglah kini mobil mereka masih berhenti di persimpangan lampu merah dekat sekolah.
Jadi tak menganggu konsentrasi Altar dalam menyetir.
“Jahat! Menyebalkan! Aku benci!” umpat Alana dengan suaranya yang meninggi.
Tak peduli jika tindakannya ini termasuk dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Alana hanya ingin menyalurkan emosinya yang membuncah.
Dipukuli, Altar malah mengulum senyumnya.
Lalu menahan tangan Alana itu agar berhenti.
“Kamu kenapa? Kenapa marah-marah terus padaku?” tanya Altar, cengo. Seolah tidak tahu apa-apa.
Lagi, Alana menarik tangannya dan memukul Altar kuat.
“Jahat!” pekik Alana, ia bahkan sampai menangis kala mengucapkan satu kata itu.
__ADS_1
Melihat Altar yang sungguh tidak peka membuat ia sangat bersedih.
Dan melihat air mata Alana yang mengalir, akhirnya Altar menyerah. Ia sanggup jika disuruh acuh.
Akhirnya, Altar menarik tubuh Alana dan dipeluknya erat.
“Maaf ya, aku dipaksa Rafi untuk minum minuman Amora tadi. Tujuannya hanya satu, buat kamu cemburu.” Jujur Altar, hingga membuat Alana sedikit mendorong tubuh suaminya itu dan menatap lekat kedua netra Altar.
“Kenapa ingin membuatku cemburu?” tanya Alana diantara isak tangisnya.
“Kalau tidak cemburu, pasti kamu tidak mau ku peluk seperti ini kan? Kamu pasti akan terus menghindari aku.”
Mendengar itu, Alana tercenung. Membenarkan ucapan sang suami.
Dan saat itu juga, tiba-tiba Alana merasa bersalah. Sadar, jika yang ia lakukan memang salah.
“Maaf Mas,” lirih Alana.
Altar tersenyum, belum sempat ia kembali menjawab, lampu rambu lalu lintas didepan sana sudah berubah jadi hijau.
Akhirnya Altar hanya mengelus pucuk kepala istrinya itu dengan sayang, lalu kembali fokus mengemudi.
Selama perjalan pulang kala itu, Altar hanya menyetir menggunakan satu tangan. Sementara tangannya yang lain menggenggam erat tangan sang istri.
Alana tersenyum.
Dan Altar pun tersenyum pula.
hingga waktu berlalu dengan begitu cepat.
Dari satu hari, satu minggu, satu bulan dan satu tahun kemudian.
Hubungan Alana dan Altar selalu seperti itu, naik dan turun.
Satu jam lalu mereka bertengkar dan satu jam kemudian mereka kembali berdamai. Cinta, selalu mempersatukan mereka.
Beberapa minggu lalu mereka semua sudah melaksanakan ujian Nasional. Minggu depan, pengumuman kelulusan
Dan hari ini, adalah hari pesta perpisahan di sekolah.
Alana dan Sisil berdandan begitu cantik, untuk menghadiri prom night mereka.
Malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua siswa dan siswi. Karena prom nigth ini adalah pesta perpisahan mereka sekaligus untuk mengenang masa-masa SMA.
“Aku sudah siap!” ucap Sisil antusias, ia berdandan di rumah Alana.
Ada Sisil disini, Altar jadi mengungsi di kamar tamu.
“Aku juga!” sahut Alana tak kalah antusias.
Keduanya lalu keluar dari dalam kamar, menghampiri Altar yang sudah sedari tadi menunggu di ruang tengah.
__ADS_1