
Beberapa hari berlalu, Ari tak lagi nampak di hadapan Aisyah. Gadis itu tak tahu harus mencari ke mana pria itu. Kampus begitu luas, tak mungkin dia berkeliling kampus untuk mencari Ari. Pesannya pun tak pernah dibalas dan telepon juga tak diangkat.
Aisyah pun kini sedikit menghindari David walaupun ada perasaan tak enak hati. Pasalnya, setelah saat itu memang benar adanya bahwa Denok tak lagi merundungnya. David benar-benar bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
Sejak saat itu pula, Aisyah merasa sekarang David semakin melembut saja terhadapnya. Gadis itu juga tak lagi melihat David bersama wanita dengan baju kurang bahan. Sesungguhnya dia senang dengan hal itu, setidaknya David sekarang lebih baik dari pada dulu.
Namun, Aisyah sudah bertekad tak akan mengambil hati dengan semua yang dilakukan David kepadanya. Gadis itu tetap memikirkan Ari. Dia tidak ingin persahabatan Ari dengannya hilang begitu saja.
"Ari, tunggu!" teriak Aisyah.
Aisyah bersyukur karena bisa bertemu dengan Ari seusai kuliah. Gadis itu memang berniat mencari Ari, hingga ke gedung mata kuliah pria itu. Dia tak ingin berlama-lama dalam keadaan seperti ini karena Ari sudah dia anggap sebagai keluarga.
Ari hanya menengok sesaat untuk memastikan siapa yang memanggilnya. Dia segera berjalan kembali menuju tempat parkir setelah melihat Aisyah yang berlari ke arahnya. Pria itu masih sakit hati dengan kedekatan Aisyah dan David.
"Ari, tunggu!" Aisyah meraih tangan Ari, menahannya agar tidak menghindarinya.
"Kenapa kamu menemuiku?" tanya Ari tanpa menoleh ke arah Aisyah.
"Ari, kamu jangan begitu! Maafkan aku karena telah menyakitimu. Aku berjanji 'kan menjauhi David, persahabatan kita lebih utama. Kumohon, jangan menghindariku lagi!" Suara lirih Aisyah menggetarkan hati Ari.
Ari membalikkan tubuh, menatap Aisyah dengan butiran air mata yang menggenang di pelupuk mata. Hatinya luluh seketika. Tak pernah dia melihat Aisyah memohon kepadanya dengan begitu sangat.
Ari menarik tangan Aisyah, lalu membawa gadis itu ke taman. Mereka duduk di sebuah bangku di sana. Sesungguhnya, dia sangat merindukan gadis mungil itu. Akan tetapi, sakit hati menguasai dirinya.
__ADS_1
"Aisyah." Ari menatap lembut wajah gadis itu. Ingin rasanya dia memeluk tubuh mungil di hadapannya. Namun, ia tak bisa karena Aisyah pasti akan menolaknya.
"Maafkan aku juga karena terlalu memaksakan keinginanku. Tak seharusnya aku begitu. Kebebasanmu adalah hakmu, jadi kamu bisa melakukan yang kamu inginkan."
"Aku sangat mencintaimu, tetapi aku juga tak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Aku tahu itu." Ari menundukan kepala, tak sanggup lagi menatap Aisyah.
"Maafkan aku, Ari. Aku memang belum bisa mencintaimu, tapi aku menyayangimu dan mengkhawatirkanmu seperti keluarga sendiri." Aisyah menatap Ari dengan wajah sedih.
Ari tersenyum miris mendengar penuturan Aisyah. Dia tak menyangka bahwa Aisyah hanya menganggapnya saudara. Hatinya terasa teriris, sungguh mengecewakan.
"Tak apa. Itu sudah cukup bagiku. Mendapat perhatianmu seperti ini juga cukup. Kamu rela mencariku, itu pun sudah membuat aku bahagia. Namun, suatu saat aku masih berharap kamu bisa mencintaiku." Ari sedikit memaksakan senyum.
"Semoga saja. Setelah ini aku minta kamu jangan jauhi aku lagi, ya! Tak ada tempatku berkeluh kesah selain denganmu," pinta Aisyah.
"Aku takut nanti kamu hanya dipermainkannya. Dibuang begitu saja setelah dia mendapatkan yang dirinya mau. Hanya itu kekhawatiranku." Ari mengungkapkan dirasa.
"Aku tahu kekhawatiranmu. Aku sangat senang akan hal itu. Jadi, sekarang kamu mau memaafkanku, 'kan?" Aisyah menggenggam tangan Ari yang tergeletak bebas di bangku.
Ari menatap ke arah Aisyah, tubuhnya pun mengikuti pergerakan kepala. Pria itu membalas genggaman tangan sang gadis. Dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Aisyah," panggil Ari lirih, "bolehkah aku memelukmu sebentar. Aku sungguh merindukanmu."
"Eh!" Aisyah tersentak. "Tapi ...."
__ADS_1
Ari segera memeluk tubuh mungil Aisyah tanpa menunggu persetujuan. Pria itu merasa sedikit tenang walaupun tak mendapat balasan. Dia mencium Aroma manis parfum Aisyah, membuat jatungnya semakin memacu.
Aisyah hanya membolakan matanya, tak menerima, bahkan menolak pelukan itu. Dia hanya tercengang oleh tindakan Ari.
Bug! Bug!
Tubuh Ari dan Aisyah jatuh dari bangku hampir bersamaan. Namun, tubuh Arilah yang jatuh lebih keras. Pria itu meringis merasakan sakit di bo*ongnya, lalu segera menatap ke atas.
Sosok pria bertubuh kekar kini telah berada di sampingnya. Pria itu mencengkeram leher baju Ari. Sebuah bogem mentah dia arahkan ke pipi kiri Ari. Seketika itu pula ujung bibir Ari mengeluarkan darah segar.
"David!" Aisyah memeluk lengan David yang hendak melancarkan tinjunya lagi.
David menahan gerakannya. Pria itu segera melapaskan kaos Ari, menghentakkannya ke tanah. Dia menegakkan tubuhnya kembali, lalu menatap tajam Aisyah.
Aisyah melepaskan lengan David. Kepala gadis itu tertunduk, tak berani menatap ke arah pria di hadapannya. Dia begitu takut dengan mata yang ingin mematikan milik pria itu.
"Sudah kukatakan padamu, jangan dekat-dekat dengan Dia!" David menunjuk ke arah Ari.
Aisyah hanya diam, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Suara David sangat mengintimidasinya, hingga seluruh tubuhnya bergetar. Tulangnya seperti hilang, melebur bersama teriakan David.
David menarik tangan Aisyah, membawanya pergi dari tempat itu. Aisyah tak dapat melakukan apa-apa karena begitu takut. Dia hanya mengikuti langkah pria itu.
Ari yang masih terduduk ditanah hanya bisa menatap kepergian Aisyah. Hatinya semakin sakit, sebab Aisyah melupakan janjinya. Gadis itu bahkan tak berusaha menolaknya.
__ADS_1
Bersambung.