Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 182. Kelopak Bunga di Ranjang


__ADS_3

Kemeriahan telah usai, kini kedua mempelai berjalan beriringan menuju kamar hotel yang telah di sewa. Senyum David berkembang ketika menatap wanita di sampingnya. Akhirnya, wanita pujaan hati, kini sah menjadi istrinya.


Mereka telah sampai di depan pintu kamar lalu David membukanya. Aisyah membuka mulut ketika melihat kamar yang penuh kelopak bunga. Dia tak menyangka pernikahannya kali ini sangat istimewa. Menurut dia, pesta tadi terlalu mewah. Tak pernah terpikirkan oleh wanita itu tentang pernikahan yang begitu fantastik.


"Kamu suka?" David tersenyum ke arah Aisyah.


"Suka banget." Aisyah perlahan mendekati ranjang yang penuh dengan taburan bunga. Dia duduk di sisi ranjang lalu memainkan beberapa kelopak bunga.


David duduk di sebelah Aisyah. Direngkuhnya dagu sang istri lalu perlahan wajahnya mendekat. Jantungnya pun berdegup tak beraturan.


Tak pernah David seperti ini. Soal cium-mencium, pria itu sudah terbiasa. Namun, kenapa hanya karena seorang Aisyah, dia harus beberapa kali menarik nafas dalam-dalam sebelum melakukan hal itu. Sungguh tidak masuk dilogikanya.


"Eh! Mau mandi dulu." Aisyah dengan cepat menarik kepalanya. Sesungguhnya, dia belum siap untuk melakukan hal itu.


Aisyah berdiri lalu berjalan menuju set meja kursi di sisi jendela. Dia melepas satu persatu pernak-pernik yang melekat di tubuhnya lalu diletakkan di atas meja. Dirinya sedikit kesulitan saat melakukan itu sendiri.


David menyadari hal itu lalu mendekati Aisyah. Dia berdiri di belakang wanita itu untuk membantu melepaskannya. Kini, tinggal jilbab penutup kepala yang masih melekat. Setelah dibuka, terpampanglah leher putih milik wanita itu.


David tak tahan melihat benda putih itu. Dengan sigap, bibir basahnya telah menyentuh permukaan kulit sang istri.

__ADS_1


"Eh!" Aisyah tersentak mendapatkan perlakuan itu. Kepalanya menjauh untuk menghindari bibir David.


"Te-terima kasih," ucap Aisyah gugup, "aku mandi dulu."


Aisyah segera berjalan menuju kamar mandi. Dia mengangkat gaun pengantin yang dikenakan supaya lebih cepat berjalan. Wanita itu takut jika sang suami mengikutinya.


Aisyah menghembuhkan nafas panjang setelah menutup pintu. "Untung saja."


Tangan wanita itu menjulur kebelakang, mencoba meraih resleting yang berada di punggung. Namun, dia kesulitan untuk meraih benda itu. Akhirnya, dia keluar kembali dari kamar mandi.


"Bisa bantu aku?" tanya Aisyah.


"Tentu saja, Sayang." David menghampiri Aisyah. "Apa yang bisa aku bantu?"


Tanpa menunggu lagi, David segera menurunkan resleting itu. Tersibaklah punggung mulus yang selama ini Aisyah sembunyikan. Pria itu meneguk salivanya melihat penampakan di depan mata.


Namun, sebelum David menyentuh punggung Aisyah, wanita itu sudah pergi terlebih dahulu. Kekecewaan sedikit merasuki hatinya. Dia pun duduk kembali di kursi dekat jendela, menunggu sang istri selesai mandi.


Tak berapa lama, Aisyah telah keluar dari kamar mandi. Handuk membalut tubuh putih wanita itu. Terlihat sangat segar, membuat David segera menghampiri lalu memeluknya.

__ADS_1


"David, lepasin aku!" Aisyah mencoba melepaskan pelukan David.


"Kenapa? 'Kan, kita udah menikah? Bebas, dong, peluk kamu." David semakin mengeratkan pelukkannya.


"Kamu bau, belum mandi." Aisyah menutup hidung, pura-pura tidak tahan dengan bau tubuh David. Padahal, dia sangat menyukai aroma tubuh itu. "Sana, mandi dulu!"


"Baiklah, aku mau cepat-cepat mandinya."


"Ya, jangan cepat juga! Nanti tidak bersih."


David tidak mempedulikan Aisyah. Dengan hati senang, dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu menbasuh tubuhnya sebersih mungkin. Dirinya tidak ingin perasaan sang istri menjadi buruk hanya karena masalah bau tubuh.


David telah selesai membersihkan diri. Dia keluar dari kamar mandi dengan segera. Dilihatnya Aisyah kini tengah berbaring dia atas ranjang dengan selimut menutupi tubuh. Tanpa di suruh lagi, David segera menaiki ranjang, menindih tubuh sang istri.


Aisyah terkejut akan tindakan David. "Kamu tidak ganti baju dulu?"


"Buat apa ganti baju kalau nanti juga di lepas," jawab David. Senyum seringai tampak di wajahnya.


David memulai aksinya, perlahan mengusap pipi Aisyah lalu turun ke bibir. Nafasnya sudah memburu, ingin segera merasakan sesuatu yang indah.

__ADS_1


Aisyah memejamkan mata, tak mampu menyaksikan perbuatan David kepadanya. Dia hanya bisa merasakan ke mana tangan pria itu menjelajah. Wanita itu seketika membuka ketika merasakan sensasi yang tak pernah dirasakannya.


Bersambung.


__ADS_2