Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 167. Kembali ke Tanah Air


__ADS_3

Pria dengan tubuh kekar yang terbalut kemeja lengan panjang, kini telah berdiri di depan pintu. Sorot matanya begitu tajam menusuk ke arah Aisyah. Terlihat sekali bahwa pria itu ingin segera menerkam wanita di hadapannya.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Aisyah dengan nada sedikit tinggi.


"Kenapa kamu memblokir nomorku?"


Bukan jawaban yang di dapat, malah pertanyaan balik. Aisyah menghembus nafas kasar. Dia begitu kesal dengan pria tersebut. Bukannya mengucap 'Assalamualaikum', eh, pria itu malah balik bertanya saat dia menanyainya.


"Itu urusanku!" Mata Aisyah kini sudah membulat seperti bakso.


"Tidak jadi urusanmu kalau ada hubungannya denganku!" Pria itu mendekat ke arah Aisyah.


Aisyah gugup dan takut ketika pria itu semakin dekat. Dia ingat betul dengan apa yang dilakukan sang pria saat marah. Wanita itu merapatkan tubuhnya kepada sang sahabat.


Dinda pun tak berani melakukan apa pun. Dia berpikir, percuma juga melakukan sesuatu. Pria itu pasti juga tidak akan mendengarkan perkataannya.


"Ja-jangan mendekat! Lebih baik kamu pergi sekarang!" Aisyah mengacungkan jari telunjuk ke arah pintu. Dia menunjukkkan kepada pria itu di mana arah pintu keluar apabila seandainya sang pria tidak tahu di mana pintu keluar.


Sesungguhnya Aisyah senang pria itu datang, tetapi bukan dengan keadaan seperti itu. Dia lebih suka jika sang pria datang, lalu memohon kepadanya. Menurut dirinya, itu akan lebih romantis.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan pergi karena aku ada urusan denganmu." Pria itu menatap lekat ke arah Aisyah. Tangannya mengisyaratkan kepada Dinda untuk pergi.


Dinda yang mengerti maksud pria itu, tanpa berpikir panjang dan berkata segera beranjak dari duduknya. Dia melangkah untuk menuju ke luar ruangan.


"Din, mau ke mana?" tanya Aisyah. Matanya menatap ke arah Dinda.


"Maaf, Aisyah." Hanya itu yang dapat di ucapkan Dinda. Dia kembali berjalan menuju pintu.


"Aku ikut." Aisyah hendak mengikuti langkah Dinda. Namun, tak banyak langkah yang mampu dibuatnya. Pria itu sudah meraih tangan sang wanita.


"Kamu tidak boleh pergi!" ucap pria itu tegas.


Aisyah semakin ketakutan dengan pria itu. Kini hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu. Apa pun bisa dilakukan tanpa ada yang tahu. Dia takut kejadian yang terhenti saat di kamar waktu itu akan benar-benar dilakukan David saat ini.


Aisyah telah memblokir segala sesuatu tentang David. Dia tidak ingin mengingat pria itu terus. Padahal, dia merasa tidak ada hati untuk pria tersebut, tetapi dadanya akan terasa sesak bila melihat foto beberapa wanita yang duduk dipangkuan sang pria.


Aisyah dapat meilhat foto itu karena sang pengunggah selalu menandai pria itu di setiap postingan. Foto-foto itu pun selalu mencul di berandanya karena mereka berteman di sosial media.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Aisyah tanpa menoleh ke arah David.

__ADS_1


"Aku hanya mau satu penjelasan. Kenapa kamu memblokir semua akunku?" David berjalan mendekati Aisyah. Tangannya masih menggenggam erat tangan Aisyah. Dia tidak mau jika sang wanita kabur. Kini dia sudah berdiri di belakang wanita itu.


"Kita sudah tidak ada urusan. Jadi, tidak masalah, 'kan, kalau aku memblokirmu?"


Walaupun sebenarnya takut, namun ucapan Aisyah begitu kelihatan dingin. Nafasnya terdengar sangat berat membuat dada wanita itu naik turun. Semua bayang-bayang foto saat berbagai wanita bermanjaan dengan David, melintas di benaknya.


Dasar lelaki buaya darat. Untuk apa dia datang ke sini? Bukannya banyak wanita yang mengelilinginya sekarang? Kenapa dia menemuiku lagi?


Atau, jangan-jangan dia ingin meminta uang yang telah aku gunakan waktu itu. Aku telah memblokirnya, jadi sekarang dia menagih langsung, batin Aisyah.


"Siapa bilang kita tidak ada urusan! Hutangmu masih banyak padaku!"


Benar, 'kan? Dia hanya mau meminta uang yang sudah aku pakai. Jangan berpikir lebih Aisyah. Setelah tidak ada komunikasi selama 3 tahun, mau apa lagi, batin Aisyah. Wanita itu menarik sebelah ujung bibirnya.


"Kamu total saja berapa hutangku. Aku akan bayar semua, lunas! Jadi, kamu tidak perlu repot-repot mencariku lagi."


Aisyah berusaha melepaskan tangannya, tetapi sia-sia. Pria itu tidak ingin melepaskannya. Dia akhirnya menyerah.


"Yakin kamu dapat melunasinya?" David memicingkan mata yang tidak dapat dilihat Aisyah. Kedua ujung bibirnya terangkat.

__ADS_1


David tiba-tiba melepaskan tangan Aisyah. Dari arah balakang, tangannya seketika melingkar di perut gadis itu.


Bersambung.


__ADS_2