
Tidur yang sangat nyenyak , begitu puas dengan ranjang yang nyaman, rasanya tidak ingin beranjak dari sini, karena hari ini hari libur kerja,dan libur kuliah, Renata menggeliat, membuka kedua matanya, terkejut mendapati Bob, yang tertidur masih dengan posisi nya semalam "Apakah dia seperti ini dari sejak malam? " Renata menyadari jika mereka juga satu selimut, diam-diam membalikkan badan dan membelakanginya . Namun Bob menyadarinya, dan sedikit membuka matanya, namun hanya tersenyum ,tidak menghiraukannya .
"Kakak sepertinya, sebentar lagi kita akan punya cucu" Bibi menggoda Ibu, berjalan-jalan di halaman kapal. Tanpa disengaja Ibu bertemu Ibu Renata, mereka bertatapan dan saling membalas senyum . Bibi pun pergi meninggalkan mereka.
Bob keluar kamar lebih dulu, melihat dari kaca dalam kapal ,Ibu sedang bicara dengan Ibunya Renata. Al yang berdiri disampingnya, menyajikan kopi dibantu para pelayan.
Al "Tuan, sebaiknya anda memberi tahu nyonya jika sarapan sudah siap" ,
"Bagaimana cara membangunkannya, kamu bisa mengajariku?" menggoda Aldi
"Apa , aku?" Al tersipu
"Ya"
"Yang aku lihat di Tv biasanya , salah satu dari mereka membangunkannya dengan ciuman"
Mendengar itu Bob terbatuk,
"Tuan , anda tidak apa-apa?"
Bob menyerengeh dalam hati , "Bagaimana aku menciumnya?, terakhir kali aku menciumnya, dia berubah jadi lebih galak" memikirkan saat Bob sudah dua kali menciumnya .
Ibu yang berjalan masuk seorang diri , melihat Bob yang sudah duduk menyantap sarapannya.
"Sayang, dimana istrimu? Al , apakah dia masih dikamarnya?"Ibu bertanya pada keduanya .
Al mengangguk, Ibu hendak berjalan menuju kamar, Bob menarik nya dengan pelan,
"Biarkan saja bu, tunggu dia datang saja"
Ibu terdiam, dan sedikit memahami , entah apa yang ada dibenak Ibu , Ibupun tersenyum ,
"Baiklah Ibu mengerti" Ibu berbisik ditelinga Bob, dan pergi menyambut tamu dan kerabat lain.
"Ini sudah siang, bagaimana aku keluar sesiang ini, ini sangat memalukan , bagaimana kata mereka " Renata bergeming, dengan menahan lapar , terdengar suara perut keroncongan bunyi beberapa kali.
Terlihat ada yang membuka pintu , Renata sigap melihatnya , terlihat Bob yang masuk, berjalan menghampiri, "Sayang kamu tidak lapar, aku tahu kamu kelelahan, dan tidak berdaya, maka dari pada itu aku membawa makananmu kedalam kamar" beberapa pelayan pun masuk membawa meja yang didorong berisi makanan .
__ADS_1
Lalu Para pelayan pun pergi,
"Dia sengaja mengatakan itu dihadapan mereka , menunjukkan jika kami melakukannya semalam" bergeming dalam hati, Renata tidak menghiraukan dengan apa yang dikatakan Bob , karena itu sudah terlanjur .
Renata pun makan dalam kamar, dan Bob meningalkannya.
"Sayang ,apakah Renata baik-baik saja" Ibu bertanya ,yang khawatir setelah melihat Bob keluar dalam kamar.
"Dia baik-baik saja bu"
Beberapa orang berbisik , tersenyum menggoda, juga Bibi , Ibu Renata pun ada disana .
"Jangan khawatir pengantin wanita baik-baik saja" Ibu berbicara pada beberapa tamu disana ,
Sebagian tamu ada ada ditempat lain.
Renata, enggan keluar kamar, dia sangat malu dihadapan kerabat dan tamu, Ibu Renata datang mengetuk pintu , Renata membukanya,
"Ibu"
"Bolehkah Ibu masuk?"
"Ibu sangat bahagia, Ibu merasa ,kini Ibu bisa pergi dengan tenang"
"Ibu apa yang Ibu katakan?"
Ibu hanya tersenyum, "Namun Ibu tidak ingin pergi dengan cepat, sebelum Ibu dapat menimbang cucu-cucu Ibu, anakmu dan anak Daniel juga", Renata sendu mendengar Ibu dan memeluknya,
"Ibu, aku masih sangat muda"
"Kenapa jika masih muda, namun Ibu yakin rahimmu sudah cukup kuat untuk dapat mengandung, apalagi Ibu sudah memintanya pada suamimu, untuk segera memberi Ibu cucu"
"Apakah Ibu sungguh ingin aku cepat-cepat memiliki anak? Aku masih kuliah bu, aku masih ingin belajar, dan aku ingin cari pengalaman dulu dan a ku" Renata terhenti ,mengingat bagaimana jika suatu hari nanti dia berpisah dengan Bob, memiliki anak dari suami yang lain .
