Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 127. Denok


__ADS_3

Ari merenungi nasibnya, kenapa dia selalu saja seperti ini? Rasanya ia ingin memutar waktu kembali. Andai saja waktu itu tak bertemu Aisyah, pria itu pasti sudah benar-benar melupakan gadis itu.


Ari menatap langit-langit kamar. Di sana tergambarkan Aisyah yang menjauh bersama David. Dia sungguh tak dapat melupakan kejadian sore itu, hingga tanpa sadar wajah Anton tepat di atas wajahnya.


Ari tersentak kaget, membuat dahinya membentur kepala Anton. Keduanya pun memegangi kepala masing-masing yang sakit. Mereka kini duduk berdampingan.


"Apaan, sih, kamu! Ngagetin aku aja!" kesal Ari.


"Kamu itu yang apaan! Dari tadi ngelamun terus. Suadahlah, jangan dipikirkan."


"Enak aja kalau ngomong. Memangnya cinta semudah itu, cinta itu rumit, Nton!"


"Halah, kamu aja yang rumit. Nyatanya, aku tidak tuh." Anton membaringkan tubuhnya.


"Kamu tak tahu cinta, sih. Yang kamu tahu hanya cewek bahenol." Ari bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana kamu?" Anton khawatir dengan sahabatnya. Dia takut jika nanti Ari nekat bunuh diri.


"Mau ke kamar mandi. Mau ikut?"


"Ngapain ikut. Mau suruh aku nyebokin kamu apa?"


"Kali saja mau. Jadi, aku tak usah repot nggunain tanganku ini." Ari menutup pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Ari meneruskan lamunannya. Entah, di mana pun dia berada, pasti bayangan itu selalu muncul. Sungguh semakin menyiksa pikiran Ari.


Ari segera keluar kamar mandi. Dia tak mau berlama-lama di dalam sana karena takut pikirannya semakin menjadi. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Anton.

__ADS_1


Ari meraba pipinya yang masih terasa nyeri. Kedua kalinya dia mendapatkan pukulan di pipi akibat Aisyah. Ari tak menyesalinya, mencintai memang butuh pengorbanan. Jika hanya luka sekecil itu, Ari masih mampu menahannya. Namun, jika Aisyah pergi, entahlah, mampu atau tidak dia.


"Ari, sudah kuberitahu sejak dulu, sulit bagimu mendapatkan Aisyah. Kini sainganmu semakin berat. Sudahlah, lupakan aja dia." Anton menatap sahabatnya dengan prihatin.


"Cintaku padanya sungguh besar, Anton. Aku tak tahu lagi jika hidup tanpa dia. Aku sangat ingin memilikinya. Anton, tolong bantu aku." Ari menatap Anton penuh harap.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk melawannya. Bisa-bisa nanti aku didepak dari kampus," tolak Anton. Dia tahu konsekuensi jika berhadapan dengan David.


"Lebih baik sekarang aku telephon Aisyah. Ngomong sama kamu, tak 'kan ada jalan keluarnya."


Ari segera keluar kamar supaya tak diganggu oleh Anton. Dia duduk di taman depan kos, menunggu panggilan terhubung. Hingga beberapa kali penggilan, semuanya tidak diangkat oleh Aisyah.


"Kemana, sih, Aisyah? Kenapa teleponku tak diangkat," gerutu Ari resah.


"Atau jangan-jangan dia sedang jalan sama pria itu. Pasti lagi senang-senang sekarang. Bodohnya aku! Tentu saja Aisyah lebih memilih pria itu daripada aku."


"Cepat sekali?" tanya Anton heran. Anton terbangun dari tidurnya karena terusik oleh kehadiran Ari.


"Sudah ah, jangan berisik! Aku mau tidur!" Ari membelakangi tubuh Anton.


Ari masih tak bisa memejamkan mata, pikirannya masih saja tentang Aisyah. Pria itu tak habis pikir tentang perubahan Aisyah. Seorang gadis lugu kini berubah menjadi matre.


...****************...


Ari bangun dengan mata masih terasa berat, pasalnya semalam dia baru bisa terlelap setelah jam lewat pukul 01.00 WIB. Kini rasa kantuk masih menggeleyoti tubuhnya. Namun, dirinya tetap harus pergi kuliah.


Di tempat parkir kampus, Ari baru mengaktifkan ponsel karena tadi pagi terburu-buru. Beberapa pemberitahuan panggilan tak terjawab segera membanjiri ponselnya. Ari hanya menarik ujung bibir, lalu memasukan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Ari, kamu tak apa?" tanya Denok yang tiba-tiba datang. Gadis itu memegang pipi Ari yang kelihatan bengkak.


"Tak apa-apa." Ari menyingkirkan tangan Denok. "Ayo, Anton."


Ari dan Anton berjalan meninggalkan tempat parkir, tak menghiraukan Denok yang mengekor di belakang.


"Ari, tunggu! Kamu terluka. Aku bisa membantumu mengobati luka itu." Denok mencoba mengimbangi langkah Ari.


Namun, langkah Ari terhenti ketika melihat Aisyah yang berjalan ke arah mereka. Pria itu pun menatap ke arah Denok yang masih tertinggal di belakang.


"Benarkah? Memang ini sedikit perih." Ari mengusap pipinya dengan wajah meringis.


"Bagian mana yang perih? Di sini, ya?" Denok ikut mengusap pipi Ari. Pria itu hanya menganggukan kepalanya.


Aisyah yang melihat kejadian itu, seketika mematung. Dia tak menyangka apa yang dilihatnya. Akan tetapi, ini bukan mimpi di pagi hari.


Aisyah hanya heran kenapa sekarang Ari begitu dekat dengan Denok. Padahal, dulu Ari akan selalu menghindari wanita itu. Ini suatu yang mustahil baginya, atau pria itu hanya ingin balas dendam pada dirinya. Dia melanjutkan langkahnya.


"Ayo, kita obati lukamu!" Denok mengalungkan tangannya di lengan Ari.


Ari mengikuti langkah Denok. Namun, matanya melirik ke arah Aisyah. Dia hanya ingin tahu ekspresi gadis itu. Aisyah tak begitu terkejut, sehingga membuat Ari kecewa.


"Ari?" tanya Aisyah kepada Anton.


"Entah. Aku tak tahu." Anton mengedikkan bahu. Dia berlalu meninggalkan Aisyah sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2