
Dada Riski semakin sakit ketika melihat dekorasi ruangan yang sangat mewah. Di ujung ruangan terdapat panggung dengan beberapa kursi di sana. Di belakang kursi tertata rapi berbagai jenis bunga, sungguh sangat megah.
Aisyah, seharusnya aku dan kamu yang duduk di sana. Dulu, kenapa aku tidak melakukan pernikahan seperti ini? batin David. Wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam.
"Ayo, Ris!" Laela menarik tangan Riski. Mereka berjalan mencari kursi untuk duduk.
"Yah, aku mau duduk di sana saja." Riski menunjuk pada sebuah meja dan kursi di pojokkan.
Doni menuruti permintaan Riski. Pria itu tahu alasan sang anak mengapa memilih untuk duduk di pojokan. Jadi, dia tidak menanyakan hal itu lebih lanjut.
Acara sudah di mulai, kedua mempelai telah naik ke atas pelaminan. Saat itu pula, Riski tidak pernah mengangkat wajahnya. Dadanya semakin sesak hingga tanpa terasa air mata merebes di sela-sela kelopak mata. Ya, ini adalah pernikahan David dan Aisyah.
"Riski, waktunya kita memberikan selamat kepada kedua mempelai." Laela menepuk lembut lengan sang anak.
Riski yang sedang menangis dalam diam, tidak menghiraukan ibunya sama sekali. Di dalam pikirannya sudah tidak ada apa-apa lagi, kosong.
"Sudahlah, Bun. Kita saja yang ke sana," ucap Doni. Dia memahami perasaan Riski.
Doni dan Laela berjalan mendekati kedua mempelai. Dengan senyum yang di paksa, pria itu mulai menyalalami orang tua David.
"Di mana anak kamu?" tanya Wildan.
__ADS_1
"Ehm, dia ada, duduk di sana." Doni menoleh ke arah di mana Riski duduk.
"Dia sedang tidak enak badan. Jadi tidak bisa memberikan selamat," lanjutnya. Dia tersenyum canggung.
Aisyah mendengar percakapan ke dua pria tersebut. Wanita itu segera memperhatikan Riski yang sedang duduk dengan menundukkan kepala. Hatinya tersentuh hingga tanpa terasa buliran kecil terjun bebas dari kelopak matanya.
David menyadari hal tersebut. Dengan sigap, pria itu mengambil sebuah tisu. Dia mengusap perlahan pipi wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
"Kenapa? Kamu masih suka sama dia?" tanya David. Dia berbisik di telinga Aisyah, tetapi dengan nada begitu dingin.
"Tidak!" Aisyah menggeleng cepat, menyadari kesalahannya.
"Tidak boleh!" ucap David tegas.
"Baiklah." Aisyah menundukkan kepala.
Semenjak sah menjadi suami David, wanita itu sudah berjanji pada diri sendiri akan menuruti semua ucapan sang suami. Dia kini memutar kembali otaknya, mengenang kejadian saat itu. Kejadian di mana Riski menceraikannya.
Aisyah kini lebih tenang, tidak memikirkan Riski lagi. Dia merasa bahwa itu juga akibat kesalahan pria itu sendiri. Buat apa dirinya ikut sedih.
Aisyah kembali mengangkat kepala, tersenyum bahagia. Dia menyambut para tamu yang memberi ucapan selamat. Kadang tawa juga terdengar dari mulut wanita itu.
__ADS_1
Hati Riski semakin sakit ketika mendengar tawa itu. Dia sudah tidak tahan dengan suasana di sana. Pria itu memutuskan untuk meninggalkan acara yang belum selesai.
"Mau ke mana?" tanya Laela. Dia meraih tangan Riski hingga pria itu menghentikan langkah.
"Aku mau keluar, Bun. Di sini sangat panas," ucap Riski tanpa menoleh ke arah sang bunda.
Di ruang ber-AC seperti itu, Riski merasa sangat kepanasan. Bukan tubuhnya yang panas, tetapi hati pria itu. Dia merasa gerah dengan apa saja yang dilihat dan didengarnya.
"Biarkan saja dia mencari udara segar di luar!" ucap Doni.
"Tapi, Yah," protes Laela.
Doni menggenggam erat tangan Laela yang bebas di atas meja. Kepalanya mengangguk yang mengartikan bahwa itu yang terbaik untuk Riski. Dia tahu sang anak sudah tidak tahan berada dalam situasi seperti itu.
Laela akhirnya melepaskan tangan Riski. Dia sedih melihat sang anak yang seperti itu. Kini dirinya juga merasa bersalah karena ikut andil dalam kehancuran hati anaknya.
Riski telah sampai di luar gedung. Dia duduk di sebuah taman kecil. Air matanya tak bisa terbendung lagi. Penyesalan pun tak ada gunanya.
Kini di matanya sudah tidak ada kehidupan lagi. Masa depan bagi pria itu hanyalah kosong, tanpa arti. Tidak tahu bagaimana dirinya akan menjalani sisa hidupnya. Dia merasa hidupnya sudah cukup sampai di sini.
Bersambung.
__ADS_1