
Satu bulan telah berlalu semenjak kepergian David ke kota J. Malam pun selalu mereka lalui hanya dengan berkirim pesan. Tak banyak kata yang mereka ketik karena mereka bukan pujangga.
Pesan pun diawali dari David yang mengucapkan salam. Entah pagi, siang, sore maupun malam. Lalu, berlanjut ke percakapan biasa. Menanyakan sudah makan, sedang apa, atau hanya memperingatkan tentang sesuatu.
Yah, seperti percakan dua orang anak SMP. Akan tetapi, begitu saja sudah membuat gadis itu senang. Entah mengapa dirinya merasa sangat diperhatikan. Apa mungkin dia telah jatuh hati padaptia itu? Entahlah.
Sudah selama itu pula Aisyah hanya berdiam diri di kos setelah pulang kuliah. Sejak dulu dia memang jarang jalan ke suatu tempat dengan teman kampus. Biasalah, uang yang selalu menjadi alasan.
Namun, kini dia punya sebuah kartu yang tidak dia ketahui berapa isinya. David hanya bilang, 'banyak isinya. Kalau mau pakai, tinggal pakai saja.' Dia pun berencana untuk jalan-jalan.
"Aisyah, sudah siap?" tanya Dinda yang baru saja datang.
"Iya." Aisyah beranjak dari duduknya di taman kos. Dia menghampiri Dinda yang telah menunggu di gerbang.
"Maaf, merepotkanmu telah menjemputku kemari," ucap Aisyah saat dirinya telah berada di samping Dinda.
"Tak masalah. Aku malah senang, akhirnya kamu mau diajak jalan." Dinda tersenyum ke arah Aisyah.
Mereka berangkat menuju pusat perbelanjaan. Mereka berencana menonton film terbaru di sana. Ini merupakan pengalaman baru bagi Aisyah. Jadi, dia sangat antusias.
Denok tidak ikut bersama mereka. Bukannya Aisyah tidak mengajaknya, tetapi dia tidak bisa ikut pergi. Wanita itu ada acara kencan sendiri dengan Ari. Aisyah pun tak mau mengganggu mereka.
"Kamu takut?" tanya Dinda. Dia merasakan tangan Aisyah yang dingin menyentuh tangannya saat memasuki gedung bioskop.
"He-he-he. Sedikit." Aisyah mencoba tersenyum untuk menghibur diri.
Memang dasarnya Aisyah penakut, eh malah diajak nonton film horor. Sejak saat lampu dimatikan saja jantungnya sudah berdebar sangat kencang. Apa lagi setelah film dimulai, entah bagaimana keadaan Aisyah.
Dua jam yang begitu menyiksa telah selesai. Akhirnya kini Aisyah bisa bernafas lega. Ruang di sekelilingnya sudah terang. Tidak takut lagi jika nanti tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.
"Aisyah-Aisyah, kamu itu. Kalau takut film horor, tadi bilang dong. Percuma deh kalau nonton tapi sampai akhir tutup mata." Dinda menggelengkan kepala. Dia baru tahu jika Aisyah sepenakut itu.
__ADS_1
Tawa yang dibuat-buat keluar dari mulut Aisyah. "Yang penting aku ikut keteganganmu."
Aisyah memang ikut tegang walau tidak melihat filmnya. Saat orang-orang teriak pun, dia ikut teriak. Dia hanya terbawa oleh suasana.
"Tidak begitu juga! Bayar tiket tapi tidak nonton, ya, percuma. Lain kali kalau kamu ajak aku nonton film lagi tidak mau, ah," keluh Dinda.
"Eh! Kok begitu? Jangan begitu. Lain kali jangan nonton film horor saja! Biar aku juga bisa nonton, ya?"
"Lha, tadi kenapa kamu mau aku ajak nonton film horor?"
"Tadi sepertinya kamu ingin sekali nonton film itu. Aku tidak mau mengecewakanmu." Aisyah tersenyum manis ke arah Dinda.
"Ya sudahlah, kalau begitu. Terima kasih ya, Aisyah."
"Ayo, sekarang kita makan dulu. Sudah lapar, nih." Aisyah mengelus-elus perutnya yang rata.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Aisyah. Dia masih terbayang film yang barusan di tontonnya.
Semua orang yang berada di sekitar sontak melihat ke arah Aisyah. Melihat apa yang sedang terjadi.
"Ternyata benar, Aisyah."
Mendengar suara yang sangat akrab ditelinganya, Aisyah segera menoleh ke belakang. "David! Kapan kamu pulang?"
David tak kunjung menjawab pertanyaan Aisyah. Dia terus saja memandangi wajah gadis itu. Pria itu terpesona dengan wajah sang gadis. Sungguh lebih manis saat terbalut jilbab.
"Heh!" Aisyah mengibaskan tangan di depan wajah David.
"Kamu pakai jilbab? Kenapa?" tanya David.
"Hu um, nanti aku jelaskan. Em ... jelek, ya?" Aisyah menundukkan kepala, merasa malu.
__ADS_1
"Cantik. Aku lebih suka kamu pakai begini daripada yang kemarin," puji David.
"Terima kasih." Wajah Aisyah mulai memerah atas pujian David. Padahal, saat orang lain memuji dirinya, biasa saja. Ada hal lain ketika pria itu memujinya, senang dan bangga.
"Oh ya, kamu belum jawab pertanyaanku. Kapan pulang?" tanya Aisyah segera setelah ingat pertanyaannya tadi.
"Aku pulang kemarin. Maaf, tidak ngabari kamu," ucap David merasa bersalah. "Kamu sedang apa di sini?"
"Tadi habis nonton film bareng Dinda. Oh ya, kamu belum kenal Dinda, 'kan? Ini Dinda teman satu fakultas denganku." Aisyah menunjuk pada orang yang berada di sampingnya.
Dinda hanya menundukkan kepala seraya tersenyum ke arah David. Pria itu pun membalas dengan hal yang sama.
"Oh, kamu habis nonton film itu. Makanya, saat aku pegang pundakmu, kamu teriak." David telah memahami situasinya.
"Kamu sendiri ngapain?" tanya Aisyah.
"Aku juga nonton bareng temanku. Dia sedang di toilet. Sebentar lagi juga keluar," jelas David.
"David." Seorang wanita tiba-tiba merangkul lengan David.
"Sudah selesai?" tanya David pada wanita di sebelahnya. Wanita itu mengangguk mengiyakan.
"Ayo kita pergi." Wanita itu begitu saja menarik lengan David untuk pergi. Dia tidak peduli bahwa pria itu sedang bercakap dengan orang lain saat itu.
"Aisyah, aku pergi dulu!" pamit David sedikit berteriak karena sudah semakin jauh.
Aisyah membeku ketika melihat adegan itu. Dilihatnya, wanita tadi menggelayut manja di lengan David dengan kepala menyender di bahu. Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Walaupun begitu, matanya masih saja mengikuti ke mana mereka pergi.
"Aisyah, ayo kita pergi!" ajak Dinda. Dia membawa Aisyah pergi dari sana agar temannya itu tidak terus memperhatikan dua orang tadi.
Bersambung.
__ADS_1