Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 184. Sebuah Fakta Terungkap


__ADS_3

Tak henti-henti David menatap Aisyah. Sungguh wanita yang mempesona sehingga dia selalu ingin mendekapnya. Pria itu membelai lembut wajah sang istri lalu mengecup pucuk rambut wanita itu. Dia sangat bahagia, akhirnya bisa merasakan keindahan bersama sang pujaan hati.


Kini tangan David turun, mulai membelai leher Aisyah. Terus turun lagi hingga hampir sampai di puncak dada wanita itu. Aksinya ditahan oleh sang istri yang segera menyingkirkan tangan tersebut.


"Aku mau mandi dulu. Bandanku lengket." Aisyah menggerakkan tubuhnya, menunjukkan betapa tidak nyamannya dia.


"Baiklah. Ayo, kita mandi." David sudah bangun dari duduknya, bersiap menuju kamar mandi bersama Aisyah.


"Kita?" tanya Aisyah heran, "kamu ikut mandi sama aku?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Jangan ikut! Aku 'kan malu kalau kamu ikut mandi," tolak Aisyah.


"Kenapa malu? Bukankah aku sudah melihat semuanya? Buat apa malu lagi?"


"Pokoknya jangan!" Aisyah segera bangun dari tidurnya lalu hendak berdiri. Namun, usahanya gagal, dia merasakan perih di bagian inti tubuh. Wanita itu pun meringis dibuatnya.


"Kenapa?" tanya David. Dia merasa sangat khawatir.


"Sakit," keluh Aisyah, "mau berdiri tidak bisa."


"Ayo, aku bawa kamu ke kamar mandi." Tanpa menunggu persetujuan dari Aisyah, pria itu mengangkat tubuh sang istri besarta selimut yang membalut.


Aisyah terkejut akan aksi David. Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia menerima begitu saja saat tubuhnya di bawa masuk ke dalam kamar mandi.


David meletakkan tubuh Aisyah ke dalam bathub. Selimut yang membungkus tubuh sang istri dia tarik dengan lembut. Akan tetapi, wanita itu menahannya, tidak ingin melepaskan selimut tersebut.


"Kamu mau mandi pakai selimut?" David mengerutkan dahi, tidak mengerti akan penolakan Aisyah.


"Kamu keluar saja! Aku bisa mandi sendiri." Aisyah memalingkan pandangan dari David. Dia merasa risih saat melihat bagian bawah pria itu yang terekspos bebas.


"Kenapa? Aku akan membantumu mandi," usul David. Dia berpikir bahwa sang istri akan kerepotan ketika mandi dengan keadaan seperti itu.


"Tidak! Kamu keluar saja, sana!" Aisyah kekeh ingin mandi sendiri. Dia begitu malu jika harus mandi bersama David. Walaupun pria itu sudah pernah melihat seluruh bagian tubuhnya, tetapi dirinya masih tetap merasa malu.


David akhirnya mengalah. Dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Hatinya sangat kecewa karena gagal dalam acara mandi bersama. Dia pun berjalan menuju ranjang untuk menunggu Aisyah selesai mandi.


David tersenyum sendiri ketika menatap ranjang pertempuran itu. Akan tetapi, matanya tiba-tiba terpusat pada bercak merah di atas ranjang. Dia menyentuh noda tersebut, terasa basah. Itu menandakan bahwa noda itu belum lama tercipta. Pria itu mendekatkan kepala untuk mengendusnya.


"Darah!" pekiknya.


Pikiran David pun menjadi kalut. Berbagai pertanyaan tertanam di benak pria itu. Dia sudah tidak sabar menanti Aisyah selesai mandi untuk menjejali wanita itu dengan apa yang dipikirkannya.


Pintu kamar mandi sudah mulai terbuka. David segera berdiri lalu menghampiri Aisyah. Namun, respon wanita itu justru memalingkan wajah.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih polos?"


David tidak menggubris pertanyaan Aisyah. Dia segera mengekspresikan ketakutannya.


"Kamu lagi datang bulan? Kenapa tidak bilang? Bagaimana jika sesuatu terjadi padaku?"


"Tidak!" tukas Aisyah.


"Lalu, apa itu?" David menunjuk pada bercak merah di ranjang.


Aisyah menyipitkan mata, mencoba mencari sesuatu di antara kelopak bunga yang bertebaran. Dari jarak yang seperti itu, dia tidak menemukan apa pun.


"Ayo, kita ke sana! Aku tidak dapat melihatnya dari sini."


"Ayo!" David begitu saja meninggalkan Aisyah, berjalan menuju ranjang.


"Bantu aku," rengek Aisyah.


David seketika menoleh dengan nyengir kuda. Dia melupakan sang istri. Pria itu segera mendekat lalu mengangkat tubuh sang istri. Dibawanya tubuh itu ke sisi ranjang agar dapat melihat bercak itu dengan jelas.


