
"Bos ada nomor mencurigakan masuk ,baru saja menelpon Dila"
"Lacak dengan segera"
"Baik"
Bob penasaran, berharap ia mendapatkan bukti .
Menuju pernikahan hanya menghitung hari.
"Bos hari ini Nyonya bersama putranya, berada dimall sedang berbelanja"
Bob segera bergegas , menuju mall tersebut.
"Mama aku mau ini" pinta Raka
"Bukankah mainan sudah banyak?"
"Tapi aku mau ini" Raka merengek
"Raka, hari ini Mama tidak akan belikan mainan dulu, akhir-akhir ini Raka sudah sering beli mainan, lain kali saja ya"
Raka merengek , dan kini ia menangis.
"Raka , mau ini?"
Raka mengangguk, namun setelah melihat pria asing dihadapannya , ia segera bersembunyi dibelakang Renata, Raka ketakutan.
Bob membeli mainan itu, dan memberikannya pada Raka.
Renata pun terkejut, ia berusaha menghindari Bob dengan menolak pemberiannya.
"Ayo" Renata segera pergi bersama Raka.
"Nata"
Renata acuh dia terus berjalan, Raka yang masih merengek, terlihat dari wajahnya.
"Tunggu dulu " Bob menangkap lengannya.
"Lepaskan" teriak Nata.
Diam-diam Al , mengambil sehelai rambut Raka .
"Berikan ini, aku tidak memiliki niat lain" ,Renata tampak melototinya , Bob memberikan nya pada Raka. Raka masih ketakutan , dia tidak menerima mainan itu.
"Jika aku bersikap buruk padanya ,maka dia akan curiga" , gumam Nata dalam hati.
"Terimakasih" Renata segera mengambil mainannya dan pergi .
Al memberitahu, jika ia sudah mendapatkan rambut Raka.
Bob pun segera membawanya ke lab untuk diperiksa.
"Bos , menurut saya Raka memiliki mata yang sama dengan anda , juga rambutnya "
"Kita tunggu saja nanti hasilnya" gumam Bob.
Boy yang menyusul berlarian mencari Nata, Al melihatnya , "Bos lihat"
Bob menyerengeh . "Ayo" Bob mengajaknya pergi.
"Mama dimana om?"
"Entahlah" , Renata menelponnya .
Boy mengangkat telpon dari Renata, Boy segera kembali ke mobil.
"Maaf aku terlambat" Boy merasa heran mengapa Renata kembali begitu cepat, juga melihat raut muka Renata yang menjadi masam.
Raka ia asyik melihat mainan barunya .
********
"Papa" Raka keluar dari mobil segera memeluk Alex
__ADS_1
"Raka kesayangan Papa" Alex merangkulnya .
"Beli mainan baru?" tanya Alex
Raka mengangguk,
"Tapi" Raka hendak bicara, namun segera dipotong Nata.
"Raka , ayo kita masuk, diluar dingin" Nata segera menarik lengannya.
Alex tidak merasa aneh sama sekali.
"Apa saja yang kalian beli?" tanya Alex
"Tidak ada" jawab Renata begitu dingin.
Lagi-lagi Alex menatapnya dengan seksama, menggenggam tangan Renata,
"Apakah kamu sudah siap?"
Renata perlahan melepaskan tangannya, ia menggelengkan kepalanya .
Mereka tampak berkumpul di meja makan, Renata kembali meminum supnya yang hangat.
Alex merasa pasrah dengan sikap Renata yang terus-menerus menolaknya.
"Sampai kapan aku harus terus menunggu?"
"Bersabar saja" Renata merasa tidak nyaman dengan pembicaraan itu. Ia pun menaruh sendoknya , dan pergi.
Raka yang masih tidak mengerti , hanya dapat mengikuti Mamanya.
"Kamu istirahat ya" Renata mengelus dan mengecup kening Raka, didalam kamar..
Renata sejenak memikirkan hal yang baru saja tadi.
"Benarkah Bob serius akan menikahi Dila, dia sungguh mencintainya?" Renata tampak sedih, jantungnya terasa sakit.
"Aku tidak pernah mengingat bagaimana kejadiannya !? hingga aku dapat berakhir disini" melihat didalam rumah Alex.
Renata mencari berita lama mengenai kecelakaannya dulu , terurai air matanya keluar.
"Jika Alex tidak menyelamatkanku, mungkin aku sudah berakhir hancur dijurang itu, haruskah aku menikahinya saja ?!, tapi hati ini merasa berat, apalagi Nat yang menghalangimu" Renata terus menangisi dirinya , dan tak berhenti berceloteh dalam hati.
