
Malam itu, Aisyah tak bisa memejamkan matanya. Gadis itu menjadi semakin bingung. Dia tidak bisa berpikir lagi. Dua orang telah menyatakan ingin bersamanya.
Untuk David, Aisyah tidak memikirkannya sama sekali. Setelah dia mengetahui tentang David lebih banyak. Aisyah hanya menganggap ucapan David adalah bualan.
Aisyah segera mengambil ponsel di dalam tasnya. Gadis itu ingin menghubungi sahabatnya. Dia berharap mendapatkan saran dari sang sahabat tentang masalah yang di hadapinya. Hanya Indah satu-satunya sahabat yang selalu memberi saran terbaik untuknya.
"Assalamualaikum, Indah." Aisyah mengucap salam setelah sambungan terhubung.
"Waalaikumsalam, Aisyah. Suaramu tak seperti biasanya. Ada apa Aisyah?" tanya Indah yang khawatir dengan Aisyah.
"Indah, Kak Riski menemuiku," ujar Aisyah.
"Kenapa dia menemuimu? Untuk apa lagi?" tanya Indah tak menyangka.
"Dia ingin mengajakku pulang ke rumahnya lagi," jelas Aisyah dengan nada lesu.
"Apa!" pekik Indah. "Maksudnya mengajak kamu pulang kerumahnya, dia ingin mengajakmu rujuk?"
"Iya," jawab Aisyah singkat.
"Lalu bagaimana dengan istrinya? Apa dia ingin memadumu? Kalau memang begitu, kamu jangan mau. Enak saja kalau ngomong!" Indah tersulut emosinya. Dia sungguh tak terima.
"Bukan, dia akan menceraikan Kak Vera, setelah itu mengajakku kembali," ucap Aisyah.
__ADS_1
"Kenapa dia mau menceraikan istrinya? Apa yang kurang dari istrinya. Padahal 'kan Kak Vera sangat cantik," kata Indah heran.
"Ada masalah diantara mereka berdua sehingga mengharuskan mereka berpisah. Dan aku harus menghargainya. Aku tidak mau ikut campur urusan mereka, walaupun aku sangat menyayangkan sikap Kak Riski."
"Padahal dia dulu yang sangat menginginkan Kak Vera. Akan tetapi, sekarang dia dengan begitu saja melepaskannya. Aku tahu sakitnya Kak Vera karena aku juga pernah merasakannya," jelas Aisyah sedih.
Aisyah mengingat kembali kenangan masa lalunya. Kenangan di mana saat Riski menceraikannya. Tak terasa air mata mengalir dari mata indah Aisyah.
"Ya sudah, biarkan saja mereka. Terpenting sekarang, apa kamu menerima ajakannya untuk kembali?" tanya Indah mengalihkan pembicaraan karena dia tahu kalau Aisyah sekarang sedang bersedih.
"Entahlah," jawab Aisyah lirih.
"Kenapa hanya 'entahlah'. Apa kamu masih mencintai Kak Riski?" tanya Indah dengan sedikit meninggikan suaranya.
Indah sedikit kecewa dengan jawaban Aisyah. Dilihat dari jawaban Aisyah, Indah sudah menyadari bahwa gadis itu masih menyukai Riski.
"Itu sama saja. Kamu harus ingat bagaimana dia memperlakukanmu. Kamu tidak boleh kembali padanya. Aku tidak rela!"Indah menekankan kata-kata terakhirnya.
Aisyah kembali terbayang dengan apa yang dilakukan Riski. Memang tak sepatutnya dia merasa kasihan pada Riski. Akan tetapi, entah dari mana perasaan itu timbul, Aisyah juga tidak tahu.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Waktu itu dia bilang bagaimanapun dia akan berusaha membawa aku pulang. Coba berikan aku saran, Indah!" Aisyah merasa bingung sekarang.
Aisyah sejatinya orang penuh kasih, pasti tidak akan tega melihat Riski yang terus memohon. Hatinya pasti akan luluh pada orang yang senantiasa berkata lembut padanya. Tidak pada orang yang selalu kasar, apalagi iseng padanya. Riski sudah mengetahui itu.
__ADS_1
"Apa dia masih memaksamu?" tanya Indah.
"Tidak! Setelah hari itu, dia tidak menemuiku lagi. Mungkin dia mau menyelesaikan masalahnya di sana. Akan tetapi, yang jelas dia akan kembali ke sini," jelas Aisyah.
"Sebelum dia kembali ke sana, kamu harus mempersiapkan diri untuk merubah sikapmu. Kamu tak boleh lemah. Apalagi dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut Riski. Kamu harus selalu ingat bahwa dia pernah menyakiti hatimu." Indah begitu bersemangat memberi saran.
Aisyah merenung sejenak, memikirkan kata-kata Indah. Memang dia menyadari akan sikapnya yang mudah percaya dengan orang lain. Bahkan pada orang yang pernah menyakitinya.
"Baiklah. Aku memang harus merubah sikapku. Tidak boleh mudah percaya dengan kebaikan orang lain. Terima kasih, Indah," ucap Aisyah dengan senyum mengembang.
"Nah, begitu dong." Indah senang karena dia rasa Aisyah mampu mengatasi Riski.
"Oh, ya! Ada satu hal lagi yang ingin aku mintai saran," ucap Aisyah segera.
"Apa? Katakanlah," pinta Indah.
"Ari kemarin mengatakan cinta padaku lagi. Bagaimana menurutmu?" tanya Aisyah.
"Melihat kembali apa tujuanmu menimba ilmu di sana, kalau itu tidak menganggumu, tidak masalah kalau kamu mau menerimanya. Semuanya kembali pada dirimu." Indah mengembalikan keputusan pada Aisyah.
"Oh! Baiklah, aku akan memikirkannya kembali. Terimakasih akan sarannya, My besty." Aisyah kini bisa tersenyum lega.
Perasaan yang selama ini mengganggu Aisyah telah sepenuhnya pergi. Gadis itu bersyukur karena punya teman sebaik Indah. Hanya dengan Indahlah Aisyah mencurahkan isi hati karena dia wanita satu-satunya yang bisa mengerti Aisyah.
__ADS_1
Aisyah segera mematikan sambungan teleponnya. Gadis itu sekarang memejamkan mata. Terasa santai dirasanya, hingga tak menunggu waktu lama untuk Aisyah masuk ke alam mimpi.
Bersambung.