
g kaya gini gue demen nih. Tenang Man pokoknya lu terima beres. Cewek yang model gimana yang lu mau?" Jawab Beni.
"Lu demen yang model gimana Rav? Lu milih pertama dah. Gue sisaan lu juga ga papa dah," Jawab Dandi lagi.
"Ah, bacot lu pada. Buruan berangkat yuk," Timpal Ravka langsung beranjak berdiri dari kursinya yang langsung diikuti oleh temannya yang lain.
"Sabar Bro," Ucap Beni menyeruput habis sisa minuman di gelasnya. Kemudian bergegas beranjak menyusul teman-teman yang sudah meninggalkannya.
************
Alea bergerak malas di dalam kamar yang masih sangat asing bagi dirinya. Sudah lebih dari dua jam Ravka pergi dan belum kembali. Begitu pula dengan kedua mertuanya. Dia sempat melihat dari balkon kamar, mertuanya meninggalkan rumah tidak lama setelah Ravka.
Gadis itu maaih berada dalam kebingungan menghadapi situasi seperti sekarang. Dia baru saja menjadi seorang istri dan diboyong ke rumah sang suami. Namun, dia seolah tidak diterima di rumah itu. Ditelantarkan begitu saja sehingga membuat gadis itu tidak tahu harus berbuat apa.
Suara ketukan pintu membuat Alea tersentak, dengan segera dia beranjak dari kasur yang ditidurinya, berharap suaminya sudah kembali.
"Sudah hampir waktunya makan malam Non. Non Alea mau dibuatkan apa untuk makan malam ini?" Tanya Bi Mimah ketika Alea membuka pintu kamar, yang membuat raut wajah gadis itu seperti menelan kekecewaan.
__ADS_1
"Apa aja deh Bi," Ucap Alea seraya melemparkan senyum ramah.
"Baik Non, saya permisi dulu. Kalau sudah siap saya akan panggil Non Alea," Ucap Bi Mimah.
"Eh, tunggu dulu Bi," Panggil Alea saat Bi Mimah hendak meninggalkannya. "Boleh Al ikut ke bawah?" Tanyanya dengan keraguan menggangung di nada suaranya.
"Tentu saja Non. Ini kan sekarang rumahnya Non Alea juga. Jadi Non Alea bebas mau kemana saja," Jawab Bi Mimah.
"Saya kesepian sendiri disini Bi. Saya mau ikut nemenin Bibi nyiapin makan malam aja ya"
"Boleh Non, ayo ikut saya ke bawah. Tapi sebetulnya yang nyiapin makan malam juga bukan saya Non, ada koki profesional yang setiap harinya menyiapkan makanan di rumah ini," Ucap Bi Mimah berjalan pelan mengimbangi Alea.
"Oia nanti sekalian saya kenalkan kepada seluruh pekerja di rumah ini yah Non," Ucap Bi Mimah membuat gadia itu kembali mengernyit.
"Emang ada banyak Bi?" Tanya Alea.
"Kalau yang tinggal di rumah ini seluruhnya ada Sembilan orang termasuk saya Non. Selain itu ada dua orang supir yang datang pagi hari dan biasanya pulang pada malam hari. Terus ada empat orang satpam yang kerjanya shift-shifan," Jelas Bi Mimah.
__ADS_1
"Banyak banget yah Bi," Ucap Alea terperangah.
"Yah kan yang dilayani di rumah ini juga banyak orangnya Non. Yang tinggal di rumah ini seluruh keluarga besar Tuan Dinata Non, kakeknya Den Ravka,"
"Siapa aja Bi keluarganya Ravka?"
"Non Alea belum pernah dikenalkan dengan anggota keluarga Den Ravka?" Tanya Bi Mimah heran.
"Belom Bi," Alea menggelengkan kepala dengan senyum salah tingkah.
Banyak hal yang mengganjal bagi wanita paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga Dinata ini selama belasan tahun lamanya. Ia hanya sempat diberitahu mengenai pernikahan Ravka dengan Alea dengan sekilas. Apa dan bagaimana dia tidak diberi tahu. Karena memang yang perlu dia dan pekerja lain ketahui adalah, gadis yang berada di hadapannya ini adalah majikannya sekarang.
Namun, rasanya aneh melihat sikap orang tua Ravka terhadap menantunya itu. Mereka yang biasanya penuh kelembutan dan keramahan seolah tidak menyambut kehadiran Alea di rumah itu.
Bahkan Alea sama sekali tidak diajak untuk menghadiri pernikahan Alex. Bi Mimah sempat berfikir itu karena yang menjadi pendamping Alex adalah mantan tunangan suami gadis itu. Namun, saat mengetahui kalau gadia yang menjadi menantu si rumah mewah ini tidak mengenal siapapun dalam keluarga ini membuat Bi Mimah merasa heran. Wanita paruh baya itu berusaha menepis pikiran yang mengganggunya. Ia tidak mau berfikir terlalu jauh tentang keluarga majikannya
"Yasudah nanti Bibi akan memberitahu Non Alea siapa saja anggota keluarga Den Ravka yang tinggal di rumah ini,"
__ADS_1
"Makasih yah Bi," Ucap Alea canggung. Merasa bahwa tidak sewajarnya dia sama sekali tidak mengenal anggota keluarga suaminya. Namun, inilah kenyataan yang harus bisa ia terima. ia harua bisa belajar menerima segala sesuatu yang terjadi kepadanya dengan ikhlas dan lapang dada.