
Aisyah masih saja menatapi kotak di tangan David. Dia tidak tahu kenapa sang pria memberinya benda itu. Dirinya menebak pasti ada maksud terselubung di balik semua ini.
"Apa ini?" Aisyah melirik ke arah David.
"Ini cincin." David membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan hanya satu mata. Sebuah berlian yang berukuran 2 karat tersemat di tengahnya. Aisyah kagum dengan kilau yang indah di depan mata itu. Wanita itu segera menggelengkan kepala, menyadarkan diri dari kekaguman.
"Aku tahu itu cincin. Bukannya aku ke sini hanya untuk perhitungan hutang. Kenapa kamu malah memberiku cincin? Mau menjeratku dengan hutang yang semakin banyak lagi?"
Aisyah tidak serta merta menerima cincin itu. Dia masih mengabaikannya. Walaupun, sebenarnya cukup menggiurkan baginya. Untuk pertama kali dia melihat cincin sebagus itu. Wanita mana yang tidak akan tergoda dengan kilaunya.
Sekarang Aisyah masih membenciku. Kalau aku mengatakan hal jujur, pasti dia akan segera menolaknya. Aku harus cari alasan yang tepat, batin David.
"Bu-bukan! Aku hanya ingat kamu saja saat melewati ini. Jadi, aku beli ini buat oleh-oleh ke kamu," kilah David. "Kamu suka?"
"Jangan bilang itu oleh-oleh, pasti kamu akan menambahkan dalam hutangku. Jangan menambah hutangku, deh! Aku tahu itu harganya pasti mahal. Walaupun aku sanggup membayarnya, pasti juga akan butuh waktu yang lama. Bisnisku baru dirintis, belum maju."
Aisyah membayangkan berapa banyak hutangnya. Apa lagi, ditambah cincin yang tidak dia minta itu.
David tersenyum. Dia baru ingat bahwa Aisyah saat ditemui tadi berada di sebuah kantor kecil. Apa yang dimaksud bisnis yang baru di mulai adalah itu?
__ADS_1
"Kamu yang membuka biro arsitektur tadi?" tanya David.
Aisyah menganggukkan kepala. "Tempatnya pun masih menyewa. Kami harus bayar uang sewanya setiap bulan. Jadi, jangan menambah beban hutangku!"
"Aku bisa membantumu mencarikan klien. Apa kamu mau?"
Tawaran yang begitu menggiurkan bagi Aisyah. Dia tersenyum senang, tetapi beberapa saat senyum itu menghilang.
"Kalau kamu memberi bantuan, pasti ada syaratnya." Aisyah menyatukan alisnya, bibirnya pun maju beberapa mili.
Aisyah sudah tahu trik David selama ini. Memang otak pembisnis seperti itu, selalu tidak mau rugi. Hanya ada keuntungan di mata mereka.
Aisyah berpikir sejenak. Dia bimbang apakah harus menerima tawaran David atau tidak. Namun, jika dipikir-pikir, pria itu memiliki koneksi yang luas. Pasti koleganya juga orang hebat-hebat.
Dengan menyetujui tawaran David, Aisyah meyakini bahwa proyek besar sudah menanti. Tidak seperti sekarang yang mereka kerjakan, hanya proyek pembangunan rumah berskala kecil atau renovasi saja.
"Bagaimana? Apa kamu sedang mempertimbangkannya?" tanya David karena tidak mendapat tanggapan dari Aisyah.
"Syaratnya apa?"
Aisyah belum menyetujuinya. Dia ingin tahu terlebih dahulu syarat yang diberikan David. Jika menurutnya bisa dilakukan, maka dia akan menyetujuinya.
__ADS_1
"Cukup mudah. Kamu harus terima cincin ini." David menyeringai. Dia yakin bahwa kali ini akan menang.
Melihat seringai David, dia tahu jika ada maksud lain lagi. Dia tidak ingin dijebak.
"Tidak mungkin hanya itu. Pasti ada yang lain." Aisyah juga menyeringai. Dia sudah tahu akal licik David. Dirinya tidak ingin masuk ke dalam perangkap orang itu.
"Ternyata ketahuan juga." Tawa keluar dari mulut David. Pria itu tidak bisa menyembunyikan maksudnya lebih lama lagi. Aisyah sungguh susah dibohongi sekarang.
Aisyah menatap David lekat. Wanita itu masih menunggu apa yang akan dikatakan sang pria. Dia ingin siusatunya jelas sebelum dirinya memutuskan. Wanita itu tidak ingin menjadi pihak yang dirugikan kelak.
"Aku ingin kamu disampingku dan selalu menemaniku. Dengan begitu, kamu tidak perlu membayar lagi hutang padaku. Cukup dengan hatimu, semua hutangmu akan lunas."
David menarik nafas panjang sebelum mengucapkan kata yang sudah dia persiapkan sejak di Prancis.
"Maukah kamu menjadi istriku?"
Mata Aisyah membulat seketika. Bukan itu ucapan David yang dia tunggu. Setidaknya menjadi kekasih seperti saat itu.
Namun, ini langsung ingin menjadi istri. Mulut Aisyah kaku, tidak bisa berkata-kata. Ria tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Bersambung.
__ADS_1