Alex dia masih di meja makan itu sendiri.
Kepalanya tertuduk dengan kedua tangannya bak memohon .
********
Keesokan pagi , Renata sudah menyiapkan beberapa menu untuk sarapan, dan memasak untuk makan siang.
Alex tersenyum melihatnya ,
"Ini" Renata memberinya segelas susu, dan roti.
"Terimakasih" , Alex menerimanya,
"Aku sudah siap untuk menikah" Renata bicara dengan tiba-tiba.
Prak , roti itu disimpan Alex kembali pada piringnya.
Alex menatapnya seolah tidak percaya,
"Sekali lagi katakan" ucapnya,
"Aku bersedia menikah denganmu"
Alex sangat senang , tersirat dipikirannya ia segera memeluk dan menciumnya . Namun "Pyuh" bayangan itu menghilang.
Alex berpura-pura bersikap biasa dan tenang.
"Hari ini kita jadwalkan pergi ke kantor urusan nikah"
"Aku akan menjemputmu",
__ADS_1
Renata hanya tersenyum dan mengangguk .
Alex sangat senang, namun hari ini dia tetap harus kekantor karena meeting penting.
"Akhirnya aku menyerah juga" gumam Nata dalam hati, sembari memperhatikan Raka yang asyik bermain mainan baru .
*********
"Apakah bisa diambil hasilnya hari ini?" tanya Bob pada Al , mereka sedang membicarakan hasil tes DNA.
"Ya" jawab Al.
Bob sudah tidak sabar menunggu hasilnya ,
Renata yang sangat rindu , hendak menemui Ibu juga Daniel. Tanpa sepengetahuan Boy, diam-diam Renata pergi sendiri, dengan penyamaran.
Boy tidak merasa curiga , Renata segera pergi setelah melihat Boy yang lengah , ia memilih jalan samping.
Renata pergi membawa mobilnya sendiri , ia sudah merencanakannya.
Renata masih mengingat jalannya , meskipun jarak dari rumah Alex kerumah Ibu cukup jauh.
Kedua tangannya gemetar,
"Aku sudah lama tidak menyetir"
Tid , beberapa mobil mengklakson, Renata mengendarainya dengan was-was.
"Sebentar lagi ketemu jalan yang menuju rumah Ibu" Renata bernafas lega ,
Tidddd, suara keras dan panjang klakson mobil didepan, mereka hampir saja bersinggungan .
Wanita yang tidak sabaran itu keluar dari mobilnya, situasi dia sedang buruk, ia hendak melampiaskannya pada Renata.
"Kurang ajar, keluar kamu" teriaknya .
Renata pun keluar, ia merasa tidak melakukan kesalahan , Renata mengendarai pada jalurnya dan benar, iapun tidak mengebut. Justru sebalikna pada wanita dihadapannya.
"Bisa menyetir tidak!!!" wanita itu meremehkan.
"Nyonya maaf, jaga sikap anda"
"Apa??? kamu menantang saya?" , dia nampak ingin menyerang,
"Tidak , bukan begitu, lihat ! saya tidak melakukan kesalahan"
"Jadi maksudmu saya yang salah?!"
"Nyonya, anda yang datang tiba-tiba dari depan dengan.. "
"Dengan apa ? cepat katakan" wanita itu berteriak dan mendorong Nata.
"Aduh" Nata pun terjatuh. Kaca matanya terlepas.
Sebuah mobil datang, yaitu Ibunya Bob .
"Ada apa didepan?" tanya Ibu pada supirnya.
Supirnya turun dan membantu Renata bangun , dengan cepat Renata memakai kaca matanya kembali. Dan Ibu tak memperhatikannya.
"Sudahlah, cepat minggirkan mobilmu" ,teriak lagi wanita itu.
Renata bersikap sabar , dan menurutinya . Supir itu merasa iba.
"Terimakasih" ucap Renata pelan.
Renata masuk kedalam mobilnya, mobilnya bergerak mundur dan minggir.
Wanita arogan itupun , segera melajukan mobilnya.
Renata sangat geram, "Seharusnya tadi aku melawannya, jika tidak memandang wanita itu lebih tua, ingin kutampar dia".
Tid .. tid , supir Ibunya Bob membunyikan klaksonnya , menyapa Nata . Mereka pun berlalu pergi, tak disadari menantu dan mertua telah berpapasan.
Renata terdiam sejenak, sebelum melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Ia bergerak pelan, hingga mendekati rumah Ibu,
"Apakah Bob masih mengurusnya?, apakah Ibu masih tinggal disini ? apa yang harus aku lakukan sekarang? harus kah aku berdiam diri disini saja? atau menghampirinya?"