
"Sudah beberapa hari ini aku tertahan disini, apakah aku tawananmu saat ini?" tanya Nata.
"Mengapa kamu menculikku?" Ternyata Renata mengira yang menculiknya adalah Alex.
Boy yang ikut mendengar segera akan membuka mulut , namun Alex menghentikannya.
"Kamu jangan salah sangka dulu , aku .." tiba -tiba pembicaraannya terputus , Alex kehabisan kata .
"Tak munkin aku katakan , jika Nata hampir saja terjatuh kedalam jurang"ujarnya dalam hati
"Aku akan menceritakannya setelah kamu pulih" ucap Alex, mencoba menghindar.
"Aku sudah pulih, dan aku baik-baik saja , begitu juga anakku , antarkan aku pulang pada suamiku" dengan berani Renata menyanggah ucapan Alex.
Namun Alex tidak perduli dengan ucapan Nata, ia berdiri pergi meninggalkannya .
Renata memohon dan meminta bantuan orang-orang Alex disana , ia menjanjikan akan memberi bayaran lebih besar daripada bayaran Alex pada mereka .
"Kumohon , tolong aku , aku akan membayarmu berlipat-lipat banyaknya ,percayalah" Renata memohon pada salah seorang perawat , yang membantu mengurus bayinya. Boy mendengar perkataan Renata , ia pun menghampirinya .
"Sebaiknya kamu percaya pada tuan ku Alex , dia tidak pernah berniat jahat padamu"
Boy bicara pada Nata.
"Aku tahu dia tidak jahat padaku, namun tindakannya tetap salah". jawab Nata.
Boy tidak ingin melanjutkan bicara padanya lagi , ia pergi dengan acuh begitu saja .
Siang dan malam, terus berlalu "Bayiku sekarang umurmu 40 hari , mereka pasti senang melihatmu" Renata bicara sendiri pada bayinya , dan terus berceloteh dimalam itu ,ia terus berangan-angan bertemu keluarganya.
"Ini sudah malam , bawa bayimu kedalam" Alex melihat Nata yang sedang bercekerama dengan bayinya dihalaman.
Nata melihatnya dengan tatapan benci juga marah, ia pun masuk kedalam menggendong bayinya .
"Dia mengaturku,tapi dirinya sendiri tak tahu malu, keluar halaman rumah hanya memakai handuk"
Renata membuka lemarinya , berniat berganti pakaian , karena ia khawatir debu dari luar menempel pada bajunya .
Renata melepaskan pakaiannya , dan tanpa ia sadari Alex masuk kedalam kamarnya yang sedikit terbuka . Dan tiba-tiba aliran listrik dirumah itu mati .
Ah , Renata teriak terkejut , ia sangat takut dan cepat menghampiri bayinya , berniat untuk menjaganya , dan Alex pun terkejut yang sudah terlanjur dari dalam , meraba-raba karena ruangan yang gelap
Dug , terdengar suara bertubrukan .
__ADS_1
"Ah" lagi-lagi Renata teriak ,
"Sial handukku , dimana handuknya" Handuk Alex terlepas , dan Alex terjatuh menindih Nata , tak sengaja Renata menyentuhnya , "Ini , ini apa?" , Deg jantungnya berhenti berdetak .
Keduanya berteriak , Alex segera berdiri meskipun ia tak dapat melihat apapun , dia berusaha bergerak beranjak dari tempatnya . "Kamu , kamu siapa?" Renata bertanya, meski ia tahu dari aroma nya saja itu adalah Alex , "Tenang, aku aku disini tidak berniat buruk" ucap Alex .
Boy segera membawa penerangan berlari menuju kamar Nata .
"Nyonya" sudah terdengar Boy berteriak dari luar memanggilnya .
"Boy , diam jangan masuk, tetaplah disana"
Alex menarik kain apa saja yang ia pegang . Dan mengenakannya . Begitu juga Renata , saat lampu mati ia sedang tidak berpakaian . keburu lari mencari bayinya .
"Simpan simpan saja dipintu, aku akan mengambilnya" perintah Alex , namun terlambat Boy sudah berada didepan pintu dan melihat nya .
Mata nya terbelalak ,melihatnya .
"Tuan" bicara dengan penuh keraguan .Dalam hitungan detik saat itu juga lampu menyala .
Boy berusaha menahan gelak tawanya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Alex . Renata berteriak menyuruhnya keluar .
"Keluarrr" Alex terkejut ,ia pun cepat pergi dari kamar Nata, setelah sampai pintu luar , Brugg suara pintu, pintu Nata tutup dengan keras.
