Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 144. Singa Ngamuk.


__ADS_3

"Ngobrol sama teman saja tidak boleh. Apaan, sih, dia! Sebegitunya dia cemburu." Aisyah diam sejenak untuk berpikir. "Apa benar dia cemburu?"


Muka Aisyah seketika memerah dan tersenyum ketika menyadari bahwa David cemburu. Entah, tak tahu mengapa hatinya senang. Namun, saat mengedarkan pandangan, senyum itu hilang seketika. Dia melihat taman seberang di mana dulu David tengah bermesraan dengan seorang wanita.


"Dia, mana mungkin cemburu? Wanitanya, 'kan, banyak? Apalah arti diriku ini. Jangan terlalu percaya diri kamu, Aisyah," gumam Aisyah. Dia memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya dengan kasar. Hanya beberapa kali kunyahan, makanan itu langsung ditelan.


"Dia bilang akan meninggalkan semua itu. Apa bisa dipercaya? Memang belakangan ini aku tidak melihat dia dengan wanita mana pun. Tapi, pria berduit seperti itu pasti juga bisa main di belakangku."


Sungguh Aisyah meluapkan emosi dalam dada kepada makanan yang tak bersalah di pangkuannya. Perasaan benci kembali muncul kepada David.


"Demi beasiswa aku harus bersabar. Setelah aku lulus, aku bisa terbebas dari dia." Aisyah mengepalkan tangan di depan dada, mencoba memberi semangat pada diri sendiri.


"Aisyah!"


"Denok." Aisyah tersenyum menyambut Denok yang berjalan berdampingan dengan Ari.


Denok duduk di sebelah Aisyah, sedangkan Ari di sebelah Denok.


"Makan?" Aisyah menyodorkan makanannya kepada mereka berdua.


"Tidak."


"Iya."


Denok melirik ke arah Ari. "Kamu, 'kan, sudah makan?"


"Sudah lama aku tidak mencicipi masakan Aisyah. Kangen juga," ucap Ari. Dia seraya menggigit sebuah perkedel yang telah diambilnya.

__ADS_1


Denok menatap tajam ke arah Ari. Namun, nama juga Ari, dia tak akan sungkan kepada Aisyah. Tak mengindahkan Denok, pria itu masih saja makan.


"Tak apa. Kamu juga, ayo makan." Sekali lagi Asyah menyodorkan kotak makan kepada Denok.


"Sudah, ambil saja. Kalau tidak ambil, nanti kamu menyesal karena tidak merasakan makanan Aisyah," bujuk Ari kepada Denok.


Akhirnya Denok mengambil sebuah perkedel juga. Dia mulai menggigitnya. Saat gigitan pertama, wanita itu terkejut merasakan betapa enaknya makanan Aisyah.


"Enak, 'kan?" tanya Ari yang menyadari perubahan ekspresi wajah Denok.


"Hu um. Enak sekali masakanmu, Ais. Kenapa tidak sejak dulu aku merasakan masakanmu. Bisa ketagihan aku nih." Denok sangat menikmati makanan itu.


"Bilang saja mau nambah." Ari tersenyum menggoda Denok.


"Ih!" Denok mencubit lengan Ari seraya melirik tajam ke arah pria itu.


Sebelum Denok mengambil, Ari lebih dulu mengambilnya. Memang sedari dulu Ari penggemar masakan Aisyah. Jadi, dia tidak ingin kehabisan.


Denok sekali lagi melirik tajam ke arah Ari, lalu mendapatkan senyuman penuh oleh pria itu. Aisyah tersenyum melihat kelakuan mereka berdua, sungguh sangat menggemaskan menurutnya.


"Ada apa, Nok, kamu nemuin aku?" tanya Aisyah di sela-sela makannya.


"Cuma mau tanya, bagaimana perkembangan hubungan kalian?" tanya Denok balik.


"Ya, begitulah. Dia orangnya sangat menyebalkan," keluh Aisyah.


"Menyebalkan bagaimana?" tanya Denok penasaran.

__ADS_1


Aisyah pun menceritakan kejadian tadi pagi kepada mereka. Wajah yang tadi sudah nampak ceria, sekarang kelihatan kesal lagi. Semua itu tidak dapat dia sembunyikan.


"Kalau kamu tidak suka, jangan kamu terusin! Nanti malah kamu sendiri yang sakit," saran Denok kerena iba.


"Maafkan aku yang telah kasih kamu ide konyol ini." Ari, sang pencetus ide merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Lagi pula, kalau aku tidak mengambil penawaran ini, aku tidak bisa melanjutkan kuliah." Aisyah tersenyum ke arah mereka supaya tidak ada perasaan tidak enak di hati mereka.


Tiba-tiba Denok berdiri, lalu menatap Aisyah. "Aku mau ke toilet dulu, Ais."


Denok mengalihkan pandangan ke arah Ari. "Kamu tunggu sebentar, ya , Sayang."


Selepas kepergian Denok, mereka pun asyik berbincang. Seperti kebiasaan lama Ari, dia selalu saja menjahili Aisyah. Kotak makan gadis itu direbut olehnya.


Aisyah berusaha mengambil kembali kotak makan itu dengan memegang baju di bagian pinggang Ari. Namun, karena kalau postur, Aisyah tak mampu merebutnya. Dia kembali duduk dengan wajah cemberut.


Dari kejauhan, seseorang melihat itu semua. Amarah di dadanya memuncak dan siap akan meledak. Dia berjalan cepat menuju orang-orang yang membuatnya marah.


Aisyah dan Ari pun seketika terdiam tatkala orang itu telah berdiri di hadapan mereka. Tatapan mata yang siap mematikan, membuat Ari seketika meringsut. Dia mengembalikan kotak makan kepada Aisyah.


Tanpa berpamitan kepada Aisyah, Ari segera meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin mendapat pukulan yang akan melukai wajah tampannya. Dengan membayangkannya saja, ngilu sudah terasa di pipi. Tapa sadar, dia mengelus pipi seraya berjalan menjauh.


"Ada apa? Kenapa ketakutan begitu?" tanya Denok saat bertemu di tengah jalan dengan Ari.


"Ayo, pergi. Ada singa yang siap menerkam mangsa," jelas Ari. Dagunya menunjuk ke arah di mana Aisyah berada.


Denok mengikuti pandangan Ari. Dia mengerti, lalu mengingat kembali cerita Aisyah. Wanita itu juga tidak mau sang kekasih menjadi sasaran kecemburuan orang itu. Jadi, dirinya bergegas mengikuti langkah sang kekasih.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2