Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 142. Nomor tanpa Nama


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, David nampak tersenyum-senyum sendiri. Dirinya selalu mengingat kejadian tadi saat di restoran. Wajah Aisyah begitu nampak cantik ketika malu.


Sedangkan, Aisyah hanya menatap aspal jalanan. Dia begitu malu, sehingga menatap David pun tak sanggup. Ingin rasanya segera keluar dari mobil itu, menghilang dari pandangan pria yang selalu membuatnya salah tingkah dan kalah telak dalam setiap perdebatan.


Akhirnya sampai juga. Aku harus segera keluar, batin Aisyah. Dia berusaha membuka pintu mobil, tetapi gagal.


Kenapa tidak bisa? tanya Aisyah bermonolog.


David hanya memandangi wanita itu saja. Ujung bibirnya terangkat ketika melihat kekecewaan di wajah Aisyah. Tak ada niat untuk membukakan pintu, dia terus saja memandangi wajah Aisyah dari samping.


Merasa diperhatikan, Aisyah menghentikan usahanya. Dia bersandar kembali pada sandaran jok. Wanita itu memasang wajah marah dengan tangan dilipat di dada.


"Kenapa masih diam saja? Sampai kapan aku harus di sini?" tanya Aisyah sedikit kesal.


Pertanyaan Aisyah menyadarkan David dari lamunannya. Pria itu mendekatkan tangan pada wajah sang wanita.


"Aisyah, kamu semakin cantik saat marah."


Sebelum tangan itu menyentuh wajah Aisyah, dia segera menangkisnya dengan kasar. "Ih! Apaan, sih! Cepat buka pintu mobilnya atau kutendang pintu ini!"


"Coba saja! Seberapa kuat tendanganmu hingga bisa membuka pintu itu?" tantang David. "Aku masih ingin bersamamu dan menatap wajah cantikmu."


Merasa tidak mampu, Aisyah kembali diam. Wanita itu berfikir kembali, bagaimana cara agar bisa segera keluar.


Aisyah tersenyum tipis karena sebuah ide datang. David pun menautkan kedua alisnya melihat perubahan ekspresi wajah Aisyah.


Apa yang ingin dia lakukan, batin David.


"Kalau kamu tidak segera membuka pintu, aku akan teriak. Pasti semua orang akan keluar dan kamu akan segera digelandang oleh warga!" ancam Aisyah.

__ADS_1


David hanya menaikkan kedua alisnya, menantang Aisyah. Dia berpikir bahwa sang gadis tidak mungkin berani melakukannya.


Kamu menantangku, ya? Baiklah kalau begitu.


"Tol ...." Teriakan Aisyah teredam ketika David menutup mulut wanita itu.


"Baiklah, aku kalah."


David segera lari keluar untuk membukakan pintu mobil untuk Aisyah. Setelah pintu terbuka, sang wanita segera lari masuk ke dalam kos tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, pria itu masih saja menatap sang pujaan hati, hingga hilang di balik pagar kos.


...****************...


Aisyah menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur setelah menyegarkan diri di dalam kamar mandi. Dia masih saja membayangkan kejadian di tempat makan tadi. Betapa takutnya ketika David memdekatkan wajah ke arahnya, hingga lamunan itu buyar oleh nada dering ponsel.


"Siapa ini?" Kerutan nampak di dahinya saat melihat nomor tanpa nama di layar ponsel.


Dengan hati bertanya-tanya, dia mengangakat panggilan itu. "Assalamualaikum."


Seketika wajah Aisyah nampak masam. Dari suaranya, dia sudah tahu siapa yang menelepon. Wanita itu ingin segera menutup panggilan.


"Tunggu! Jangan tutup teleponnya, kumohon!" Suara di seberang sana kelihatan mengiba.


"Kamu mau apa?" tanya Aisyah dengan nada kesal.


"Aku kangen kamu. Aku ingin mendengar suaramu. Sudah lama aku mendengar suaramu."


Aisyah hanya tersenyum masam tanpa menimpali.


"Bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


"Kalau tidak ada yang penting, aku akan akhiri telepon ini!"


"Jangan! Kenapa kamu memblokir nomorku?"


"Kenapa masih tanya? Seharusnya kamu tahu sendiri, 'kan?"


"Aisyah, aku tahu aku salah. Untuk itu, aku ingin membayar kesalahanku."


Aisyah tak menyangka bahwa pria itu masih saja menghubunginya. Padahal, sudah berkali-kali dia menolaknya dengan kasar, bahkan pergi dengan pria lain di hadapannya. Itu pun tak menyurutkan keinginan untuk mumbawa wanita itu kembali.


"Kenapa kamu tidak menggukan uang yang aku beri?"


"Itu bukan hakku. Jadi, aku tidak mau pakai."


"Tapi, aku ikhlas kasih ke kamu. Lagipula, aku tahu kuliah di sana mahal. Bagaimana kamu membayar uang kuliahmu?"


Aisyah mengangkat sebelah bibir tanpa diketahui pria itu. Hatinya begitu sakit ketika mendengar perkataan itu. Dirinya begitu merasa direndahkan oleh pria di seberang telepon.


"Tak ada urusannya denganmu!"


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak mau kamu terlalu keras bekerja. Aku tidak mau kalu sakit." Suara pria itu nampak lirih.


"Tenang saja. Aku bisa menjaga diri dan uang itu, aku akan kembalikan padamu. Sudah malam, aku mau tidur dulu!"


"Tap ...."


Aisyah memutuskan panggilan itu sepihak. Air mata mulai mengalir dari sela pelupuk matanya. Dia mengenang kembali kejadian waktu itu, ketika pria yang mulai mendapat hatinya membawa pulang seorang wanita hamil.


"Kak Riski, kamu tidak bisa seenaknya padaku dengan ingin membawaku kembali. Hatiku sudah sakit karenamu."

__ADS_1


Air mata bebas mengalir di pipi mungil Aisyah. Gemuruh di dada membuat nafasnya sesak. Tak dapat dipungkiri, wanita itu belum dapat sepenuhnya melupakan Riski. Pria yang pertama tertanam di hati.


Bersambung.


__ADS_2