Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 153. Perasaan Aisyah


__ADS_3

"Aisyah, kamu tidak apa-apa, 'kan?"


Pertanyaan Dinda membuyarkan lamunan Aisyah. Gadis itu pun menggelengkan kepala sedikit untuk mendapatkan kesadaran penuh.


"Tidak!" Aisyah tersenyum, menutupi perasaannya.


Tidak tahu mengapa, hati Aisyah terasa gundah bila mengingat kejadian tadi. Padahal, dirinya tidak menganggap David apa pun. Dia akhirnya mengembalikan kesadarannya itu, mengatakan pada diri sendiri bahwa tadi bukan urusannya.


"Kirain kamu cemburu. Aku lihat dari tadi, kamu melamun aja." Dinda menatap prihatin temannya.


"Cemburu? Buat apa?" Aisyah menampilkan tersenyum yang dipaksakan. Namun, bayangan tentang mereka berdua selalu muncul di pikirannya.


Aisyah, kenapa kamu ini? Bukannya kamu bukan siapa-siapanya? Kenapa kamu memikirkan dia terus? Aisyah mencoba menyadarkan dirinya sendiri lagi bahwa David bukan siapa-siapa.


"Lalu, kenapa kamu tadi melihat dia terus?" tanya Dinda seraya menyipitkan mata.


"Em ... aku cuma penasaran. Siapa wanita tadi? Kalau cuma teman, kenapa begitu dekat?"


"Apakah cuma itu? Tapi, matamu tidak bisa menyembunyikan itu, Aisyah." Dinda menatap Aisyah lekat. Dia paham betul cara memandang seseorang yang sedang cemburu.


...****************...


Benarkah begitu, batin Aisyah.


Kini gadis itu duduk di atas kasur lantai dengan bersandar dinding di dalam kos. Tangan kirinya memeluk lutut, sedangkan tangan kanan menaruh ponsel pada telinga. Ya, dia sedang menerima panggilan dari David.


Untuk menjelaskan kejadian tadi siang, David memilih untuk menelepon. Jika hanya lewat pesan, dia takut Aisyah salah pengertian saat membaca. Malah jadi runyam nanti masalahnya.


"Dia anak dari sahabat ayahku yang kuliah di Prancis. Namanya Clara. Sudah sejak kecil kita main bersama, jadi dia sudah kuanggap seperti adik sendiri."

__ADS_1


"Clara ke sini untuk liburan. Katanya dia kangen kota ini, ya, aku menemani untuk berkeliling," jelas David.


"O." Hanya itu yang dicapkan Aisyah setelah penjelasan panjang lebar David. Sesungguhnya dia ingin penjelasan lebih, tetapi diurungkannya. Dia menganggap dirinya bukan siapa-siapa.


"Kenapa? Kamu seprtinya tidak senang?" David tersenyum di balik ponsel.


"Ti-tidak. Kenapa juga tidak senang?" Aisyah gugup, sepertinya David mengetahui apa yang dia rasakan. Sebegitukah dirinya yang tak bisa menutupi perasaan?


"Tidak kenapa-napa. Aku justru senang jika kamu merasa tidak senang melihatku tadi. Itu berarti kamu cemburu." David memperlebar senyumnya.


"Cemburu? Sama kamu? Tidak ada dalam kamusku," ketus Aisyah.


Ih, percaya diri sekali dia. Ngapain juga aku cemburu? batin Aisyah. Dia menyibikkan bibirnya.


"Aku tidak menuduhmu cemburu, kok. Kenapa reaksimu begitu? Apa kamu benar-benar cemburu?"


"Eh! Ti-tidak." Aisyah semakin gugup.


"Sudah dulu, aku mau tidur! Besok pagi harus kuliah!"


"Oke. Good night, honey. Have a nice dream. Jangan lupa mimpiin aku." Kata David diakhiri dengan sebuah kecupan.


"Ih! Menjijikkan!" Wajah Aisyah berubah masam setelah mendengar kata-kata David. Wanita itu kesal dengan si pria. Dia segera mematikan sambungan telepon sesaat setelah itu.


Aisyah membaringkan tubuhnya di atas kasur busa, lalu meletakkan ponsel di sebelah bantal. Ditariknya selimut menutupi seluruh tubuh. Dia pun memejamkan mata.


Namun, bayangan tadi siang terus saja melintas dalam pikirannya. Dia pun membuka mata kembali, lalu duduk seperti keadaan sebelumnya. Kini kedua tangan memeluk lutut.


"Menyebalkan! Kenapa aku kepikiran terus? Kalau begini aku tidak bisa tidur!" gumam Aisyah. Dia mengacak-acak rambut, lalu tangannya menopang kepala.

__ADS_1


"Sudahlah, dia, 'kan, memang playboy. Walaupun sudah berjanji tidak akan bersama dengan wanita lain selain aku, pasti itu sulit ditepati. Untuk apa juga aku mempercayainya."


Aisyah terlihat kesal. Dia merasa bodoh karena telah mempercayai David. Bagaimanapun juga, menurutnya pria itu tidak akan pernah menepati janji.


"Dia sungguh pintar untuk mendapatkan hatiku. Memanjakanku, munyuruhku agar tidak bekerja. Pintar sekali." Aisyah menyunggingkan bibir.


Aisyah melihat dompetnya yang berada di samping kasur. Diambil, lalu dia membuka dompet itu. Sebuah kartu berwarna hitam dia keluarkan.


"Kartu ini." Aisyah mengibas-ngibaskan kartu itu. "Apa dia bermaksud membeliku dengan kartu ini? Apa dia ingin menjeratku agar tidak pergi darinya dengan ini?"


Aisyah melempar kartu itu ke atas kasur. Gadis itu memandangi kartu yang sebelumnya tidak pernah dia lihat itu. Dia biasa hanya melihat kartu yang berwarna-warni, bukan yang tidak berwarna seperti itu.


"Tidak! Aku harus mencari uang sendiri. Aku belum menjadi istrinya, tidak pantas menerima uang darinya. Akan segera kukembalikan kartu itu."


"Tapi, setelah aku dapat pekerjaan tentunya." Aisyah mengambil kembali kartu itu lalu menggengamnya erat.


Sedangkan di kediaman Maulana, rumah berlantaikan dua dengan halaman yang luas, David sedang duduk di sofa ruang keluarga. Dari posisinya, dia bisa melihat ikan yang meliuk-liuk indah di dalam kolam. Suara air terjun membuat suasana bagai di alam bebas.


"Kak David!"


Seruan panggilan mengalihkan perhatiannya. Pria itu melihat sesosok lembut berjalan ke arahnya. Dengan gaun tidur tali spageti di atas lutut, menampilkan putih mulus kulit sang wanita.


"Clara, kamu belum tidur?" tanya David ketika wanita itu berada di hadapannya.


"Aku tidak bisa tidur." Wanita yang dipanggil Clara itu menggoyangkan pinggang. "Bisa temani aku ngobrol tidak?"


"Tentu saja." David menggeser tubuhnya, memberi tempat untuk Clara duduk.


Clara duduk di belah David tanpa celah. Wanita itu menyandarkan tubuhnya kepada si pria. Dia memulai percakapan panjang malam itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2