
Di taman kampus, tempat di mana Aisyah biasa beristirahat, ada dua orang lainnya ikut duduk di sana. Mereka adalah Denok dan Ari. Memanfaatkan kepergian David, mereka sering berbincang dengan Aisyah.
"Kalian semakin romantis aja. bikin aku iri," ucap Aisyah. Wanita itu memperhatikan sepasang sejoli yang dimabuk asmara.
"Ya, iya dong. Ini semua juga berkat kamu. Terima kasih, ya, Ais." Ari menatap Aisyah, lalu tersenyum.
"Sama-sama. Aku juga senang kamu bisa bersama Denok, jadi kamu nggak ngejar-ngejar aku lagi deh." Aisyah menutupi tawanya dengan tangan.
Denok segera melirik tajam ke arah Aisyah. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum. Wanita itu juga merasa berterima kasih kepada Aisyah karena telah membantunya bersatu dengan Ari.
"Eh! Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan kak David?" tanya Denok. Wanita itu takut jika terjadi apa-apa dengan Aisyah.
"Entahlah." Aisyah menggelengkan kepala. "Aku juga tidak pernah menganggapnya serius. Aku hanya butuh beasiswa itu agar bisa terus kuliah."
Terlihat sekali kekecewaan di wajah Aisyah. Kini dirinya juga bingung untuk memutuskan. Kadang Aisyah merasa bahwa David benar-benar menyukainya. Wanita itu menjadi tidak tega untuk meninggalkan pria itu. Dia takut jika David akan berbuat nekat dan melukai diri sendiri.
Aisyah tahu bahwa David orang yang sangat nekat. Pria itu akan melakukan apapun demi dirinya. Semua itu dia lihat ketika sang pria dikeroyok preman saat di kafe.
Namun, kadang Aisyah juga merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh David. Hal itu membuat dirinya merasa dipermainkan saja. Akan tetapi, keputusan tetap harus diambilnya sebelum terlambat.
"Tunggu sebentar, aku mau angkat telepon dulu," ucap Aisyah setelah merasakan ponselnya yang bergetar terus.
Setelah mendapat anggukan dari kedua orang tersebut, Aisyah segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, assalamualakum."
"Waalaikumsalam, Ai. Bagaimana? Kamu ikut untuk datang ke wisudaku, 'kan?"
__ADS_1
Oh, iya. Kurang seminggu lagi acara wisuda, batin Aisyah.
"Maaf, Kak Riski. Aku tidak bisa. Aku ada acara sendiri di sini."
"Oh, aku mengerti. Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa."
Riski hari ini akan meninggalkan kota B. Masalah proyek di kota itu sudah tertangani. Dia tidak ingin memaksa Aisyah untuk ikut. Namun, dirinya akan tetap berusaha mengambil hati gadis itu dengan cara yang berbeda, tanpa pemaksaan.
Setelah beberapa obrolan, mereka mengakhiri panggilan. Aisyah berjalan kembali menuju Ari dan Denok. Kepalanya tertunduk, memikirkan sesuatu.
Kenapa Devid belum memintaku untuk datang ke acara wisudanya? Mungkinkah ....
"Ais, kamu kenapa?" Pertanyaan Ari membuyarkan lamunan Aisyah.
"Tidak apa-apa, kok." Aisyah tersenyum. Dia tidak ingin meperlihatkan kegundahannya.
Angin yang berhembus di antara pohon-pohon, sedikit membawa pergi kemungkinan-kemungkinan yang ada di benak Aisyah. Untuk saat ini, dia mencoba untuk tidak memikirkan semua itu.
Memang Clara lebih cocok menemaninya. Apalah aku?
Aisyah menyunggingkan bibir. Dia menyadari akan dirinya sendiri.
Jangan terlalu percaya diri. Tidak mungkin orang sekaya David menyukai wanita miskin sepertiku, batin Aisyah.
"Sekarang lebih baik aku fokus belajar untuk menuju sukses. Setelah itu, aku baru akan membuktikan kepada mereka semua bahwa aku layak untuk dihargai."
Aisyah mengambil dompet yang ada di dalam tas. Sebuah kartu hitam kini telah berada di tangannya.
__ADS_1
"Kartu ini, sebaiknya aku kembalikan saja. Aku tidak mau menanggung hutang lagi kepada David. Biarlah dia mencabut beasiswaku."
"Untuk Kak Riski, semoga saja dia tidak berharap padaku. Walaupun kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, menjaga silaturahmi sepertinya tidak buruk. Aku tidak mau kembali ke dalam lubang yang sama. Apalagi ibunya, pasti dia akan menindasku lagi."
Aisyah bermonolog. Kini dia sudah bertekad pada tujuannya.
"Daripada hanya berharap menjadi istri orang
kaya yang sangat mustahil, lebih baik kutuangakan dalam tulisanku saja. Semangat, Aisyah."
Kartu hitam pun diletakkan, lalu Aisyah mengambil ponsel. Dia mulai menuangkan imajinasinya kesebuah tulisan. Walaupun hasil belum tercapai, setidaknya dia dapat menghilangkan rasa gundahnya.
...****************...
Hari wisuda pun tiba, Aisyah berdiri di bawa pohon menyaksikan acara itu berlangsung. Benar saja, sampai pada hari itu, David tidak memintanya untuk menemani. Dia pun semakin membulatkan tekat.
Aisyah masih tetap di sana hingga acara selesai. Dia berharap dapat bertemu David. Matanya pun mencari-cari keberadaan pria itu. Akhirnya, sosok yang dia cari terlihat berjalan mendekat ke arahnya bersama dua orang lainnya.
Ternyata wanita itu tidak ada. Lalu, kenapa dia tidak memintaku? Ah, sudahlah. Kenapa juga aku memikirkannya. Dia saja tidak memikirkanku, batin Aisyah.
Pria yang dipandangi Aisyah sejak tadi, kini menyadari keberadaan wanita itu. Ada perasaan senang ketika melihatnya.
"Ma, Pa, kalian pulang saja dulu. Aku masih ada urusan dengan teman-temanku," ucap David.
"Baiklah. Tapi, kamu ingat harus segera pulang." Sang papa mengingatkan kembali.
David mengingat kembali ucapan papanya semalam, sesaat setelah tiba di kota B. Setelah acara wisuda selesai, sang papa meminta David mengurusi bisnis keluarga yang ada di Prancis. Di sana ada proyek baru yang mengharuskan dia tinggal selama beberapa tahun.
__ADS_1
"Baiklah." Senyum mengembang di bibir David. Akhirnya dia bisa bertemu wanita yang sangat dirindukannya.
Bersambung.