
"Semalam kamu mabuk, minumlah ini"
Renata menyiapkan sup yang hangat , untuk Bob.
Bob melihat supnya , dan duduk meminumnya.
Mengerang kesakitan pada kepalanya, "Kenapa?" Renata menghampirinya.
Bob menatap kearahnya, Renata terkejut melihat tatapannya, mencoba melepaskan lengannya dipundaknya.
"Brug" ,suara Bob yang beranjak dari mejanya, Renata tidak dapat menghindarinya, Bob mengambil lengannya ,memegangnya dengan erat dan menahannya.
Bob menatapnya beberapa saat, Renata sangat gugup melihatnya, mereka hanya terdiam bertatapan. setelah akhirnya Bob melepaskan tangannya. Renata agak kesal, banyak sekali pertanyaan dalam pikirannya,
"Apa yang kamu inginkan dariku?"
Bob yang berjalan menuju kursinya, terhenti mendengar teriakan itu, berusaha tenang dan tidak memperdulikannya. Bob duduk dikursinya . Renata yang masih penasaran, merasa dirinya dipermainkan, menghadapi sikap Bob yang arogan membuatnya jengkel dan tak tahan lagi.
"Kamu mencoba menghindariku?"
"Jangan mencoba berdebat denganku" jawab Bob dengan santai.
"Kenapa? kamu tidak berani"
Bob terdiam, dan tidak menghiraukannya lagi, dia tetap meminum sup dengan sendoknya.
"Kamu hebat mempermainkanku" Renata kesal setelah melihatnya, lalu pergi meninggalkannya dengan cepat.
Bob mengambil handphone dalam sakunya, meminta Al menunda rapatnya pagi ini. Bob beranjak dari mejanya , bergegas cepat menemui Renata yang masuk kedalam kamarnya.
Pintu tidak terkunci Bob pun dengan mudahnya masuk , nampak airmata dipipi Renata,
"Ada apa kamu kemari?" Renata terkejut ,melihat Bob tiba-tiba berjalan masuk kedalam kamarnya .
Bob menarik lengannya , hendak menyeretnya masuk kedalam kamarnya .
"Lepaskan,apa yang akan kamu lakukan , lepas" Bob segera melepaskannya dengan cepat , bicara dengan menahannya yang tersandar didinding ,Bob merapatkan tubuhnya, mendekatinya ,
"Mengapa kamu marah padaku?",
Nafas Renata terengah-engah , merasa syok , dengan sikap Bob yang lagi-lagi arogan padanya .
"Apa yang aku inginkan darimu?" lanjut Bob
"Bukankah itu pertanyaanku padamu" Bob terus bicara padanya, Renata tertegun tidak mengerti,
__ADS_1
"Kamu bilang aku mempermainkanmu??", Bob mulai marah, Nafas Renata masih terengah-engah, jantungnya berdetak sangat cepat, nampak ia sangat takut .
Bob tersenyum , berbisik pada telinganya "Tidak ada satu kesalahanpun yang kamu sadari? apakah aku harus mengingatkanmu, memberitahumu dengan jelas"
"Apa yang kamu maksud?" Renata bicara dengan lirih disampingnya.
Bob tersenyum , merasa sudah lelah .Menarik lengannya masuk kedalam kamar, menguncinya dikhawatirkam Renata akan lari.
Renata semakin terkejut melihat sikapnya , Bob mengeluarkan akta nikah mereka dan sebuah kertas, kertas berisikan kontrak .
Merobek kertas itu dihadapannya ,
"Aku akan membebaskanmu" Bob meninggikan suaranya, bicara dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan mengurusnya, tidak akan memaksamu lagi" lanjutnya,
Renata terkejut dengan melihat dan mendengar perkataan Bob .
"Tapi..aku" Renata bicara dengan terbata-bata.
"Aku berpikir suatu hari nanti mungkin kamu akan memahami , namun sepertinya aku banyak berharap,aku tidak dapat mengubahmu" sela Bob.
Merasa tidak rela , tetapi Renata hanya bisa diam, bicara dalam hatinya "Aku sesungguhnya memahamimu , perasaanmu, namun aku takut jika aku salah mengenai dirimu, aku telah jatuh cinta padamu" Renata pun pergi meninggalkan Bob, hendak merapikan barangnya.
"Hari ini kamu masih harus tetap bekerja ke kantor, dan aku akan segera mengurus cerai denganmu, satu hal lagi , kamu tidak usah pergi dari rumah ini, rumah ini atas namamu, aku yang akan pergi"
Renata terdiam mendengarnya, haru juga kesedihan menyelimutinya, "Ingin ku katakan padanya,namun aku ,aku ini siapa" , Renata menangis setelah Bob pergi dari kamarnya.
Bob pergi tanpa mengemas pakaiannya.
Dikampus, setelah mata kuliah selesai, Renata terus berfikir.
