
Riski membanting pintu mobil ketika sampai di rumah. Dia begitu kesal melihat kejadian tadi. Bagaimana bisa dirinya kalah langkah oleh David.
"Kamu bagaimana, sih, Riski? Kenapa Aisyah bisa dilamar tuan muda keluarga Maulana? Kamu kurang gesit!" ceracau Laela. Dia mengikuti Riski memasuki rumah dengan langkah lebar.
Riski menghentikan langkahnya ketika berada di ruang tamu, lalu membalikkan badan untuk menatap sang bunda. "Bunda bilang aku kurang gesit?" Riski menepuk dadanya sendiri.
"Bukannya selama ini, Bunda selalu menghalangiku buat nemuin Aisyah? Kenapa jadi aku yang disalahkan?" tanya Riski. Kata-katanya penuh amarah, tetapi tidak sampai membentak sang bunda.
Laela mati kata. Dia tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Dirinya menyadari memang selama ini telah menghalangi sang anak karena dia tidak tahu kalau sekarang Aisyah sesukses itu.
"Aku heran, kenapa Bunda sekarang tiba-tiba begitu ingin Aisyah bersamaku?" Riski mengernyitkan dahi.
Riski heran dengan Laela, perubahannya seratus delapan puluh derajat dari terakhir mereka bertemu Aisyah. Sungguh mengejutkan dirinya.
"Ya, karena sekarang dia berbeda dari yang dulu. Bunda lebih bisa menerima dia yang sekarang," jawab Laela enteng.
"Bunda selalu begitu, menempatkan harta di nomor pertama," keluh Riski.
"Sudah, jangan bertengkar lagi!" bentak Doni. Kedua orang yang sedang berdebat itu seketika diam.
__ADS_1
"Lebih baik, Bunda, diam!" hardik Doni pada sang istri. Laela pun seketika menundukkan kepalanya.
"Riski, jika kamu masih bisa merebut hati Aisyah, rebutlah! Ayah masih berharap Aisyah kembali ke rumah ini." Doni menepuk pundak Riski.
"Kita lihat saja dulu. Apabila kita tidak mendengar tentang pernikahan mereka, aku akan terus berusaha," jelas Riski.
"Namun, jika mereka sudah melangsungkan pernikahan, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi." Riski melepaskan tangan Doni dari pundaknya.
Tanpa berkata lagi, Riski berjalan meninggalkan ruang tamu. Dia menaiki tangga menuju kamarnya. Di kasur yang empuk, pria itu merebahkan tubuh dan pikirannya yang lelah. Walaupun makan siang yang singkat, sudah mampu menguras seluruh tenaganya.
...****************...
Bagaimana tidak, dia masih bingung memikirkan cara untuk menyampaikan pesan Wildan kepada ayahnya. Dirinya tidak menyangka bahwa ayah David itu sama persis dengan anaknya, suka mengambil keputusan seenaknya sendiri.
"Kami akan datang ke rumahmu, lusa. Kabarkan hal baik itu kepada orang tuamu!" Wildan memasang wajah serius.
Aisyah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Wildan. Saat bertemu pertama kali, pria itu bahkan tidak menyapanya. Namun, kenapa ayah David tiba-tiba menyetujui lamaran sang anak.
Aisyah belum siap dengan semua hal itu. Lagi pula, kenapa mereka dengan seenaknya memutuskan? Kenapa mereka tidak bertanya tentang pendapatnya?
__ADS_1
"Kenapa kalian sama saja? Seenaknya sendiri! Bagaimana dengan kekasihmu?" tanya Aisyah. Dia berbisik kepada David yang berada di sampingnya.
"Kekasihku? Siapa? Clara?" David menautkan alisnya, tidak mengerti denga pertanyaan Aisyah.
Aisyah menganggukan kepala, mengiyakan pertanyaan David.
"Sudah aku katakan, aku hanya menganggapnya sebagai adik. Kami sudah sejak kecil bersama, jadi wajar jika dia bermanja-manja denganku. Janganlah kamu cemburu dengannya!" jelas David.
Aisyah menyunggingkan senyum sebelah ketika David mengatakan bahwa dirinya cemburu. Lagi-lagi itu yang diucapkan pria tersebut. Namun, kenyataannya dia sangat jengkel ketika mengingat Clara.
"Kamu boleh tidak percaya denganku, tetapi apa kamu juga tidak percaya sama kedua orang tuaku?" tanya David.
Benar juga, Aisyah tidak mungkin meragukan Wildan. Bagaimanapun juga, ayahnya David tidak mungkin berdusta seperti sang anak. Dia merasa senang sekarang karena merasa yakin dengan lamaran David.
Aisyah menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk nomor 2 itu. Wanita itu memeluk guling untuk menyalurkan kebahagiaan. Dia ingin menghilangkan kegundahan sejenak dengan mengingat lamaran David tadi yang sangat menyentuh hati.
Inilah lamaran yang Aisyah impikan. Sama-sama saat makan walaupun tidak romantis, tetapi David melakukannya di hadapan kedua orang tua pria tersebut. Dia terbayang terus kejadian itu hingga akhirnya tertidur.
Bersambung.
__ADS_1