Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 174. Bertemu Dua Keluarga


__ADS_3

Aisyah berjalan cepat meninggalkan tempat parkir. Dia memasuki sebuah restoran yang terlihat mewah. Mata pun dia edarkan ke sekeliling tempat itu.


"Memang, kalau orang kaya ngajak makannya pasti di tempat seperti ini," gumam Aisyah.


Restoran bernuansa Eropa sangat terlihat klasik, tetapi tetap mewah. Lampu-lampu dinding menghias ruangan. Beberapa piring kuno juga tertata rapi di rak kaca yang menambah suasana klasik semakin kental.


Aisyah berusaha mencari rekan bisnisnya di sana. Betapa dia merasa bodoh karena tidak bertanya kepada Dinda tentang rekan bisnis yang akan ditemui. Kakinya terus melangkah diantara meja yang penuh pengunjung untuk menemukan sang rekan.


Langkah Aisyah terhenti ketika melihat David dan Riski bersama keluarga mereka masing-masing duduk di sebuah meja yang sama. Dia tidak menyangka pemandangan itu. Pikiran pun bertanya, apa yang sedang mereka lakukan.


Namun, Aisyah tidak memikirkan hal itu lebih lanjut. Dia ingin segera menemukan rekan bisnisnya. Wanita itu merasa sudah terlambat. Dirinya tidak ingin membuat mereka lebih lama menunggu.


"Aisyah, sini!"


Tiba-tiba David melambaikan tangan, lalu meminta Aisyah untuk datang. Wanita itu ragu untuk melangkah mendekat. Namun, tidak disangka pria itu malah menghampirinya.


"Mencari DMF GROUP, 'kan?" tanya David ketika telah sampai di sisi Aisyah.


"Ba-bagaimana bisa tahu?" Aisyah terheran dengan pertanyaan David. Bagaimana pria itu bisa mengetahui tujuannya.


"David Maulana Farid Group."


Aisyah tanpa sadar membuka mulutnya. Dia tidak menyangka bahwa DMF GROUP adalah milik David. Pikirannya pun seketika buyar, tidak tahu harus berpikir apa.

__ADS_1


Jadi, DMF GROUP itu ... dan pihak pengembangnya adalah kelurga Kak Riski. Kenapa aku tidak tahu selama ini. Apakah ini kebetulan? Batin Aiysah.


"Sudah, jangan bengong lagi. Kami sudah menunggumu. Ayo, kita ke sana!" David meraih tangan Aisyah. Dia membawa wanita itu menuju meja di tengah ruangan.


Pikiran Aisyah tidak dapat fokus selama David membawanya menuju meja mereka. Pertanyaan tentang semua ini berputar-putar di pikirannya. Dia merasa kenapa bisa kebetulan seperti ini.


Tidak! Ini pasti tidak kebetulan. Aku tahu, ini pasti rencana David, batin Aisyah.


"Perkenalkan, dialah pemimpin Perusahaan DAN. Mungkin kalian semua sudah mengenalnya." David tersenyum ke arah orang-orang yang sedang bengong.


Tentu saja mereka semua terkejut. Apa lagi keluarga Riski. Tidak ada seorang pun berkedip saat itu. Mulut mereka pun sedikit terbuka karena ketidak percayaan.


Orang yang paling tidak percaya adalah Laela. Wanita itu merasa desain tersebut terlalu indah jika dikerjakan oleh seorang Aisyah. Dia ingin mengelak semua kenyataan itu, tetapi inilah kenyataannya. Dirinya tidak mungkin meragukan apa yang dikatakan David.


"Bu Laela." Aisyah tersenyum kaku. Dia sedikit ragu saat menyodorkan tangan ke arah wanita itu. Wanita itu takut jika tangannya diabaikan.


"Kenapa manggilnya begitu? Bukankah selama ini kamu memanggilku bunda?" Laela tersenyum dengan mata berbinar.


Orang tua David sedikit heran dengan keakraban mereka. Mereka tanpa aba-aba menatap sang anak. David menyadari tatapan mereka, lalu menganggukan kepala yang mengartikan dia akan menjelaskannya.


"Eh, i-iya." Aisyah melepaskan tangannya, lalu beralih menyalami Doni.


Doni tersenyum hangat kepada Aisyah. Sudah menjadi cirinya. Senyum itulah yang membuat Aisyah betah tinggal di keluarga Pratama saat itu. Senyum itu tidak berubah sampai saat ini.

__ADS_1


Ketika Aisyah menyalami Riski, pria itu menatapnya lekat. Genggaman tangan pun terasa erat. Dia merasa sepertinya pria itu tidak mau melepaskan jabatan tangan itu.


Aisyah, kamu bisa sehebat ini tanpa bantuanku. Aku merasa senang. Apa lagi jika kamu mau kembali kepadaku, batin Riski.


"Hm!" dehem David.


Mereka berdua seketika melepaskan tangan masing-masing. Aisyah menundukkan kepala karena merasa tidak enak kepada orang tua David. Sementara itu, hati David sudah panas dibakar api cemburu.


"Ayo, duduk!" David menyuruh Aisyah dengan suara memerintah.


"Ih, apaan, sih! Sebentar baik, sebentar marah!" gerutu Aisyah.


David menarik sebuah kursi dengan kasar untuk Aisyah duduk. Dia merasa jengkel kepada kedua orang yang tidak tahu diri itu.


Apakah selama beberapa bulan terakhir ini dia masih berhubungan dengan pria itu? David melirik ke arah Aisyah.


Aku sengaja tidak mengganggumu agar fokus dalam bisnis. Ternyata, kamu di belakangku masih berhubungan dengannya! Aku tidak bisa membiarkan itu, batin David dengan dada berkecamuk. Dia duduk di sebelah Aisyah.


"Ternyata kamu hebat, ya, Aisyah. Kamu dapat mendesain sebuah apartemen yang sangat indah," puji Laela.


"Tidak, Bunda. Semua berkat kerjasama tim kita yang solid. Aku tidak mungkin sehebat ini kalau tidak ada mereka." Aisyah tersenyum tipis.


David memperhatikan Riski yang terus saja menatap Aisyah. Dia tidak ingin membiarkan itu berlarut. Pria itu segera membuaka suara.

__ADS_1


"Baiklah, tujuanku mengundang kalian ke sini bukan hanya merayakan kesuksesan pembangunan apartemen. Di sini aku juga akan mengumumkan sesuatu yang sangat penting."


Bersambung.


__ADS_2