"Haruskah aku bekerja dengannya lagi? namun kini pekerjaan itu satu-satunya harapanku, apakah aku harus mengacuhkannya, menganggap semuanya tidak pernah terjadi?"
"Ini tidak masuk akal, dia begitu mudah memberikannya padaku (memikirkan rumah dan lainnya), tidak mungkin !!? apa dia menyukaiku?" wajah Renata melongo ,terkejut dalam pikirannya,
"Tidak, itu tidak mungkin, dia hanya bermain-main denganku,mana mungkin" wajahnya berubah sedih ,
"Aku tidak menyadari kesalahanku, tidak seharusnya aku menyimpan rasa padanya, apakah dia menyadari itu?!"
Al sangat senang melihat Renata kembali ke kantor, sungguh lega, meskipun ia dengar jika mereka berdua akan berpisah.
Al menunjuk padanya, bola matanya meminta Renata untuk mengikutinya, "Kita akan kemana?"
,Al menunjukkan tempat baru untuknya.
__ADS_1
"Ini??" tanya Renata
"Ini tempat anda sekarang"
"Al masih bicara sopan padaku, mungkinkah Bob tidak cerita padanya" Renata bicara dalam hatinya,
"Terima Kasih" mengucapkan terimakasih pada Al,
Al tersenyum dan pergi meninggalkannya, kursi ini masih nampak dari ruangan Bob, meskipun terletak disamping luar ruangannya.
"Sungguh kamu tidak tahu malu Nat, kamu berhutang banyak padanya, bahkan rumah mewah yg kamu tempati adalah miliknya, pemberiannya, tidak mungkin ada orang yang sebaik itu, dia telah mengurus keluargamu, kamu yakin dia tidak meminta apapun darimu ?!! Jika kamu memiliki rasa malu , kembalikan semua sisanya, termasuk biaya pengobatan Ibumu , baiklah mulai saat ini aku akan bekerja dengan sangat baik , akan ku kumpulkan upahku , untuk membayarnya, aku harus punya harga diri " Renata bicara dalam hatinya, setelah ia merenung sesaat, mengeluarkan kunci rumah dalam tasnya .
"Aku akan berkemas sekarang, dan akan mengembalikannya sekarang" menatap pada kuncinya .
"Tok.. tok" Renata mengetuk pintu ruangan Bob. Bob sudah tahu kedatangannya dari Al.
"Masuk"
Renata pun masuk , membungkukkan badannya memberi hormat , "Maaf dengan tidak mengurangi rasa hormatku, anda harap mau menerima ini ,aku akan mengembalikan semua sisanya, terimakasih atas segala bantuannya" Renata meletakkan kunci rumah dimejanya, "Terimakasih, terimakasih banyak" Renata membungkukkan badannya beberapa kali, untuk berterima kasih . Lalu pergi keluar dari ruangan Bob . Bob meremas kunci nya , sungguh geram melihatnya .
"Belikan aku kopi dengan cepat, dicafe Mediterania sekarang, jangan sampai merubah suhu kopinya seditkitpun"
"Baik" Renata mendapat telpon dari Bob .
"Apa, dicafe Mediterania???, untuk jalan kesana tidak dapat dilalui dengan taxi , masuk kedalamnya itu cukup jauh" Renata dengan cepat pergi, menuruti perintahnya.
"Bagaimana ini???" mencari bis atau taxi yang lewat, setelah berjalan sekian lama .
Renata melihat toserba didepannya, masuk kedalam untuk membeli botol yang mampu menahan suhu air panas.
"Kak bolehkah aku meminjam motormu, aku butuh bantuanmu,tolong antarkan aku,aku akan membayarmu", Renata bicara tergesa-gesa pada seorang pria yang sedang nonkrong terdiam bersama temannya.
"Berapa kamu mau bayar?"
"Ini ,cukup" menunjukkan uang dengan nominal yang lumayan besar. Pria itu pun setuju membantu.
Renata kembali juga dengan diantar pria itu hingga depan gedung.
"Terimakasih, terimakasih banyak" ,Renata hendak masuk dengan berlari . Namun kebetulan ,ia bertemu dengan Bob yang berjalan bersama Al menuju luar gedung . Bob menatapnya dari jauh . Renata dengan cepat menghampirinya , "Maaf , ini , ini kopi anda " Bob menghentikan langkahnya ,melihat Renata memberi kan sebuah botol, "Al ambil"
"Baik" ,Al mengambilnya , sedangkan Bob terus berjalan ,melewatinya .
Al berbicara pelan "Tugasmu sudah aku note kan dimeja" , Renata menganggukan kepalanya ,jika dia mengerti.
Renata termenung melihatnya ,Bob pergi tanpa mengajaknya . Tapi Renata pun tidak merasa tersinggung, Renatapun jalan menuju tempat kerjanya tanpa memikirkannya lagi.
__ADS_1