Ibu menatapnya, "Semua bisa kamu lakukan bersamaan" .
Renata terdiam, mendengar desakan Ibu."Kamar kami terpisah cukup jauh dari kamar kalian, agar kalian tidak terganggu"
__ADS_1
"Ibu sudah hentikan, aku tidak ingin mendengar Ibu membicarakan itu" Renata sedikit membentak,
Ibu terdiam , berpaling dan berjalan menuju pintu keluar ,
" Keluar lah dari kamar, ikuti Ibu sekarang" Ibu sejenak berhenti untuk mengatakannya.
Renata pun berjalan keluar dari kamar mengikuti Ibu . Sungguh malu ,nampak memerah wajahnya. Bob melihatnya dari kaca luar.
"Seharian ini aku terus berinteraksi dengannya, sebelumnya aku hanya menghabiskan beberapa jam saja bersamanya" Renata berjalan-jalan dan mengobrol diseputaran kapal bersama Bob. Sesekali Bob memeluknya, membelai , dan memegang tangannya, dan itu tidak terjadi dengan sengaja , Bob memeluknya saat mengajak Renata masuk kedalam kapal, karena hembusan angin yang kencang, membelai rambut, yakni tepatnya merapikan rambut renata yang tertiup angin, memegang tangannya , menuntunnya dalam berjalan .
"Hari ini dia tidak buruk, apa yang aku impikan dalam suatu hubungan terjadi hari ini, aku cukup tersentuh dengan ceritanya, juga perhatiannya,dia tidak seperti yang pertama aku kenal, munkin aku terlalu dini menilai negatif akan dirinya"
"Apakah kamu senang dengan pekerjaanmu?" tanya Bob
"Ya"
"Apakah kamu bekerja untuk membayar hutang padaku?"
"Pria ini, mengapa dia menanyakan itu" Renata bicara dalam hati nya
"Ya"
Bob tersenyum , mendengar kepolosan Renata,
"Aku.. aku sangat berterimakasih karena kamu sudah menolongku juga Ibuku, meskipun itu semua ada timbal baliknya" ,tiba-tiba Renata mengatakan kalimat yang pedas, perasaan Bob terasa perih mendengarnya, meskipun sebenarnya apa yang dia katakan tidak lah salah. Renata berjalan masuk kedalam kapal, Bob menghentikan langkahnya, berdiri hanya dengan melihatnya, yang sudah berjalan jauh didepannya.
Bob memasuki kamar,melihat Renata yang masih terjaga terbaring memandangi sinar bulan dari kaca jendela.Bob berbaring diranjang, setelah berganti pakaian .Nampak Suasana sekamar dengan orang asing, tidak satu kata patahpun yang mereka katakan ,mereka hanya terbaring ditempat tidur yang sama, dengan pikiran yang berbeda,seperti tidak memiliki hubungan apa-apa. Renata begitu acuh, hingga akhirnya mereka tertidur.
Angin diluar bertiup sedikit kencang, terasa agak dingin , Renata terbangun dari tidurnya, waktu menunjukkan pukul 2 pagi, dia melihat Bob yang nyenyak, tidur memunggunginya . Renata menutup erat dirinya dengan selimut. Bob pun terbangun karena dingin . Renata menggigil, Bob mendekat ,membetulkan selimutnya agar lebih hangat, namun Renata masih menggigil . Bob berfikir untuk mencari tambahan selimut, namun dia tidak mendapatkannya didalam kamar .
Tidur yang nyenyak juga hangat, itu yang Renata rasakan, namun setelah terbangun Renata mendapati Bob, yang memeluk erat dirinya , tercium aroma tubuhnya yang wangi, rambutnya yang berkilau, tubuh yang kekar, sungguh nyaman saat dipeluknya,dan lagi-lagi harus disadari jika aku adalah istri pura-puranya, aku tidak boleh terlena apalagi jatuh cinta padanya , semuanya harus aku simpan hanya untuk suamiku yang sebenarnya kelak. Renata mendorong Bob dan beranjak dari ranjangnya , hari ini adalah hari terakhir , Suasana diluar kapal sungguh sudah ramai dengan tamu mereka nampak bersenang-senang, ini sungguh pesta yang luar biasa tiada hentinya , makanan yang disajikan semuanya sangat istimewa , meskipun yang hadir kerabat dan teman , dan privacy tapi untuk kapal sebesar ini, ini sungguh berlebihan .
Bob terbangun dari tidurnya, waktu sudah siang, baru kali ini dia tidur senyenyak itu .
Bob keluar kamar berjalan-jalan, Al sudah menunggunya ," Dimana nyonya?"
"Disana" menunjukkan ke kolam berenang,
__ADS_1
Bob berjalan untuk melihat, Renata sedang tersenyum dan berbincang dengan berapa teman wanita nya disana.