Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 184 - Kehamilan Alana


__ADS_3

Jam setengah 3 sore, Alana dan Altar sampai di rumah.


Dengan senyum yang terkembang, keduanya mulai turun dan masuk ke dalam rumah itu. Mencari-cari dimana keberadaan sang ayah saat ini.


“Ayah Agung,” panggil Alana, antusias. Namun di ruang tengah dan dapur ayahnya tak ada.


Akhirnya Altar yang bergegas memanggil ayahnya itu didalam kamar. Belum sempat mengetuk pintunya, Altar mendengar isak tangis di dalam sana.


Seketika itu juga hatinya terenyuh, mendadak sesak solah diremat kuat.


Tak ingin kesedihan semakin menyelimuti, Altar segera mengetuk pintu kamar ayahnya itu. Seraya memanggil dengan suaranya yang lantang.


“Ayah?” panggil Altar yang ketiga kali.


Cukup lama memang, namun akhirnya ayah Agung keluar juga. Keluar dengan matanya yang nampak sembab.


“Alana hamil,” ucap Altar langsung, tanpa basa basi ataupun mengajak sang ayah untuk keluar dulu. Masih sama-sama berdiri diambang pintu, Altar langsung mengatakan kabar bahagia itu.


Kabar yang sontak membuat Agung melotot.


“Hamil?” tanya Agung, seolah tidak percaya.


“Iya, Alana hamil?”


“Memangnya kamu bisa menghamili Alana?”


“Ayaahhh!!” kesal Altar, ia sudah bicara sungguh-sungguh, tapi ayahnya itu malah Bersikap menyebalkan.


Dan tanpa menanggapi kekesalan anaknya lagi, Agung segera keluar dari dalam kamarnya dan segera mencari keberadaan Alana.


Menantu kesayangannya, Alana yang bahkan sudah menjadi menantunya saat masih berada di dalam kandungan kini tengah hamil.


“Alana!” panggil Agung, saat itu ia langsung menuju dapur dan melihat Alana yang sedang membereskan beberapa makanan. Memindahkan makanan ke dalam piring.


“Ayah!” pekik Alana tak kalah riang, dengan tangannya yang kotor dengan sambal Alana berlari menghampiri ayahnya itu, lalu memeluk ayah Agung dan berputar-putar.


“Alana hamil Yah, Alana hamil.” Pekik Alana lagi, membuat Agung pening.


“Alana stop, vertigo ayah kambuh,” jawab Agung, hingga membuat Alana dan Altar yang sudah ada di sana terkekeh.


“Maaf Yah,” pinta Alana dengan senyumnya yang masih terkembang.


Siang itu, Alana tak hanya mengatakan tentang kehamilannya, tapi juga tentang mimpinya bertemu dengan ibu Wid.


Agung sungguh terharu, merasa bersyukur kini keinginan sang istri saat masih hidup dulu benar-benar terkabul.

__ADS_1


Alana hamil, cucunya.


Agung bahkan sampai menangis, saat Alana mengatakan jika ibu Widya mengatakan padanya untuk menjaga kandungan ini.


Saat itu juga, Agung mengatakan pada Alana, agar menantunya ini tidak usah melanjutkan pendidikan nya di tahun ini. Biarlah altar saja yang berkuliah.


Agung ingin Alana fokus pada kehamilannya itu.


Mendengar permintaan sang ayah, Alana pun langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Agung bahkan berjanji bahwa ia juga akan menjaga Alana dan kandungannya dengan baik.


Sebagai cara untuk mengabulkan keinginan terakhir istrinya itu.


Selesai membicarakan tentang kehamilan dan rencana pendidikan Alana Altar. Kini keluarga kecil ini mulai menyantap ayam bakar pak kumis.


Seperti dugaan Alana dan Altar, kali ini mereka berdua melihat ayah Agung yang makan dengan lahap. Seolah baru saja menemukan kembali cahaya hidupnya.


Baik Alana ataupun Altar, keduanya terus mengucapkan syukur di dalam hati. kepergian ibu widya, langsung diberi gantinya oleh Allah, diganti dengan kehadiran janin di rahim Alana.


Terima kasih ya Allah, batin Alana dan Altar.


Sorenya, sehabis mandi dan shalat ashar. Agung dan anak menantunya mendatangi rumah Aslan. Mereka langsung menyampaikan kabar ini tak ingin menunda.


