Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 185. Bonus Ch, Kecelakaan


__ADS_3

Seminggu kemudian, Aisyah telah pulang dari bulan madu. Dia tidak ingin berlama-lama menikmati suasana itu walaupun sesungguhnya David masih menginginkannya. Wanita itu hanya memikirkan tentang perusahaan yang baru saja dia dirikan. Dirinya tidak mau membebankan semua tanggung jawab kepada Dinda.


"Sudah siap?" tanya David. Tangannya sudah melingkar pada pinggang Aisyah dari arah belakang.


"Hu-um." Aisyah menoleh ke arah sang suami lalu tersenyum manis.


"Selalu saja begitu!" keluh David. Dia membuang muka agar tidak menatap ke arah Aisyah. "Jangan menggodaku seperti itu atau kita batal pergi, nih."


Aisyah mencubit pinggang David. "Apaan, sih? Siapa juga yang godain kamu. Itu, tuh, pikiran kamu yang terlalu m3sum."


David yang telah melepas pelukannya, meringis akibat cubitan itu. Tangan pria itu mengelus di mana tadi Aisyah mencubit walaupun dia tidak merasa sakit sama sekali.


"Cakit," rengeknya bagai anak kecil. Ya, kini David begitu manja kepada Aisyah.


"Sudah! Ayo, kita berangkat! Sudah ditunggu, nih." Aisyah menyambar tas di atas kasur lalu berjalan keluar kamar.


David yang merasa diabaikan, mengerucutkan bibir. Pria itu segera mengikuti Aisyah menuruni tangga. Dengan langkah lebar, dia mendahului sang istri hingga sampai di mobil.


"Silahkan masuk, Tuan Putri." David membukakan pintu mobil untuk Aisyah.


"Terima kasih, Rajaku."


Kebahagaiaan tersirat dari wajah mereka. Sungguh, pasti akan ada yang iri jika melihatnya.


David melajukan mobil menuju Perusahaan DMF GROUP. Mereka berdua akan mengadakan rapat bersama sebuah perusahaan pengembang. Rapat itu akan membahas proyek pembangunan sebuah appartemen di kota yang sangat terkenal di dunia.


"Tuan, Anda sudah ditunggu dari tadi," ucap seorang resepsionis ketika mereka setelah sampai di lobi.


"Baik, terima kasih."

__ADS_1


David berjalan kembali menuju lift lalu naik ke lantai tiga untuk sampai pada ruang rapat. Aisyah berjalan di samping pria itu dengan sikap profesional. Hubungan suami istri tidak mereka tampilkan ketika bekerja.


Aisyah sedikit gugup letika akan bertemu pihak pengembang itu. Ya, tahu sendiri pihak pengembang itu adalah Pratama Group. Dirinya masih merasa belum siap untuk melihat Riski.


David mulai mendorong pintu ruang rapat, saat itu pula jantung Aisyah semakin tak karuan. Dia bersiap melihat orang yang berada di balik pintu. Matanya semakin lebar ketika pintu terbuka sempurna.


Ayah! batin Aisyah. Kenapa tidak Kak Riski?


"Tuan Besar Pratama," sapa David. Tangannya terulur untuk memberikan salam.


Doni pun menyambut tangan pria itu dengan hangat lalu berganti kepada Aisyah. Kecanggungan tampak di antara mereka. Pria itu memberikan senyum sendu, sedangkan sang wanita tersenyum kikuk.


"Kenapa Anda sendiri yang datang? Di mana anak Anda?" tanya David. Dia mempersilahkan Doni untuk duduk dengan menggunakan isyarat tangan.


"Dia pulang ke kota S. Katanya ada sesuatu yang harus dia lakukan di sana," jelas Doni. Dia menjatuhkan bokongnya ke atas kursi.


"Oh, baiklah kalau begitu. Kita mulai saja meeting kali ini."


