Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 134. Ejekan orang


__ADS_3

"Masih dua lagi. Ke mana nih pembelinya? belum datang juga." Aisyah mengengok ke sana kemari, tetapi tak ada tanda-tanda dari sang pembeli.


Aisyah akhirnya mengirim pesan kepada pemesan. Akan tetapi, dia tak kunjung mendapat balasan. Gadis itu sedikit resah karena waktu sudah mendekati jam kuliah dimulai.


Namun, beberapa saat kemudian, Aisyah menerima pesan. Pesan itu berasal dari pembeli yang mengatakan bahwa sang pembeli lupa dengan pesanannya, lalu dia meminta bertemu di gedung Sekolah Teknik Elektro dan Informatika.


"Apa?" pekik Aisyah. "Kenapa aku harus ke gedung itu lagi?"


Aisyah bimbang karena dia belum siap bertemu Ari lagi. Dirinya tidak mau melihat wajah masam pria itu kepadanya. Dia merasa bersalah pada Ari karena tak menepati janji. Jadi, Aisyah tak marah jika sang sahabat dekat dengan orang yang pernah merundungnya.


Aisyah akhirnya mengantarkan pesanan itu ke fakultas yang telah diberitahukan. Dia berjalan di bawah rindangnya pepohonan. Setelah empat menit berjalan, Aisyah telah sampai di tempat tujuan. Gadis itu mengambil ponselnya kembali, lalu menanyakan lokasi sang pembeli.


Tadi pagi, Aisyah hanya membawa enam pesanan saja. Itu pun pelanggan setianya. Gadis itu tak tahu kenapa jualannya kian hari semakin sepi.


"Kak, sini!"


Aisyah menoleh. Seorang gadis melambai ke arahnya. Dia segera menuju gadis itu.


"Terima kasih, Kak." Aisyah tersenyum senang.


"Sama-sama," ucap gadis itu, lalu meninggalkan Aisyah.

__ADS_1


Aisyah membalikkan tubuh, ingin menuju fakultasnya. Namun, Aisyah melihat sesuatu yang aneh baginya.


"Kenapa Ari meninggalkan Denok di belakang? Apa mereka lagi marahan?" tanya Aisyah bergumam pada diri sendiri. "Biarkan saja. Itu bukan urusanku."


Aisyah berlalu meninggalkan gedung itu menuju gedung fakultasnya. Kelas dimulai lima belas menit lagi, dengan sedikit tergesa dia berjalan di jalan yang begitu ramai. Akan tetapi, tanpa ia sadari, dirinya menyandung kakinya sendiri.


Bug!


Suara benda bertumbukan mencuri perhatian orang yang berlalu lalang. Namun, tidak ada sedikit niat pun dari mereka untuk membantu Aisyah bangun. Mereka hanya melihat gadis itu dengan berbagai cara.


Sebagian mereka memandang Aisyah seolah mencemooh, sebagian pula ada yang tak tak sungkan untuk tertawa.


"Itu, 'kan, mantan cewek si playboy kampus?" tanya seseorang kepada temannya dengan berbisik. Namun, Aisyah masih mendengarnya dengan jelas.


"Sekarang dia harus jualan karena udah tidak dapat uang dari casanovanya. Ha-ha-ha," sahut orang pertama.


"Kalau aku, ogah buat beli di dia."


Orang kedua mengiyakan. Mereka pun berlalu, sehingga ejekan mereka tak terdengar lagi oleh Aisyah


Memang semua itu karena mereka tahu bahwa Aisyah pernah menjadi kekasih David. Jadi, mereka menganggap dirinya sebagai wanita murahan seperti wanita-wanita lain yang pernah menjadi pacar pria itu.

__ADS_1


Aisyah menundukkan kepala. Dia merasa malu sekali mendapatkan pandangan seperti itu oleh semua orang. Gadis itu segera bangkit, lalu bergegas menuju fakultasnya.


Ternyata semua gara-gara itu. Makanya aku merasa ada yang aneh selama ini. Sungguh, mengenalnya adalah hal paling sial dalam hidupku, batin Aisyah saat memasuki kelas paginya.


Selama pembelajaran pun Aisyah selalu memikirkan apa yang didengarnya tadi. Baru kali ini dia mendengar sendiri pandangan orang mengenai dirinya. Sungguh sangat kejam sekali mereka menghakimi seseorang.


Sampai waktu jeda makan siang, Aisyah masih saja seperti itu. Gadis itu berjalan dengan segera menuju taman untuk meluapkan emosinya. Tempat yang sepi, sangat cocok untuk menangis.


"Baru aku sadari sekarang, kenapa jualanku di kampus ini tidak ada peningkatan. Malah semakin sedikit."


Tanpa terasa air mata membasahi pipi Aisyah. Dadanya sesak bagai ditimpa beban berton-ton. Sungguh, memang sulit dirasanya hidup di kota orang.


Di sudut lain taman, seseorang telah memperhatikannya sejak kedatangan Aisyah di taman itu. Orang itu mengernyitkan dahi melihat sikap gadis itu.


"Kenapa dia? Sepertinya dia lagi nangis," gumamnya.


Orang itu masih saja memperhatikan Aisyah tanpa pergerakan, sehingga gadis itu tak menyadarinya. Dirinya masih saja terisak, merenungi nasib yang malang itu. Beasiswa dicabut, jualan tak laku, bahkan dia tidak bisa menggunakan uang tunjangan peceraian lagi.


Aisyah sangat putus asa. Dalam hati, dia ingin pulang saja ke kota asalnya. Hidup sederhana bersama keluarga, tetapi tak ada masalah sedikit pun.


"Sudah, jangan menangis lagi! Apa yang kamu tangisi?" tanya seseorang seraya mengulurkan sebuah sapu tangan.

__ADS_1


Aisyah tidak menerima sapu tangan itu, tetapi dia segera menghapus air mata dengan tangannya. Gadis itu segera mengangkat kepala untuk melihat siapa orang yang ada di hadapannya.


Bersambung.


__ADS_2