Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Rencana Alex


__ADS_3

Renata masih terdiam kaku , Alex menyuruh pengasuh mengantar Raka ke kamarnya .


"Kamu memikirkannya?" tanya Alex


Renata tidak menjawab , ia sedang kebingungan.


"Aku , aku akan pergi sebentar" Renata bicara dengan tergesa-gesa . Alex menangkap lengannya


"Kemana kamu akan pergi?"


"Aku" bicara dengan gugup,


"Jangan katakan kamu akan mencarinya" ucap Alex


"Lepaskan".


Alexpun melepaskan lengannya, membiarkan Nata pergi . Renata berlari keluar, ia terus berlari hingga menuruni tangga apartemen.


Ckiit , sebuah mobil berhenti didepannya , Bob melihat Renata yang berlari .Ia pun segera keluar dari dalam mobilnya .


"Hhhhh hh" nafas Renata begitu berat , dan ia melihat Bob tepat dihadapannya.


Wajah Bob berubah setelah melihat , Alex menarik lengan Renata dihadapannya.


Bob kecewa melihatnya , Alex memaksa Nata masuk kedalam rumahnya .


Bob pun tak ingin mengalah, ia berlari mengikutinya .


Alex meminta seorang pekerja rumah untuk membawa Nata masuk ke dalam rumah , dan melarangnya keluar.


Renata menangis , memohon pada Alex untuk melepaskannya . Renata tidak memahami apa rencana Alex padanya .


"Alex kamu kejam" Renata terisak menangis .


Raka yang tidak tahu apa-apa , keluar dari kamar, setelah mendengar keributan didalam rumah .


"Mama" ucap Raka , Renata pun dengan cepat memeluknya , dan menangis dipelukannya.


"Apa yang kamu lakukan , lepaskan dia" Bob berteriak


"Dia tidak ingin bertemu denganmu" jawab Alex


"Pembohong, ternyata selama ini pelaku penculikan istriku adalah dirimu"


Alex tidak terima di fitnah sebagai penculik, ia pun meninjunya .


"Sial, mengapa kau mengubahku menjadi kejam" bisik Alex.


Bob menatapnya dengan tatapan marah . Akhirnya merekapun saling memukul , hingga keduanya terkapar . Beberapa orang disana tidak ada yang perduli dan mengacuhkannya . Berfikir jika itu bukan urusan mereka.


"Kamu hanya akan menyakitinya , biar aku saja yang menjaganya" Alex dia begitu menyebalkan, dia mengatakan itu tanpa bertanya dulu pada Renata.

__ADS_1


" Apa ? menyakitinya , tahu apa dirimu" jawab Bob.


Bob menyerangnya,


"Kamu tidak punya hak atas dirinya" Bob meluapkan amarahnya, terus meninju Alex, Alex dia malah mencemoohnya, Alex nampak menyeringai , sembari mengelap darah dibibirnya.


"Kamu pikir selama 3 Tahun kami tidak memiliki hubungan apa-apa!!" Alex tiba-tiba mencoba megintimidasinya.


"Apa maksudmu?"


"Kami hidup bersama selama 3 tahun , dan kamu masih tidak mengerti" celoteh Alex .


"Hentikan, bajingan" Bob marah tak ingin mendengar ocehannya.


Alex pun tidak ingin kalah, iapun melawannya, meski tubuhnya sudah habis babak belur.


Bob berlari hendak menuju pintu apartemen, namun Alex menariknya , Bob pun terjatuh berguling ditangga.


"Jangan pernah lagi kemari " Alex menunjuknya. Bob hanya menatapnya, tidak melawannya lagi.


"Sial" Bob begitu marah, ia pun pergi masuk kedalam mobilnya.


Renata ia hanya terdiam , ia bersama Raka dikamarmya , nampak sedang mengelus-elus rambut Raka yang sedang tidur.


Alex dengan luka memar , mengobati dirinya sendiri.


"Brengsek" Alex masih nampak marah. Alex pun menelpon Boy.


"Baik" Boy menjawabnya.


Keesokan harinya, Alex datang ke perusahaan ternama milik Bob tersebut.


Bob tidak pernah mengira , jika Alex adalah Presdir dari perusahaan ternama yang selama ini mendukungnya.


"Bos tamu nya sudah datang" kata Aldi


Bob segera bersiap menyambutnya , semua orang sudah menunggunya diruang rapat .


Pintupun dibuka dan Alex pun masuk bersama Boy dan sekretaris lainnya . Betapa terkejutnya Bob.


Alex memiliki rencana untuk bernegosiasi , ia mengincar posisi yang sama dengan Bob disana.


Rapat pun dimulai, semua dewan diminta untuk memilih suara antara setuju dan tidak ,jika perusahaan itu kini memiliki dua orang presdir .Atau memilih satu diantara mereka.


