
Enam bulan kemudian, kini Aisyah dan Dinda telah memiliki kantor lumayan besar. Beberapa bulan lalu, sebuah perusahaan pengembang ternama di tanah air telah mempercayakan desain sebuah vila kepada mereka. Sejak saat itulah biro jasa yang Aisyah miliki mulai banjir klien.
Aisyah dan Dinda tidak bisa menangani sendiri sehingga membuat mereka merekrut banyak karyawan. Semakin bertambahnya karyawan, semakin besar pula ruang yang dibutuhkan untuk bekerja. Kini Aisyah menjadi pemimpin perusahaan itu karena dia yang lebih banyak membiayai untuk membesarkannya. Sementara itu, Dinda menjadi komisaris perusahaan.
Mereka juga menggandeng beberapa teman seangkatan kuliah dan arsitek profesinal. Dengan dukungan dari mereka, wanita itu siap untuk melangkah ke depan menuju dunia bisnis yang lebih tinggi.
Aisyah bersyukur beberapa bulan terakhir David juga tidak mengganggunya. Ataukah mungkin karena pertemuan terakhir waktu itu membuat pria tersebut menyerah. Apa pun itu, yang terpenting wanita itu bisa fokus pada bisnisnya.
"Aisyah, kenapa kamu belum berangkat juga. Ini sudah jam 12.30 WIB, pertemuan dengan pemilik perusahaan DMF GROUP dan pengembangnya jam 13.00 WIB, loh. Kamu bisa telat!" cerocos Dinda. Dia melihat Aisyah masih sibuk dengan laptopnya.
"Iya, aku segera berangkat. Lagian, tempatnya juga dekat." Aisyah menutup laptop di hadapannya. Dia menyambar tas yang berada di atas meja.
Dengan langkah tergesa Aisyah menuju tempat parkir. Dia segera memerintah Aang untuk menuju restoran tempat pertemuan.
...****************...
Di sebuah restoran, Doni sekeluarga sedang menunggu rekan bisnisnya. Wajah Laela terlihat berseri karena baru pertama kali bertemu dengan pemilik perusahaan yang berpengaruh di negeri ini. Dia terlihat gelisah dengan menatap ke sana kemari.
"Belum datang juga ya, Yah?" tanya Laela. Dia sudah tidak sabar untuk mengenal orang nomor satu di perusahaan yang sangat mempengaruhi perusahaan keluarganya.
"Sabar, Bund. Mungkin sebentar lagi." Wajah Doni tak kalah berseri. Dia berharap setelah pertemuan ini, hubungan bisnis mereka semakin baik.
__ADS_1
Sementara itu, Riski yang telah mengenal siapa orang yang akan ditemui, memasang wajah yang berlawanan dengan kedua orang tuanya. Dia terlihat sedikit malas jika bertemu orang tersebut. Dirinya juga mempersiapakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Mungkin saja David akan memutus hubungan bisnis mereka setelah tahu siapa yang sedang bekerja sama dengannya. Atau bahkan lebih buruk lagi, pria itu akan menggulingkan perusahaan keluarga Pratama. Kegelisahan begitu tampak di wajah Riski.
"Itu, orangnya sudah datang." Doni menunjuk kepada tiga orang yang menuju ke arah mereka.
Mereka bertiga seketika berdiri untuk menyambut kehadiran ke dua orang itu. Senyum lebar, Doni dan Laela siapkan sebaik mungkin. Namun, Riski hanya memasang wajah Datar.
"Senyum, dong, Sayang," bisik Laela seraya menyenggol lengan Riski.
Riski akhirnya memaksa senyum karena diminta sang bunda.
"Tidak masalah, Tuan," ucap Doni.
"Jangan panggil saya tuan, panggil saja Wildan. Ini bukan forum resmi. Kita bisa bercakap santai di sini." Wildan menepuk lengan Doni.
"Baiklah, Pak Wildan." Doni mengangguk.
Wildan sesungguhnya sedikit risih dipanggil pak oleh Doni. Namun, mau bagaimana lagi. Dia tidak ingin mepermalukan pria itu hanya karena masalah sebutan.
Mereka semua akhirnya bersalaman. Saat anak dari kedua keluarga itu saling menjabat tangan, kedua pasang mata bertemu. David terlihat menyeringai, sedangkan Riski menatap tajam ke arah pria itu.
__ADS_1
Melihat seringaian David, Riski menyadari ada sesuatu yang telah direncanakan pria itu. Namun, dirinya tidak bisa menebak apa itu. Dia hanya bisa mengikuti alur yang dibuat oleh pria tersebut.
"Terima kasih telah menghadiri undangan kami. Kita di sini akan merayakan kesuksesan bisnis kita. Tapi, kita tunggu dulu pemimpin perusahaan DAN datang sebelum kita mulai acara ini," jelas Wildan saat mereka semua telah duduk.
"Baiklah, kita akan menunggu," ucap Doni.
Laela pun penasaran, siapa pemimpin perusahaan tersebut. Dia pernah mendengar bahwa pemimpinnya adalah seorang wanita. Dirinya sangat memuji desain bangunan apartemen yang telah dibuat perusahaan itu.
Bangunan modern yang sangat memperhatikan lingkunga. Memiliki beberapa taman di dalam maupun luar ruangan. Membuat bangunan itu sangat nyaman dipandang mata dan juga layak huni.
Sebelum pembangunan selesai saja, sudah hampir semua unit aparteman terjual. Manusia modern sangat menanti-nanti ruang lingkup yang demikian. Mereka bisa beristirahat santai di tengah kota layaknya di pedesaan.
Saat mengedarkan pandangan, Laela menangkap sosok yang sangat dia kenal. Wajahnya pun seketika berubah masam.
Kenapa dia ada di sini? Dia tidak mungkin makan di tempat seelit ini, 'kan? Tempatnya hanya di warung pinggiran jalan, batin Laela.
Namun, beberapa detik kemudian, hal yang tidak dia sangka terjadi. David memanggil wanita tersebut. Wajah ke tiga orang seketika terbengong.
Mereka berpikir untuk apa David memanggil wanita itu di acara perayaan kesuksesan bisnis bersama keluarga. Bukankah tidak ada hubungannya dengan wanita tersebut?
Bersambung.
__ADS_1