David segera menunjuk pada bercak itu setelah menurunkan Aisyah. Bibir wanita itu melengkung kebawah setelah melihat noda apa itu.


Kenapa dia bertanya padaku. Bukan itu sudah jelas, dia pasti tahu, 'kan?


"Kamu pura-pura bodoh, ya? Kenapa masih tanya apa itu?"


"Aku benar-benar tidak tahu. Tinggal katakan saja, apa susahnya, sih!" David memasang wajah tidak suka dengan ucapan Aisyah.


Aisyah menghembuskan nafas kesal. Wanita itu merasa sangat mustahil bagi David tidak mengetahui bercak apa itu. Namun, pada akhirnya dia mengalah, tidak mau berdebat lagi.


"Itu darah keperawananku, lah," jelas Aisyah.


David seketika syok sekaligus bingung dengan apa yang dikatakan Aisyah. Beberapa detik tidak mengeluarkan suara, masih tidak menyangka pada kenyataan.


"Ternyata bukan hoax," gumam David, "eh, kamu, 'kan, sudah pernah nikah?"


"Memang benar, tapi bodohnya aku yang tak pernah disentuh oleh suamiku sebelumnya," jalas Aisyah.


"Bukan kamu yang bodoh, tapi mantan suami yang bodoh. Rasa semanis ini disia-siain." David mencolek dagu Aisyah, membaut wanita itu menunduk malu.


Kebahagiaan yang sempurna bagi David. Ternyata janda yang dinikahi masih perawan. Sungguh devinisi janda kembang yang sesungguhnya.


"Oh ya, tadi aku dengar kamu bilang hoax. Maksudnya apa?" tanya Aisyah penasaran.


"Aku pikir darah perawan itu hanyalah mitos. Aku tidak pernah menemukannya pada setiap wanita yang pernah aku mainin."

__ADS_1


Aisyah melipat tangan di dada. Wajahnya terlihat sangat sedih dengan ucapan David. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan disamakan dengan wanita-wanita itu.


"Hei, kenapa kamu sedih, Sayang?" David mengangkat dagu Aisyah agar menatapnya.


"Kamu menyamakan aku dengan mereka," keluh Aisyah.


"Bukan seperti itu. Kamu sangat berbeda dengan mereka. Nyatanya, kamu masih perawan dan sangat pantas mendapan keperjakaanku," jelas David mantap.


"A-apa?" Aisyah terkesiap, merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Jadi, dia meminta David untuk mengulangi ucapannya.


"Kenapa? Kamu tidak percaya?"


Aisyah menganggukkan kepala, menyetujui pertanyaan David. Setahu dia, gaya pacaran pria itu sangat berani. Jadi, mana mungkin dirinya percaya kalau sang suami masih perjaka.


"Memang kamu pikir aku bodoh. Aku juga tidak mau kena penyakit menular. Aku hanya memuaskan mereka pakai tangan, tahu!"


Entahlah, Aisyah tidak mengerti apa yang dimaksud David dengan memuaskan pakai tangan. Namun, setelah beberapa saat berpikir, dia mempercayai ucapan pria itu.


Buktinya, betapa bodohnya David saat pertempuran tadi. Pria itu bahkan beberapa kali meleset. Aisyah jadi tersenyum sendiri kala mengingatnya.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Tidak. Aku hanya geli pas inget tadi. Pantasan kali kelihatan noob."


"Heh, jangan bilang aku seperti itu. Kamu juga, 'kan, baru pertama? Mana bisa bilang aku seperti itu. Kamu juga noob tahu," dengus David tak terima.


"Iya-iya. Sana, pergi mandi. Bu9il terus, nanti masuk angin, aku yang repot."


"Ya, sudah. Aku mandi dulu. Kamu tidurlah. Aku tidak akan ganggu kamu, kok."


Namun, nyatanya ucapan David hanya di bibir saja. Dia tidak melepaskan Aisyah hingga pagi menjelang. Wanita itu sampai tak berdaya melayani sang suami.


Kini mereka sangat bahagia. Semua praduga buruk telah tersingkirkan. Hal itu dapat terungkap jika saling terbuka, tanpa ada yang ditutupi. Itulah yang seharusnya ada dalam sebuah hubungan.


Usaha keras dan kesabaran pasti akan membuahkan hasil yang manis. Jangan pernah putus asa dan selalu optimis dalam hidup. Allah pasti akan mempermudah jalan mereka yang senantiasa bersabar.


Tamat.


...☆☆☆☆☆...


Inilah akhir kisah perjalanan seorang Aisyah. Semoga Anda terhibur dan dapat memetik sedikit pelajaran dalam kisah ini.


Author mengucapkan terima kasih kepada Anda yang telah setia menanti tiap babnya publish. Beberapa kali hiatus, tidak menyurutkan Anda dalam menunggu. Tanpa dukungan Anda, saya bukanlah apa-apa.


Terma kasih semuanya. Lope-lope sekebon nangka deh pokonya. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain. 😊

__ADS_1


__ADS_2