Alex berbaring diranjangnya , terdiam dalam lamunannya .
"Tunggu , tadi aku merasakan yang lembut menyentuhku"
"Ah , mungkin begitulah rasanya" Alex tersipu sendiri
"Mungkin ini efek dari sudah lama tidak dekat dengan cewek" wajahnya terus tersenyum.
"Saat menyentuhnya , aku sudah melihat ukurannya" Alex menggila dengan pikiran kotornya .
Lain dengan Renata, ia masih merasa ketakutan , jika akan terjadi sesuatu diluar batas dirinya.
Renata menatap dirinya dari kaca , ia melempar handuk yang dipakai Alex . "Sial , mengapa aku terperangkap berdua dengan dia" ,
Renata masih ingat jelas , dan kejadian tadi masih terngiang dalam benaknya .
"Bob aku ingin kamu datang , aku ingin pulang"
__ADS_1
Renata merintih sendirian , ia bahkan tidak tahu dimana dia sekarang.
Keesokan pagi Renata keluar dari kamar ,setelah meyusui bayinya . Ia bertatapan dengan Alex yang duduk di sofa menatapnya .
"Sampai kapan aku disini?" Nata berjalan mendekat, bicara dengan lantang menantangnya.
Alex terperangah , namun ia tak dapat mengatakan apa-apa padanya .
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini , kamu harus jadi milikku" tekad dalam hati Alex.
Boy berjalan dari luar hendak kedalam , mendengar teriakan Nata , ia pun berdiam diri mendengarnya , menantikan jawaban Alex pada Nata .
"Kamu tidak akan menjawabnya" Renata sangat marah ,menghampiri, hendak memukulnya , namun karpetnya tertilap oleh kakinya , hingga ia pun terjatuh , tepat di badan Alex . dan Alex pun refleks menangkapnya .
"Aw" Renata berteriak kesakitan , dagunya mengenai wajah Alex .
Terlihat seperti kedua sepasang kekasih sedang bertumpang tindih. Mereka nampak bertatapan dengan tangan berpelukan , Renata dimaksudkan berpegangan , Alex menahan Nata yang terjatuh di tubuhnya.
Plak , terdengar suara keras tamparan . Renata menampar Alex dan segera beranjak dari sana .
"Aku benci kamu, aku benci" Renata berteriak , dan meninggalkannya.
Boy berjalan mendekat, berniat berbicara pada Alex , "Sebaiknya tuan katakan kejadian yang sebenarnya , agar ia mengetahuinya , setelah sekian lama hanya tuanlah yang perduli padanya , tidak ada keluarga satupun yang mencarinya , mungkin ayah anak itupun sudah tidak perduli padanya" .
Alex beranjak dari tempatnya , langsung berdiri .
"Tunjukkan, hanya kaulah pria yang dapat ia andalkan" Boy terus bicara dan berbisik mempengaruhinya.
Alex berjalan tanpa arah, seraya berpikir ,"Tidak pernah aku seperti ini , aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, aku tidak pernah mengalah pada wanita manapun, tidak ada wanita yang bisa lolos dariku" , tiba-tiba langit gelap , angin berubah kencang, petir bergemuruh , hujan pun datang .
Tirai-tirai tertiup angin . Alex sadar jika ia sudah berdiri didepan kamar Nata, pintunya sedikit terbuka, terdengar seorang bayi , Alex melihat dari celah pintu tersebut . Nata ,ia sedang menyusui bayinya.
Keinginan yang kuat untuk memilikinya, menggelora dalam dadanya , namun sekuat tenaga , ia rantai keinginan itu .Alex yang kini, tak mudah diperbudak oleh nafsu .
Diluar masih terdengar hujan yang begitu deras .
"Boy dia tidak ada , mungkin dia berada dikamarnya " Alex menyerengeh, "Kini aku sendiri" Alex nampak mengambil minumannya , " Sudah lama aku tidak meminumnya"
Alex minum , gelas demi gelas, hingga minuman nya habis.
"Mengapa dia datang lebih dulu" Alex membicarakan Bob , ia terus berceloteh
"Apa bagusnya dia? , hingga dia setia pada nya" membicarakan Nata
__ADS_1
"Apa yang dia suka darinya ?" , Alex berjalan menuju kamar Nata.
Nata yang baru saja menidurkan bayinya , keluar dari kamar, berniat mengambil makanan . Namun ditengah jalan bertemu Alex. Alex yang nampak mabuk.