Pertemuan berjalan lancar tanpa ada perdebatan. Semua belah pihak menghargai pendapat pihak lain. Namun, ditengah rapat itu, telepon Doni berkali-kali berdering.


David menganggap telepon itu sangat penting karena si penelepon berkali-kali membuat panggilan. Akhirnya, dia meminta Doni untuk menganggkat panggilan itu.


"Apa? Riski kecelakaan?" tanya Doni. Suaranya terdengar jelas meskipun dia kini tengah berdiri di pojok ruangan.


Kak Riski kecelakaan? tanya Aisyah dalam hati. Dia syok ketika mendengarnya. Walau bagaimanapun juga, wanita itu tidak akan pernah melupakan kebaikan Riski begitu saja. Untuk itu, mendengar kabar tersebut, hatinya pasti juga merasa sedih.


"Lalu, bagaimana keadaannya?" lanjut Doni.


Tak berapa lama setelah pertanyaan itu, ponsel yang berada di genggaman Doni, meluncur bebas ke bawah. Tubuh pria itu pun seketika lemas seperti tak bertulang.

__ADS_1


David dan Aisyah segera menghampiri Doni. Mereka juga ingin tahu bagaimana keadaan Riski. Terdengar isakan lirih dari pria itu, membuat mereka berdua semakin penasaran.


David merengkuh bahu Doni lalu membawanya duduk di kursi. Sedangkan, Aisyah menggenggam tangan pria itu erat. Wanita itu mencoba menguatkan hati sang mantan ayah mertua.


"Tenang, Pak. Coba Anda katakan pada kami. Bagaimana keadaannya. Mungkin kami bisa membantu," ucah David. Dia mengelus pundak Doni.


"Ri-Riski." Isakan Doni semakin jelas terdengar, membuat suaranya tenggelam.


"Tenangkan diri Anda. Katakan perlahan-lahan, Yah." Aisyah semakin erat menggenggam tangan Doni lalu duduk berhadapan dengan pria itu, membuat sang pria sedikit tenang.


"Riski, me-meninggal dalam kecelakaan tunggal, Ai." Doni kembali terisak. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Masa depannya, masa depan perusahaan, kini telah hilang. Satu-satunya harapan telas pergi untuk selamanya.


Andai dulu dirinya tidak melepaskan Aisyah, pasti semua tidak akan seperti ini. Dia juga pasti telah menimang Pratama kecil saat ini. Karena kebodohannya dengan mengetujui pernikahan sang anak dengan penipu itu, kini semua telah hancur. Doni menyalahkan kepada diri sendiri.


Aisyah membolakan mata tak percaya dengan apa yang dikatakan Doni. Perlahan, tetapi pasti kelopak mata wanita itu dipenuhi dengan buliran air. Kemudian, terjun bebas karena tak dapat menampungnya lagi.


David yang menyadari hal itu, segera memeluk tubuh sang istri. Dia tidak akan memarahi sang istri karena telah menangisi Riski. Walau bagaimanapun juga, pria itu pernah masuk ke dalam hati istrinya.


Aisyah melepaskan tangan dari genggaman Doni. Tangannya beralih melingkar di pinggang David. Kemudian, dia membenamkan wajah di perut bidang pria itu.


Kak Riski, kenapa hidupmu berakhir seperti ini? Apakah akan sama jika aku kembali padamu? Maafkan aku yang tak bisa kembali kepadamu.


Aku tahu hatimu hancur saat itu. Tapi, kamu masih mau datang kepernikahanku. Aku tidak akan pernah melupakannya dan juga kamu.


Semua kebaikanmu, kenangan kita, akan selalu terukir indah dalam hati. Selamat jalan, Kak Riski. Semoga surga untukmu, batin Aisyah.


Namun, penyesalan tak akan pernah merubah segalanya. Takdir sudah berkata seperti itu. Kita—mahklukNya, tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kecuali hanya berserah.


...♡♡♡♡♡...

__ADS_1


Terima kasih, Semua. Bonusnya satu aja, ya. 😁


__ADS_2