
Pagi hari di rumah yang baru dibeli Aisyah satu bulan yang lalu, kesibukan pun tampak di sana. Bersama dengan sang kakak ipar, wanita itu sibuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.
Ya, Fajar dan istri ikut tinggal bersama Aisyah. Karena Indah kini sedang hamil, mereka tidak ingin wanita itu sendirian jika tinggal terpisah. Kalau serumah, masih ada bapak dan ibu untuk menemani.
"Ais!" pekik Indah. Dia meraih tangan Aisyah.
Ditatapnya jari manis Aisyah, sebuah cincin telah melingkar di sana. "Ini? Bagus sekali."
"Baiklah, karena kamu sudah melihatnya, aku akan menceritakan padamu."
Aisyah pun menceritakan apa yang terjadi kemarin. Tidak ada satu pun yang dia tutupi. Untuk masalah hati, dia lebih percaya kepada Indah.
"Apa? Pria itu?"
Indah sungguh tidak mempercayainya. Beberapa bulan terakhir, Aisyah tidak pernah lagi menceritakan tentang David. Sang sahabat hanya menceritakan Riski yang beberapa kali menemuinya. Jadi, dia pikir cincin itu dari Riski.
Aisyah menganggukkan kepala. Dia mengiyakan pertanyaan Indah tadi.
"Aku kira Kak Riski, ternyata dia. Tapi, benar juga. Walaupun Kak Riski kaya, tidak mungkin juga dia sanggup membeli cincin seindah itu," pikir Indah.
Indah memang lebih setuju jika Aisyah dengan David. Sang sahabat telah menceritakan semua tentang David kepadanya.
Aisyah hanya mengatakan kepada Indah bahwa David sangat menyukainya. Pria itu tidak suka jika dirinya dekat dengan pria lain. Bahkan akan menghajar siapa saja yang menggodanya. Jadi, itulah alasan mengapa dirinya dibawa pergi saat itu.
Hal itu justru dianggap Indah sangat imut. Seorang pria kaya sangat posesif dengan Aisyah. Dia menganggap seperti cerita di novel saja, 'CEO Posesif'.
__ADS_1
Tidak tahu kenapa juga Aisyah hanya menceritakan tentang itu kepada Indah. Padahal, banyak hal lain tentang pria tersebut. Namun, saat itu hanya hal tersebut saja yang ada dalam pikirannya.
"Lalu, bagaimana rencanamu selanjutnya? Bukankah kamu tahu sendiri kalau bapak tidak menyukai dia?"
Indah sebenarnya sedikit heran kenapa Sukiman tidak menyukai David. Dirinya hanya mendengar bahwa Aisyah diminta untuk menjauhi David. Tidak ada alasan apa pun yang dikatakan sang ayah saat itu.
"Untuk itu, aku mau meminta bantuanmu. Kumohon, bantulah adikmu yang malang ini." Aisyah mengerjapkan mata, mencoba merayu Indah dengan mata imut.
"Hais." Indah menghembuskan nafas. "Baiklah, nanti aku akan mencobanya saat kita selesai sarapan."
Aisyah sangat gembira. Dia melompat-lompat seraya memeluk Indah.
"Berhenti melompat! Kamu mengguncang anakku!" Indah melebarkan mata, memperingatkan Aisyah tentang kehamilannya.
"Maafkan tantemu ini, ya, Sayang." Aisyah mengecup perut Indah yang masih kelihatan rata.
...****************...
"Ada apa?" tanya Sukiman. Dia melihat sang anak dan menantu saling berbisik.
"Ti-tidak apa-apa, kok, Pak," jawab Aisyah.
Indah segera mencubit lengan Aisyah. Dia berharap adik iparnya segera mengatakan hal itu. Tidak ada banyak waktu karena besok keluarga David akan datang untuk melamar secara resmi.
Aisyah meringis kesakitan akibat cubitan Indah. Tangan yang satunya segera mengelus lengan yang dicubit. Hal itu pun dilihat oleh sang ayah.
__ADS_1
"Kenapa kalian ribut-ribut di meja makan? Di sini tempatnya untuk makan, bukan ribut-ribut." Suara Sukiman terdengar tegas, tetapi lembut.
"Aku mau ngomong sesuatu, Pak," ucap Aisyah. Suaranya pelan karena sedikit ragu. Namun, dia tetap harus mengatakannya.
"Baiklah, kita bicara setelah selesai makan," pinta Sukiman.
Aisyah menganggukkan kepala. Dia melanjutkan sarapannya bersama keluarga dengan tenang.
Tak berapa lama, mereka telah menyelesaikan sarapan. Kini, Aisyah, Indah, Bu Siti dan Pak Sukiman telah duduk di ruang keluarga. Fajar dan Bagas tidak berada di sana karena mereka telah pergi ke kesibukan masing-masing.
"Katakanlah, apa yang ingin kamu bicarakan!" Sukiman menatap sang anak penuh sayang.
Aisyah menggenggam tangan Indah dengan erat. Dia merasa takut untuk menyampaikannya walaupun sang ayah terlihat santai.
"Pak, ehm," jeda Aisyah, "lusa keluarga David akan berkunjung ke sini."
"David?"–Sukiman mengingat-ingat nama itu sejenak–"pria yang waktu itu, ya?"
"Untuk apa?" tanya Sukiman dengan wajah tidak suka. Dia heran kenapa tiba-tiba David ingin ke rumahnya. Dia kira pria itu tidak akan pernah berani berkunjung.
Biasanya 'kan begitu sikap pria playboy, mereka hanya memanfaatkan wanita demi kesenangan. Setelah itu, dia akan mencampakkan wanita itu. Jadi, untuk apa pergi berkunjung jika tidak ada keseriusan dalam hubungan.
Begitulah kira-kira yang dikatakan Riski kepada Sukiman saat itu. David adalah pria yang suka mempermainkan hati wanita. Dia mengatakan hal itu ketika yang lain sudah memasuki mobil. Jadi, hanya ayah Aisyahlah yang tahu tentang keburukan David.
Bersambung.
__ADS_1