Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 112. Risau


__ADS_3

"Aisyah, kumohon berhenti dulu. Aku ingin berbicara denganmu," ucap Pria itu lirih.


"Untuk apa? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan lagi," ujar Aisyah tanpa membalikan tubuhnya.


Pria itu berjalan ke sampaing Aisyah. Di paksanya tubuh Aisyah untuk menghadap ke arahnya.


Aisyah membuang muka. Dia tidak ingin melihat wajah di hadapannya yang terlihat memelas itu. Hatinya masih sakit dengan pria itu.


"Ay, maafkan aku. Aku sangat menyesali semua perbuatanku. Jadi, ku mohon kembalilah," ucap pria itu dengan tatapan sendu.


"Kembali? Kak Riski menginginkan aku kembali?" Aisyah tersenyum kecut. Gadis itu sungguh tidak menyangka, kedatangan Riski ke kota itu untuk mengajaknya kembali.


Ya, Riski sengaja menanti Aisyah pulang kuliah. Dia ingin berbicara empat mata dengan gadis itu, menjelaskan maksudnya datang ke sana.


"Iya." Riski mengangguk mantap.


"Sungguh konyol. Sudah punya satu istri, mau istri lagi. Mantan pula yang diinginkan," ujar Aisyah merasa miris.


"Aku akan segera menceraikan Vera. Aku sudah tidak menginginkannya. Aku hanya menginginkanmu, Aisyah." Riski menggenggam erat lengan Aisyah.


Aisyah meringis kesakitan. Dia menggoyangkan tubuhnya agar Riski melepaskannya.


"Maaf," ucap Riski setelah melihat ekspresi wajah Aisyah yang kesakitan.


Aisyah memijit pelan lengannya. Gadis itu mencoba melemaskan otot yang tadi tegang akibat ulah Riski.


"Kenapa begitu? Dulu Kakak mengatakan bahwa hanya mencintai Kak Vera. Kenapa sekarang ingin menceraikannya?" tanya Aisyah tak mengerti.


"Dia telah menipuku Aisyah. Anak yang dikandungnya bukan anakku. aku sungguh kecewa padanya," jelas Riski.


Aisyah terkejut mendengar hal itu. Gadis itu tidak menyangka bahwa Vera ternyata tidak hamil dengan Riski. Aisyah mengira Vera orang yang setia, tetapi ternyata tidak.

__ADS_1


"Lalu, karena hal itu Kak Riski ingin menceraikannya? Lalu, sekarang dengan seenaknya mengatakan ingin kembali padaku?" Aisyah tersenyum simpul.


"Iya. Setelah aku bercerai dengannya, aku ingin mengajakmu kembali," jelas Riski.


Tidak tahu sekarang Aisyah harus bagaimana. Apakah harus bersedih karena Riski akan menceraikan Vera atau senang karena Riski ingin kembali padanya.


Aisyah juga wanita. Dia juga pernah mengalami perceraian yang begitu menyakitkan. Aisyah tidak ingin wanita lain mengalami hal yang sama sepertinya dahulu.


"Maaf, Kak. Aku tak bisa." Aisyah menundukan kepalanya.


"Kenapa? Apa kamu masih membenciku? Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Percayalah." Riski mencoba mengangkat wajah Aisyah, tetapi gadis itu tak mau.


"Wanita itu bukan mainan yang bisa kamu permainkan sesuka hati. Wanita juga punya hati dan hati itu seperti kaca. Apabila sudah pecah, kamu bisa menyusunnya, tetapi tak akan bisa memantulkan bayangan yang sempurna."


"Begitu pula hatiku yang telah kamu hancurkan. Tak kan mungkin lagi dapat menerima cinta seperti dulu." Aisyah menatap Riski dengan perasaan benci.


Riski menundukan kepalanya, menyadari apa yang telah dia lakukan terhadap Aisyah. Akan tetapi, dia masih tetap ingin berusaha memperbaiki semuanya. Dia yakin bahwa semua akan lebih baik dari sebelumnya.


"Maaf, aku harus pergi," pamit Aisyah memotong pembicaraan Riski.


Aisyah segera berlari ke arah halte karena bus yang dia tunngu telah datang. Gadis itu tidak berbalik untuk melihat keadaan Riski. Dia begitu saja masuk ke dalam bus.


Riski menatap kepergian Aisyah sendu. Hingga bus yang di naiki Aisyah menghilang di kejauhan. Pria itu kembali menuju moblinya. Meninggalkan tempat itu.


...****************...


Aisyah masih saja memikirkan perkataan Riski. Dia menjadi bingung sekarang. Hingga pekerjaannya tidak fokus. Dia beberapa kali memberikan pesanan pada meja yang salah.


Aisyah kembali menunggu pesanan selesai di buat. Dia duduk di tempat karyawan menunggu pesanan. Akan tetapi, pikirannya melayang, tak tahu entah kemana.


"Aisyah, dari tadi aku lihat kamu melamun terus. Sepertinya sedang galau, nih." tanya David yang memperhatikan Aisyah dari tadi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," jawab Aisyah tersenyum simpul.


"Pak Min. Tuh, karyawan Bapak ada yang lagi galauin aku," ujar David kemudian tertawa lepas.


Aisyah yang mendengar ucapa David, langsung masam wajahnya. Sungguh Aisyah tak habis pikir kenapa David terlalu percaya diri.


Salah makan apa ibunya saat hamil dia? Amin-amit, semoga aku tidak punya anak seperti dia, batin Aisyah.


"Mana mungkin karyawanku galauin kamu. Kalau kamu galauin karyawanku, itu baru mungkin. Karyawanku kan kece badai," timpal Pak Min tertawa keras.


Aisyah tak memperhatikan pembicaraan mereka lagi. Gadis itu segera mengambil pesanan yang sudah siap, lalu memberikannya pada pelanggan.


Mata David terus mengikuti apa yang Aisyah lakukan. Pria itu begitu panasaran apa yang membuat Aisyah seperti itu. Akan tetapi, sebesar apa pun usaha David untuk mengoreknya, Aisyah tetap saja diam.


"Kamu kenapa Aisyah? Sejak tadi hanya diam saja?" tanya Lina saat mengantar Aisyah pulang.


"Tidak apa-apa, Kak. Cuma ada masalah kecil saja," jawab Aisyah.


"Kamu bisa menceritakan padaku apa masalahmu. Mungkin aku bisa membantu," ucap Lina dengan senyum manisnya.


"Terima kasih atas niat baiknya," timpal Aisyah.


Keheningan terjadi hingga sampai kos Aisyah. Lina begitu merasa kasihan kepada teman kerjanya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Hingga malam menjelang, sebelum Aisyah tidur, gadis itu masih saja memikirkan perkataan Riski.


Kak Riski, kenapa kamu datang lagi dalam hidupku setelah kamu memperlakukanku seperti itu. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang, batin Aisyah.


Aisyah dilanda kegalauan sekarang. Disaat dia sudah mulai melupakan Riski, tetapi pria itu datang kembali di kehidupan Aisyah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2