
Ketegangan nampak di sebuah ruang pertemuan. Semua perserta hanya diam menatap sang bos yang berdiri di hadapan mereka. Tidak ada yang berani menggerakkan tubuh, bahkan berkedip pun mereka ragu.
"Bukankah rencana sebelumnya sudah matang? Kenapa jadi seperti ini?" tanya David. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Tatapan matanya pun dingin, sedingin salju.
"Kenapa diam saja? Tidak adakah satu orang di antara kalian yang bisa memberi penjelasan? Padahal sudah hampir selesai, malah macet di tengah jalan!"
Riski begitu sangat emosi. Proyek pembangunan gedung untuk kantor showroom mobil macet. Ditambah lagi, kemarin dia gagal untuk bertemu Aisyah.
"Pak." Seorang pria dengan kumis tipis akhirnya angkat bicara. "Maafkan atas kesalahan kami. Arsitek salah dalam perencanaan pembangunan gedung itu sehingga dana yang digelontorkan jadi lebih banyak."
"Ya, sudah! Besok saya ingin bertemu dengan arsiteknya! Untuk rapat hari ini, saya tutup. Kalian boleh pergi!"
David menyelesaikan rapat lebih awal karena dia ingin segera menemui Aisyah kembali. Dia sudah tidak sabar. Dirinya tidak mau terlewat seperti kemarin.
Peserta rapat mulai meninggalkan ruangan. Akhirnya mereka bisa bernafas lega setelah hampir satu jam mereka terkurung bersama singa ganas. Walaupun hanya sebentar, orang-orang itu merasa seperti satu tahun.
"Pak Riski ternyata lebih menyeramkan dari pak Doni, ya?" bisik seorang kepada pria di sampingnya.
"Iya." Pria itu menganggukkan kepala.
"Apa yang kalian bicarakan?" Suara yang sedikit tinggi dan dingin terdengar dari arah belakang mereka. Kedua orang itu berhenti seketika dan tubuhnya pun kaku.
"Eh, Pak Riski. Ti-tidak. Sa-saya hanya bi-bilang kalau Pak Riski ternyata lebih ga-ganteng dari Pak Doni.I-iya, 'kan?" Wanita itu menyenggol pria di sampingnya. Dia berusaha senyum walaupun takut.
"I-iya." Si pria juga nampak gugup. Dia tidak mau dipecat hanya karena mengiyakan saja.
__ADS_1
"Tentu saja." Riski menyisir rambutnya dengan tangan, lalu melangkah melewati mereka berdua. Dia berjalan penuh percaya diri, apa lagi setelah karyawannya mengatakan itu.
Kedua karyawan itu akhirnya bisa bernafas lega. Untuk Riski tidak mendengar perkataan yang sebelumnya. Mereka sudah takut setengah mati jika nanti akan dipecat.
"Bos sepertinya mudah sekali di rayu. Dibilang ganteng saja sudah seperti itu," gumam wanita tadi. Mereka masih fokus memperhatikan Riski.
"Ah, sudah, ah! Nanti ketahuan lagi, bisa bahaya." Si pria pergi meninggalkan wanita tersebut.
...****************...
Aisyah telah menyelesaikan kelasnya hari ini. Dia bersama Dinda berjalan di bawah teduhnya pohon kenari yang berjajar rapi di tepi jalan. Pohon paling legendaris di kampus itu yang dapat mengeluarkan aromatik dari batang yang berwarna abu pucat.
"Oh, ya! Bagaimana kerangka yang kamu buat kemarin?" tanya Dinda.
"Sudah aku serahkan kepada editor, tinggal menunggu balasan. Semoga saja diterima," harap Aisyah. "Terima kasih atas bantuannya kemarin, ya, Din." Aisyah tersenyum ke arah Dinda.
"Berkat bantuanmu, aku berhasil menyelesaikannya lebih cepat." Aisyah tersenyum puas.
"Asalkan kamu tidak lupa setelah ini." Dinda menaik turunkan alis.
"Tenang saja, aku tidak akan lupa. Asalkan namamu masih Dinda." Aisyah meringis.
"Tentu saja." Mereka tertawa bersama.
Seketika tawa Dinda terhenti ketika melihat ke arah gerbang.
__ADS_1
"Aisyah, bukankah itu pria kemarin?" tanya Dinda. Dia menunjuk pada pria yang berdiri di sisi kiri pintu gerbang.
Tubuh bagian atas pria itu berbalut kemeja berwarna biru tua memperlihatkan dada bidangnya di balik baju. Tangan kanannya menenteng jas berwarna cream, senada dengan celana yang dipakai. Sangat terlihat gagah, tetapi masih gagah David. Walaupun begitu masih bisa mencuri perhatian orang yang lewat.
"Hu um." Aisyah menganggukkan kepala.
"Kamu mau menemuinya atau tidak?"
"Aku akan menemuinya. Temani aku, ya," pinta Aisyah. Gadis itu menautkan jari-jarinya. Dengan wajah menatap sang pria, dia perlahan mulai mendekat.
Dinda menyetujui permintaan Aisyah walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa masalah yang sebenarnya. Dia merasa sepertinya Aisyah takut dengan orang itu.
"Aisyah!" Mata Riski menatap lekat gadis itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kalau Kak Riski mau berbicara denganku, aku ikut. Tapi, temanku juga ikut." Aisyah langsung membicarakan tujuannya mendatangi Riski.
"Aisyah, aku sangat merin ...." Langkah David terhenti ketika ucapannya juga terhenti. Padahal, dadanya sangat bergejolak, ingin sekali mendekap gadis itu.
Riski merasa, Aisyah semakin cantik. Wajah gadis itu pun terlihat semakin bersinar. Tentu saja, semua itu hasil dari ketekunan Aisyah merawat diri sendiri dirumah.
Aisyah memberikan isyarat berhenti kepada Riski dengan tangannya. "Lebih baik kita pergi sekarang atau tidak!"
"Baiklah. Tapi, aku tidak ingin temanmu ikut. Biar aku antar dia sampai di rumah. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan berdua saja." Riski mencoba menawar.
Dinda menatap Aisyah. Dia takut jika nanti terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Akan tetapi, Aisyah menganggukkan kepala mantap. Mengartikan bahwa dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
Kesepakatan telah dibuat. Mereka bertiga memasuki mobil Riski.
Bersambung.