Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 183. Goal


__ADS_3

Nafas Aisyah sudah tak beraturan. Wanita itu sungguh melupakan bagaimana bernafas yang normal. Seluruh tubuhnya sudah dipenuhi rasa yang dia tidak tahu itu apa. Baru pertama kali ini dirinya merasakan.


David menyibakkan selimut ke samping untuk memperlancar aksinya. Kini terpampang tubuh Aisyah dengan balutan baju tipis di depannya. Pria itu membolakan mata, tak menyangka bahwa Aisyah juga tahu tentang baju itu.


Melihat ekspresi sang suami, muka Aisyah seketika merah padam. Wanita itu mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan.


"Hanya ada baju ini. Pasti mbak Indah pelakunya. Semua pakaianku yang menyiapkan dia," jelasnya. Dia tidak mau David berpikir macam-macam tentang dirinya.


"Sungguh pintar mbakmu itu. Tahu apa yang aku mau. Jangan ditutupi, aku sangat suka." David menyingkirkan tangan Aisyah seraya tersenyum lebar. Matanya tak lepas dari dada sang istri.


Gugup, takut dan bingung bercampur menjadi satu. Aisyah tidak tahu harus melakukan apa. Dirinya hanya diam saja, membiarkan David yang bekerja sendiri.


David mulai menanggalkan satu persatu pakaian sang istri hingga tak ada satu pun yang melekat. Gemulai tangan dan bibirnya sungguh lincah menyusuri setiap inci tubuh Aisyah. Tak ada satu pun celah yang luput oleh sapuan pria tersebut hingga membuat istrinya kelabakan.


Tidak bisa dipungkiri jika dia hebat dalam melakukan hal ini. Berapa banyak wanita yang sudah dibuatnya seperti ini? batin Aisyah.


Namun, lamunan Aisyah seketika buyar saat David menyesap kuat puncak dadanya. Suara itu lantas lepas dari mulut wanita tersebut. Beberapa detik dia menahan nafas, merasakan sensasi luar biasa menjalar ke seluruh tubuh.


Rasakan! Salah sendiri melamun di saat seperti ini, batin David. Senyum seringai terlukis di wajah pria itu. Hatinya puas telah membuat Aisyah tak berdaya.

__ADS_1


Kini, David sudah tak tahan lagi. Pria itu segera melucuti pakaiannya hingga tak tersisa. Terpampanglah dada bidang dengan sesuatu yang berdiri tegak di bawahnya.


Tanpa diperintah, tangan Aisyah segera menutup mukanya sendiri setelah melihat sekilas benda itu. Dia merasa aneh dan takut dengan apa yang ada di bawah perut David. Pikirannya seketika terbayang dengan benda tersebut terus.


Apakah seperti itu bentuknya? Terlihat sangat keras dan berurat, batin Aisyah. Wanita itu baru pertama kali melihatnya.


"Kenapa tutup mata? Lihatlah, ini milikmu!" David meraih tangan Aisyah, menggiring menuju pusaka miliknya.


Aisyah menarik tangan ketika ujung-ujung jarinya telah menyentuh pusaka David. Dia merasakan sesuatu yang aneh saat mengenai benda itu.


Ya, keras banget, kayak kayu. Bagaimana kalau .... Aisyah tidak bisa membayangkan ketika benda itu menyeruak masuk ke dalam inti tubuhnya.


David mulai mendorong tubuh Aisyah. Akan tetapi, begitu sulit baginya untuk memasukkan pusaka ke dalam sana.


"Seharusnya ini mudah, 'kan?" tanya David bergumam. Beberapa kali pria itu meleset mengarahkan pusakanya. Tidak mau meleset lagi, akhirnya dia menyentak lebih keras untuk dapat masuk.


"Kenapa?" tanya David. Dia melihat Aisyah meringis ketika miliknya masuk sebagian.


"Sakit," keluh Aisyah.

__ADS_1


"Kenapa sakit?" David sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi pada sang istri.


"Seharusnya kamu sudah tahu, 'kan? Kenapa masih tanya lagi?" Aisyah terbawa emosi akan pertanyaan David. Bukankah pria itu sudah terbiasa melakukannya?


"Aku tidak tahu, beneran. Katakan, Sayang!" ucap David lirih.


"Sudah, teruskan saja! Tapi, pelan-pelan," pinta Aisyah. Dia tidak ingin suasana menjadi rusak karena mambahas hal itu.


David menuruti perkataan Aisyah, pria itu dengan perlahan melakukannya. Walaupun sang istri masih meringis kesakitan, tetapi lambat laun dia mampu mebenamkan seluruhnya.


David masih melakukannya dengan lembut hingga rasa sakit Aisyah berubah menjadi nikmat. Wajah wanita itu pun kini berubah manjadi sayu. Menyadari hal itu, sang pria mulai menaikkan tempo permainan.


Deru nafas terdengas saling mengejar di antara mereka. Semakin lama David semakin gancar bergerak. Satu hentakan terakhir, pria itu akhirnya melepaskan semua benih ke dalam rahim sang istri.


David menjatuhkan diri di samping Aisyah. Dia meraih selimut untuk menutupi tubuh wanita di sisinya. Pria itu tersenyum atas kepuasan yang baru saja di dapat.


"Terima kasih, Sayang." David mencium kening sang Aisyah. Wanita itu hanya tersenyum, membalas ucapan sang suami.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2