
David begitu kesal karena Aisyah dengan tegas menyetujui jika beasiswanya dicabut. Pria itu mengepalkan tangan untuk sedikit menahan emosi. Namun, itu sia-sia. Dengan sekuat tenaga dia melancarkan tinjunya.
BUG!
David melihat Aisyah yang terpejam dengan tubuh gemetar. Pria itu tahu jika Aisyah ketakutan melihatnya. Namun, hal berbeda yang gadis itu tunjukkan ketika membuka mata. Sang gadis terlihat panik saat melihat di antara tangan David dan tembok, mengalir darah segar.
"Kamu ...." Aisyah tak bisa berkata-kata karena panik.
Tangan David diraih Aisyah untuk melihat seberapa parah luka di tangan itu. Darah mengalir cukup deras, lalu gadis itu melepas sweter untuk membungkus luka itu.
"Ayo kita ke klinik." Aisyah menarik tangan David.
David tahu bahwa Aisyah sangat membencinya, tetapi gadis itu masih tak tega melihat tangannya yang terluka. Dia digiring menuju klinik terdekat.
David pun tak menolak ajakan Aisyah. Dia mengikuti langkas gadis itu tanpa protes. Dirinya hanya menatap sang garis dengan mata sayu.
"Tunggu di sini! Aku ambil obat dulu." Aisyah berlalu meninggalkan David.
David hanya diam, memperhatikan semua yang dilakukan Aisyah. Dirinya melihat begitu cekatannya sang gadis, sehingga membuatnya terkesima.
“Kenapa terus menatapku?” tanya Aisyah saat kembali dengan berbagai obat.
David segera membuang wajah, menatap ke samping. “Tidak! Jangan terlalu percaya diri,” elaknya.
Setelah itu keheningan terjadi. Aisyah mulai membersihkan luka David. Pria itu pun melihat dengan saksama apa yang dilakukan Aisyah. Sangat menyentuh hatinya dan membuat dia semakin jatuh cinta pada Aisyah.
“Aisyah, kamu adalah wanita yang mampu meruntuhkanku,” gumam David saat lamunannya berakhir.
“Aku harus bisa mendapatkanmu. Aku pastikan, tak akan lama lagi kamu pasti membutuhkanku,” lanjutnya.
__ADS_1
David meninggalkan tempat itu menuju fakultasnya. Akan tetapi, baru beberapa langkah, dia bertemu wanita yang waktu itu pernah bermesraan di taman dengannya.
“Apa maumu lagi?” tanya David.
Bukannya menjawab, wanita itu semakin mendekati David. Tangannya merangkul leher pria itu, lalu dia mengerlingkan mata.
Sedangkan Aisyah kini duduk sendiri setelah Denok pamit. Dia pun ingin meninggalkan tempat itu menuju fakultasnya. Namun, saat dirinya hendak melangkah, tanpa disadari gadis itu menangkap dua sosok yang berlainan jenis, lagi-lagi bermesraan di taman tak jauh dari tempatnya.
Aisyah hanya memperhatikannya sesaat. Dia merasa jijik ketika melihat bibir sang wanita hendak meraup bibir David. Gadis itu segera berlari dengan dada yang begitu sesak.
Setelah sampai di depan fakultasnya, Aisyah duduk sejenak di tangga gadung. Dia masih terbayang kejadian tadi. Namun, yang gadis itu herankan, kenapa dadanya begitu sesak. Apa dia terlalu berharap bahwa David bisa berubah.
Aisyah semakin bingung dengan semua ini. Di satu pihak David seperti sangat berupaya mendapatkannya. Semua itu dilihat dari perubahan orang-orang dalam memandang gadis itu. Dirinya yakin bahwa itu perbuatan David karena hanya dia yang mampu melakukannya.
“Cukup, David. Aku tidak boleh terus terbawa suasana. Dia bukan orang baik!” gumam Aisyah.
Aisyah pergi memasuki ruang kelas untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Dia menghilangkan semua bayang-bayang tentang David. Gadis itu begitu fokus dalam belajar. Dia ingin mendapat nilai terbaik dalam kejuruannya.
Aisyah begitu tenang, hingga jam kuliah selesai. Gadis itu berjalan sendiri menuju gerbang kampus. Beberapa kali orang-orang menyapanya. Sungguh hal yang sangat berbeda yang dia rasakan beberapa hari ini. Semua itu membuatnya nyaman.
“Tapi, kenapa orang itu, dibalik semua ini,” ucap Aisyah kecewa.
Seketika itu pula wajah Aisyah lesu. Dia kembali teringat kejadian di mana David bermesraan dengan wanita lain di depan matanya. Sangat membuatnya kecewa.
Sebuah motor sport tiba-tiba berhenti di depan Aisyah. Wajah gadis itu semakin masam ketika mengetahui siapa penunggang motor tersebut. Saat itu pula, semua mata tertuju pada mereka. Semua orang menunggu apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Aisyah membelokkan arah jalannya, memutari motor David dari belakang untuk dapat meneruskan perjalanannya. Dia tidak ingin berbicara dengan pria itu.
“Aisyah, tunggu! Kenapa kamu begitu saja meninggalkanku?” David menahan pundak Aisyah.
“Kenapa lagi kamu menemuiku? Sana, tumui wanitamu!” perintah Aisyah pelan, tetapi tegas.
“Wanita mana?” tanya David tak mengerti.
“Yang tadi siang bersamamu. Mana lagi? Kamu sudah lupa?” Aisyah membalikkan badan, menatap David.
“Oh, ternyata kamu melihatnya. Tadi siang tidak terjadi apa-apa pada kami. Dia mencoba merayuku, aku dorong saja dia, lalu kutinggal pergi,” jelas David segera. Dia tidak ingin Aisyah salah sanggka terhadapnya.
“Terserah, apa yang kamu katakan!” Aisyah kembali membalikkan tubuhnya bersiap meninggalkan David.
Namun tangan Aisyah digenggam David erat, tak membiarkan gadis itu pergi.
“Aku tidak ingin kamu percaya itu. Yang aku ingin sekarang kamu memaafkanku. Kalau kamu memaafkanku, aku berjanji akan mengembalikan beasiswamu,” ucap David putus asa. Dia tidak tahu harus berbuat apa agar Aisyah memaafkannya.
Aisyah terdiam sejenak, memikirkan tawaran David. Namun, dia memikirkan konsekuensi akan didapatkan. Gadis itu tak mau David semena-mena terhadap dirinya, mengatur kehidupannya kembali seperti dulu.
Aisyah menarik tangannya, sehingga genggaman tangan David terlepas. “Sudahlah. Aku ingin kehidupanku yang bebas. Tak ingin kamu atur seperti dulu.
Aisyah meninggalkan David begitu saja, membuat orang-orang yang di sekitar tercengang.
David baru menyadari jika dirinya dijadikan tontonan orang-orang yang melewati tempat itu. Pria itu seketika menatap mereka dengan tajam. “Ngapain kalian? Sana, bubar!”
Bersambung.
__ADS_1