Mengetahui gadis kecilnya sudah hamil, Kiran sampai menangis. Antara bahagia dan cemas sekaligus.


Saat bicara berdua dengan Alana di dapur, Kiran pun mengatakan kepada anaknya itu untuk Alana kembali pindah ke rumah ini. Kiran ingin, ia menjaga anaknya secara langsung.


Alana sadar, setelah menikah ia tak bisa lagi egois dan memikirkan dirinya sendiri. Keluarga suaminya pun harus ia pedulikan.


Tak ingin ayah Agung semakin kesepian, Alana memilih untuk tinggal di sana, selamanya.


Mendengar jawaban sang putri. Kiran pun lalu memeluk Alana erat, merasa jika kini Alana mulai tumbuh dewasa.


“ibu, sangat bangga padamu sayang,” ucap Kiran, penuh sayang. Ia bahkan berulang kali mengelu-ngelus pucuk kepala anaknya itu.


Dan Alana pun membalas pelukan sang ibu.


“Tapi, walaupun aku tetap di sana, ibu harus sering-sering melihatku,” jawab Alana dengan suara menuntut.


Mendengar itu, Kiran terkekeh. Tidak jadi bangga, Alana, tetap saja manja.


“Baiklah, jika ada apapun yang kamu inginkan, katakan pada ibu,” balas Kiran setelah pelukan mereka terlerai.


“Benar?”


“Iya.”

__ADS_1


“Tidak bohong?”


“Tidaak!” jawab Kiran ketus.


Keduanya terkekeh, bahkan tawanya sampai terdengar di ruang tengah. Dimana semua orang sudah menunggu, Alana dan Kiran keluar membawakan minum dan makanan. tapi yang ditunggu-tunggu malah asik berbincang didapur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari.


Alana dan Altar sudah berbaring di atas ranjang mereka.


Keduanya begitu antusias menyambut kehadiran sang anak. Bahkan berulang kali Altar mengelus perut rata istrinya itu dengan sayang.


“Al, bagaimana perasaanmu, disaat hamil seperti ini?” tanya altar, penasaran. Ingin tahu apa yang dirasakan oleh istrinya itu.


Sedikit was-was, jika sedikit saja Alana merasa takut. Merasa belum pantas.


“Tentu saja aku bahagia Mas, sangat bahagia,” jawab Alana jujur, itulah yang ia rasakan saat ini. Tak ada ketakutan ataupun kecemasan sedikitpun.


“Kamu tidak takut?” tanya Altar lagi, ia bahkan makin menatap dalam istrinya itu, mencari kebenaran ucapan sang istri melalui matanya.


“Tidak Mas, aku tidak takut. Kenapa? Mas pikir aku akan takut, mas kira aku akan menyesal melakukan hubungan itu kalau akhirnya aku hamil begini?” tanya Alana, beruntun, dan Altar hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa.


Karena semua yang diucapkan oleh Alana itu adalah benar.


“Percayalah Mas, aku tidak takut, tidak menyesal, aku bahkan sangat bahagia, sangat mensyukuri kehadirannya,” balas Alana, berbicara seolah kini ia benar-benar sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.


“Percayalah Al, aku akan selalu ada untukmu,” jawab Altar, sungguh-sungguh pula.


Alana tersenyum, ia percaya.


Lalu lambat laun tatapan dalam keduanya putus, digantikan dengan sebuah ciuman hangat dan begitu dalam.


Ciuman menuntut yang selalu menjadi candu bagi keduanya.


“Mas, pelan-pelan, kata dokter kandunganku masih lemah, bayi dan aku usianya masih-sama muda,” balas Alana, namun ia membuka baju tidurnya sendiri, tetap memperbolehkan sang suami menjamahi tubuhnya.


Karena Alana, iapun menginginkannya.


“Aku akan pelan-pelan sayang, aku akan menyapa anak kita dengan lembut.”


Alana terkekeh, lalu memukul dada suaminya itu yang kini sudah polos.


Malam ini, keduanya menyatu dengan begitu lembut. Bahkan Altar tak menyentaknya kuat. Sangat berbeda seperti permainan mereka selama ini. Namun permainan lembut seperti ini, justru menciptakan sensasi baru bagi mereka.

__ADS_1


Permainan lembut yang berhasil membuat Alana mendesaah lebih kuat.


__ADS_2