
Setelah mengantar Dinda pulang, kini Riski dan Aisyah telah sampai di sebuah cafe yang lagi hits di kota itu. Nuansa biru dan putih yang mendominasi tempat itu, membuat bagaikan sedang berada di Santorini.
Riski memilih tempat outdoor di lantai tiga agar bisa menikmati suasana alam. Dia merasa akan lebih romantis jika makan di sana. Pria tersebut berharap, Aisyah akan menyukainya.
"Bagus juga tempat ini. Ingin sekali foto, tapi ..." gumam Aisyah. Gadis itu melirik ke arah Riski. Bagi dia terlalu memalukan jika dirinya mengambil foto saat ini. Nanti pasti Riski akan senang dan bangga.
"Kamu kelihatannya mau foto. Mau aku fotokan?" Riski menawarkan diri. Dia melihat perubahan wajah Aisyah. Kini kelihatan lebih berseri daripada tadi.
"Tidak usah! Siapa juga yang mau foto!" Wajah Aisyah seketika berubah lagi. Kini bibirnya tampak sedikit manyun.
"Aku gemas dengan bibirmu itu. Ingin sekali memakannya habis."
"Apaan!" gerutu Aisyah. Kini bibirnya semakin manyun. Aisyah mengedarkan mata pada pemandangan sekitar.
"Nah, 'kan?" Riski tersenyum.
Aisyah segera menarik bibirnya ke dalam. Matanya melirik ke arah Riski karena tidak senang pria itu telah menggodanya.
Namun, ujung mata Aisyah menangkap ketika Riski tersenyum. Jantung seketika berdendang, dia merasa senyum David sangat menawan. Apa mungkin karena Riski cinta pertamanya? Jadi, dia masih merasakan desiran cinta dihatinya dan tidak bisa melupakan pria itu seutuhnya.
Ujung-ujung bibir Aisyah tanpa terasa bergerak ke atas. Dia telah terhipnotis oleh senyuman pria dingin yang langka. Ingin rasanya menatap senyuman itu terus.
"Ayo, makan. Jangan pandangi terus, nanti besar jepala." Lagi-lagi Riski tersenyum. Dia sangat senang karena Aisyah memperhatikannya.
"Eh! Jangan terlalu percaya diri, ya. Siapa bilang aku ngelihatin kamu. Aku hanya lihat bukit itu." Aisyah menunjuk pemandangan bukit di balik punggung Riski. Sungguh, dia sangat malu karena kepergok mengagumi pria itu.
Tapi senyumnya ... tidak boleh! Ingat, dia telah mencampakkanku. Aku tidak boleh tergoda olehnya, batin Aisyah.
__ADS_1
"Untuk apa Kak Riski datang lagi ke sini?" tanya Aisyah. Dia mulai menikmati nacos yang berada di hadapannya.
"Waktu itu aku sudah bilang akan ke sini lagi untuk membawamu pulang. Apa kamu tidak ingat?" Riski mengingatkan kembali ucapannya dulu kepada Aisyah dengan penuh kelembutan.
"Hm." Aisyah menganggukkan kepala, kemudian menelan makanan di mulutnya. "Aku juga pernah bilang kalau aku tidak mau ikut kamu."
"Sekali ini saja, Aisyah, kumohon. Dua bulan lagi aku wisuda. Aku ingin kamu menghadirinya." Riski menatap Aisyah penuh iba.
Benar juga, dua bulan lagi Kak Riski Wisuda. Begitu pula David. Dia pasti juga memintaku buat datang ke acara wisudanya, batin Aisyah.
"Maaf, aku tidak bisa, Kak. Apa pun alasan Kak Riski memintaku pulang ke rumah, Kakak, aku tidak bisa." Aisyah menggelengkan kepala.
"Apa karena bunda, kamu tidak mau kembali padaku?" tanya Riski. Masih dengan kelembutan suara yang sama, tetapi dengan wajahnya yang begitu serius.
"Mungkin." Aisyah mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah kalau sekarang kamu menolak ajakanku. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat nanti kamu mau. Aku akan tetap berjuang untuk mendapatkanmu."
"Terserah!" Aisyah tidak perduli dengan ucapan Riski.
"Lihat langit senja itu. Bagus, ya?" Riski menatap ufuk barat. Langit jingga telah nampak, membuat suasana di antara mereka semakin indah.
"Hm." Aisyah mengikuti kemana Riski menatap. "Begitu indah."
"Membuat suasana semakin romantis," celetuk Riski.
Seketika pula Aisyah mengalihkan pandangan ke arah Riski. Dia tidak terima dengan apa yang diucapkan pria itu.
__ADS_1
"Aku dan Kakak bukan apa-apa. Jadi, tidak ada kata romantis." Aisyah menatap tajam ke arah Riski.
"Kita, 'kan, sepasang kekasih? Nyatanya sekarang kamu mau aku ajak makan." Riski menunjukkan senyum kemenangan.
Hampir saja aku lupa. Oh, langit senja, kenapa kamu menghipnotisku? Juga senyum itu ... ih, sial! Kenapa dia tersenyum terus? batin Aisyah. Dia menggelengkan kepala pelan untuk menghilangkan senyum Riski dari pikirannya.
Menurut perasaan Aisyah, Riski yang sekarang dengan yang dulu sangat berbeda jauh. Dulu, pria yang super dingin itu menjadi penuh senyum. Kata-katanya pun lembut hampir meluluhkan hati sang gadis.
"Jangan berpikir terlalu berlebih. Aku cuma mau ngembaliin ini." Aisyah menaruh kartu berwarna emas di hadapan Riski.
"Kenapa? Ini milikmu." Riski merasa heran. Dia mendorong kembali kartu itu di hadapan Aisyah.
"Di dalamnya ada uang kakak. Aku tidak bisa menerimanya." Lagi-lagi kartu itu didorong Aisyah ke hadapan Riski.
"Uang itu aku berikan untukmu, untuk kamu gunakan. Aku tahu kehidupan anak kos seperti apa. Temanku dulu juga ada yang sepertimu. Jadi, aku sangat paham."
"Aku tidak ingin kamu kuliah sambil bekerja. Hanya kuliah saja sudah menghabiskan tenaga dan pikiran. Apalagi ditambah kerja. Karena terlalu lelah, aku takutnya kamu sakit dan tidak ada yang menjagamu."
Terlihat wajah Riski yang begitu khawatir. Dia sangat tidak rela jika terjadi apa-apa pada Aisyah karena gadis itu sedang di tanah rantau.
"Sudah ceramahnya?" tanya Aisyah. Wajahnya terlihat bosan mendengarkan kata-kata Riski tadi.
"Maaf, aku hanya mengkhawatirkanmu karena aku mencintaimu."
Deg
Dada Aisyah seperti didobrak. Kata-kata yang selalu dia nanti saat menikah dengan Riski, akhirnya kini terdengar juga. Hati gadis itu sangat senang mendengarnya. Namun, semua itu sudah terlambat. Riski telah menceraikannya saat ini.
__ADS_1
Jika boleh jujur, sebenarnya rasa benci Aisyah kepada Riski mulai menghilang. Semua itu terjadi seiring berjalannya waktu. Rasa bencipun terkikis perlahan karena memang Aisyah bukan seorang yang pendendam.
Bersambung.