Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 130. Menikmati kesendirian


__ADS_3

"Hei, Bro! Ngelamun aja. Yuk, kita makan," ajak Anton yang langsung duduk di kursi depan Ari.


Ari tak bergeming, masih diam membisu. Pandangannya pun kosong. Entah pikirannya jalan-jalan ke mana.


"Hei!" Anton menggoyangkan tubuh Ari. "Kamu masih memikirkan Aisyah?"


Ari yang baru sadar dari lamunannya, gelagapan mendengar pertanyaan Anton. "Tidak." Ari beranjak dari duduknya, meninggalkan Anton di sana.


Anton memandang kepergian Ari dengan mulut sedikit terbuka. Pria itu menggelengkan kepala, tak mengerti dengan sahabatnya. Dia pun berdiri, lalu menyusul Ari.


Tujuan Ari dan Anton adalah kantin universitas. Mereka ingin mendamaikan cacing di dalam perut yang telah berdemo. Namun, dalam perjalanan itu, Ari masih tak mengeeluarkan suaranya.Anton pun tak bisa berbuat banyak.


"Ari, kamu mau ke kantin, ya?" Denok tiba-tiba datang, lalu segera merangkul lengan Ari.


Ari menghentikan langkahnya seketika.


"Aku lagi pengen sendiri. Pergilah!" perintah hari dengan nada datar.

__ADS_1


Anton yang mengerti kondisi Ari segera berjalan ke arah Denok. Dia menarik tangan wanita itu agar menjauhi Ari. "Ayo, kita pergi!"


"Apaan, sih? Aku tidak mau!" Denok memberontak. Dia tak suka saat Anton menariknya.


Anton tak mempedulikan Denok. Dia tetap menarik wanita itu untuk menjauh dari Ari. Melihat ekspresi yang ditunjukan Ari, akhirnya Denok menurut pada pria itu.


Ari mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin. Kini, pria itu ingin membawa tubuhnya ke tempat yang lebih sepi. Dia ingin menenangkan diri dan tak mau diganggu siapa pun.


Sedangkan di sebuah taman kecil di area kampus, Aisyah menikmati kesendiriannya. Tak ada lagi penganggu maupun perundung. Semua sudah pergi menuju arah masing-masing.


"Sebelum makan siang, unggah menu untuk besok ah."


Aisyah menikmati makan siangnya Seraya memandangi hijaunya daun di sekitar. angin semilir membelai dedaunan, sehingga menghasilkan Simponi indah di telinga Aisyah.


Namun, saat mata Aisyah menikmati suasana di sana, dia melihat sepasang sejoli di taman seberang tempatnya sekarang. Mereka adalah seorang pria yang begitu dia kenal bersama wanita berpakaian belum jadi. Perasaannya seketika terasa tak karuan, entah tak bisa digambarkan. Gadis itu menarik sebelah ujung bibirnya.


"Memang tak bisa dipungkiri. Kalau memang wataknya seperti itu, mau bagai mana lagi. Mana mungkin bisa berubah." Aisyah kecewa kepada David.

__ADS_1


Aisyah menghentikan acara makan siangnya. Gadis itu terus mengawasi apa yang dilakukan David. Dirinya sungguh penasaran dengan mereka. Tak sedetik pun pergerakan dari pria itu yang luput dari pengamatan Aisyah.


Aisyah melihat mereka tertawa bersama dan saling menggoda. Yang membuat hati gadis itu sakit ketika melihat David mencium cepat bibir gadis itu. Dadanya seketika sesak.


"Padahal di tempat umum, bisa-bisanya mereka melakukan itu. Kelakuan anak jaman sekarang, memang." Aisyah menggelengkan kepala.


"Untung aku belum terlalu jauh dengan dia," gumam Aisyah bersyukur.


Aisyah masih terus mengamati mereka. Terlihat sekali bahwa sang wanita begitu Agresif. Wanita itu terus saja menyentuh bagian sensitif David. Pria itu juga kelihatan mengimbanginya.


Tempat itu memang sepi, jadi mereka pikir mungkin tak ada yang mengetahuinya. Walaupun, sekedar saling bersentuhan dan bermanjaan satu sama lain, hal itu tak patut dilakukan di tempat umum.


"Ih, menjijikan! Lama-lama lihat mereka, aku kayak mau muntah saja."


Aisyah mengemasi kotak makan siang yang belum habis isinya. Gadis itu ingin segera pergi dari sana karena merasa muak. Dia sudah tak tahan lagi menyaksikan adegan yang diperankan David bersama wanita yang aduhai menurutnya.


Melihat Aisyah yang meninggalkan tempat itu, David tersenyum miring. Matanya terus saja mengikuti kemana Aisyah pergi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2