"Setidaknya aku bisa dapat posisi wakil presdir disini" kecus Alex.


Dan itu menyulut amarah Bob, namun ia tak dapat mengelak jika Alex menginginkan posisi penting disana.


Hasil votingpun selesai, banyak yang tidak setuju jika Alex naik menjadi presdir . Akhirnya diputuskan jika Alex bisa menempati posisi sebagai wakil presdir .


Alex ia tak berfikir akan perusahaannya sendiri , ia mulai lupa dan lalai, hanya karena ingin bersaing dengan Bob .

__ADS_1


Ayahnya Alex sudah cukup kesal , mengapa anaknya tak kunjung menemuinya , ia pun menelpon Boy dan menyuruhnya membawa Alex kehadapannya .


Dirumah, Renata sangat kesal , karena Alex mengurungnya , tak disana dan disini, mengapa Alex memperlakukannya seperti ini. Renata sangat marah , ia memaki Alex berulangkali ditelpon.


"Sharon hari ini Ibu akan mengajakmu makan siang" Ibu menelpon Sharon. Dan Sharon setuju untuk makan siang bersama Ibunya Bob . Sharon pun berfikir sekalian ada yang hendak ia bicarakan pada Ibu. Ibu beserta supir menjemputnya .Tanpa diketahui Sharon jika Ibu mengajak juga Bob .


Ibu terus tersenyum melihat Sharon .


"Bagaimana kemarin, Bob mengantarmu pulang?" tanya Ibu. Sharon mengangguk.


"Aku sudah menyiapkan lamaran, segera kau hubungi orangtuamu" Ibu bicara sambil meminum secangkir teh.


Sharon mengangguk, Sharon ragu untuk memberitahu Ibu , jika Bob tidak ingin menikahinya.


Bob yang menyempatkan waktu menemui Ibu, nampak kesal setelah melihat ada Sharon juga disana.


"Ibu , ada hal yang ingin aku sampaikan , dan ini penting" Bob pun melihat pada Sharon , agar Ibu memahami jika ia tidak ingin bicara dihadapan Sharon.


"Hal penting apa?" Ibu mencoba untuk menghindar, Ibu sangat khawatir jika Bob akan menolak perjodohannya.


"Ibu ku mohon" pinta Bob. Ibu pun tersenyum pada Sharon , dan minta izin untuk meninggalkannya sebentar.


Bob pun mengajak Ibu bicara di meja lain, yang jaraknya jauh dari Sharon.


"Ibu , anak dan istriku masih hidup" Bob menggenggam tangannya , khawatir Ibu terkejut.


"Benarkah" dengan reaksi yang terkejut,


Bob mengangguk , "Lalu dimana mereka" tanya Ibu.


"Aku akan segera membawanya pulang, Ibu tunggu saja"


"Bagaimana kabar mereka?" tanya Ibu lagi


"Baik, mereka baik-baik saja"


"Kamu yakin mereka masih hidup, dan kamu benar melihatnya ? dengan mata kepalamu?"


"Ya, maka daripada itu ,batalkan perjodohanku dengan Sharon" Bob menatap mata Ibu dengan seksama , memintanya.


Ibu mengangguk . Namun dalam hati , Ibu merasa berat , apa yang harus ia katakan pada Sharon, bagaimana ia dapat menghadapinya . Pasti Sharon sangat kecewa keluh Ibu. Bob pun pergi meninggalkan Ibu disana , tanpa menyapa Sharon . Sharon sangat sedih, ia hanya dapat menundukkan kepalanya . Ia berkeyakinan jika Bob sudah mengatakannya terlebih dahulu pada Ibu. Jika ia tak ingin menikahinya.


Sharon pun tak mampu menahan emosinya , Sharon beranjak dari tempatnya .Ibu terkejut melihatnya , "Kamu akan pergi kemana?" tanya Ibu, saat hendak menghampirinya


"Ibu maaf aku ada janji ,saat ini konsumenku sudah menunggu, aku mohon pamit" Sharon mengatakannya dengan hati-hati , agar Ibu tidak tersinggung. Ibupun mengerti dan membiarkannya pergi.


"Ya , silahkan, pergilah"


"Terima kasih" Sharon pun pergi .


Ia nampak berjalan cepat setelah keluar restoran, mencari Bob , berharap ia dapat mengejarnya . Namun Bob sudah tidak terlihat, Sharon sangat kecewa , ia pun tertunduk menangis di sana . Tanpa Sharon sadari , Bob melihatnya , ia melewatinya begitu saja dengan mobilnya, tanpa perduli padanya . Namun Bob sekilas melihatnya dari kaca spion . Ada rasa iba melihat Sharon , namun tetap Bob tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2