
Apa yang akan diumumkan Tuan Muda, ya? Apa ada proyek baru? Kalau begitu, baguslah. Riski bisa semakin dekat dengan Aisyah dengan adanya kerjamasa antara perusahaan mereka, batin Laela. Wajahnya selalu menampakkan senyum kepada Aisyah.
Kini Laela mulai menyukai Aisyah. Dia mengamati penampilan wanita itu, menurutnya lumayan dari pada dulu yang kampungan. Dirinya merasa sekarang sang mantan menantu bisalah jika di ajak ke mall.
"Mungkin pengumuman ini bisa dibilang mendadak karena saya juga terdesak. Saya ingin kalian semua yang ada di sini menjadi saksinya," ucap David. Suaranya sedikit keras agar mereka semua dapat mendengarkan dia.
Mereka heran, sungguh tidak tahu apa yang dimaksud David. Apakah ada klien yang meminta pembangunan sacara mendesak? Semua orang hanya dapat bertanya pada diri mereka masing-masing.
David mengeluarkan sebuah benda dari sakunya. Sebuah kotak sekarang berada digenggamannya. Secara perlahan dia membuka tangan untuk memperlihatkan benda itu kepada semua orang.
Cincin itu? Batin Aisyah. Dia sangat terkejut.
Begitu pun dengan yang lain. Mereka semua terfokus pada benda di tangan David. Berbagai pertanyaan melintas di benak mereka masing-masing.
Apakah dia akan melamar Aisyah? Tapi, apa orang tuanya setuju? Bukankah waktu itu kedua orang tuanya membenci dia? batin Riski. Dia tersenyum miring melihat ke arah David.
Jangan berharap kamu akan mendapatkan restu orang tuanya! Aku yakin, orang tuanya lebih memilihku dari pada kamu, batin Riski. Dia merasa lebih menang selangkah dari pada David.
Riski dapat mengatakan itu karena setelah kepergian Aisyah dan David saat itu, Sukiman sangat murka. Ayah wanita itu merasa tidak dihormati sama sekali. Dengan seenaknya pria itu membawa anaknya pergi.
__ADS_1
Riski berhasil menjelaskan tentang David kepada Sukiman. Pada saat itu pula, secara perlahan pria itu mengambil hati ayahnya Aisyah. Dia merasa ayah wanita itu sudah tidak membencinya, dilihat dengan cara bagaimana sang ayah berbicara kepadanya.
David tidak memperdulikan tatapan mereka semua. Dia menggeser kursi, lalu berlutut di hadapan Aisyah. Pria itu membuka kotak yang berisikan cincin berlian itu.
"Aisyah, jadilah istriku," ucap David penuh kemantapan. Dia tidak mau bertanya. Ucapannya itu menunjukkan bahwa Aisyah harus menjadi istrinya.
Kenapa di bilangnya begitu. Seharusnya, 'kan, maukah kamu menjadi istriku? Sepertinya memaksa sekali, batin Aisyah.
Aisyah masih belum dapat mengatakan apa pun. Dia masih menimbang keputusannya. Untuk yang kedua kali, David melamar dia. Dirinya tidak tahu harus bagaimana.
Aisyah sejenak melirik sekitar. Dia melihat Riski sekeluarga menatap ke arahnya dengan tatapan sendu. Dia tidak tahu apa maksud tatapan mereka. Namun, senyum justru tampak di wajah wanita itu.
David pun tersenyum lebar. Dia segera mengambil cincin itu, lalu disematkannya ke jari manis Aisyah. Jantungnya sedang berdendang ketika dengan perlahan dia menyematkan cincin itu. Akhirnya, apa yang dia rencanakan, berhasil.
Kedua orang tua David pun tersenyum senang. Akhirnya sang anak sudah melamar seorang wanita. Itu berarti anaknya akan segera menikah.
Sementara itu, Riski dan orang tuanya memalingkan muka. Mereka tidak mau melihat kejadian itu. Sungguh harapan mereka kini telah sirna.
Apakah Aisyah sudah bertanya kepada ayahnya setuju atau tidak? Bukankah dia juga tahu kalau ayahnya membenci pria itu? Kenapa dia menyetujui lamaran pria itu? batin Riski penuh dengan pertanyaan. Dia tidak mempercayai keputusan Aisyah.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah menjadi saksi." David menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih.
Mereka bertiga hanya memberikan senyum tipis. Tidak ada seorang pun yang menimpali ucapan David.
"Sekarang, ayo, kita makan sebagai perayaan atas berhasilnya lamaranku,"ucap David.
Mereka akhirnya menikmati makan siang itu. Tak ada perbincangan sama sekali saat mereka makan karena itu yang semestinya. Tidak boleh bercakap saat makan, mereka fokus pada makanan hingga selesai.
Riski sekeluarga hanya makan sedikit. Mereka semua ingin segera meninggalkan tempat itu. Rasanya tidak nyaman untuk berlama-lama di sana setelah kejadian tadi.
"Semoga kedepannya kerja sama perusahaan kita akan semakin solid," ucap Wildan seraya menjabat tangan Doni.
"Aamiin." Doni melepaskan tangan Wildan. "Baikla, kami pamit dulu. Terima kasih atas undangan makan siangnya."
"Sama-sama," ucap Wildan.
Doni sekeluarga pun meninggalkan tempat itu. Tinggal Aisyah dan David sekeluarga kini yang masih di sana. Mereka duduk kembali di kursi masing-masing untuk menyelesaikan makan siang mereka.
Bersambung.
__ADS_1